The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Binhad Nurrohmat : "Sastra Indonesia tidak Sehat"

Written by eastern writer on Friday, May 02, 2008

Binhad Nurrohmat, si penyair kuda ranjang ini selalu punya argumen yang memikat ketika dia menjelaskan mengapa puisinya selalu berkeliling seputar tema tubuh. Baginya, tubuh adalah kultur, adalah konteks yang perlu diterjemahkan ke dalam teks. Ia juga memaknai tubuh lebih dari sekadar onggokan daging yang hanya mengikuti perintah pikiran dan perasaan. Melalui tubuh ia menemukan kejujuran, kebohongan, kemanusiaan, dunia, perempuan, bahkan...Tuhan. Kepada Jurnal Nasional ia menuturkan gagasannya tentang mengapa ia menekuni tubuh, pula bagaimana tanggapannya terhadap sastra Indonesia yang dikatakannya sedang tidak sehat.

Adakah perdebatan sastra Indonesia sekarang ini?

Ada. Tapi saya kira perdebatan akhir-akhir ini walaupun terselengara, gagal menukik pada gagasan. Tetapi lebih kepada kepentingan kelompok. Lebih kepada interest...

Menyangkut komunitas sastra?

Saya kira tidak juga. Secara pribadi saya cukup intens bergaul dengan komunitas di daerah. Tetapi yang jadi masalah saya kira bukan sastranya, tapi sastrawannya. Mental sastrawan itu kadang-kadang terlalu berlebihan memandang Jakarta. Padahal, kalau mereka diuntungkan dengan pihak-pihak yang ada di Jakarta, baik dengan lembaga maupun media, ya mereka senang aja. Tapi kalau sebaliknya akan muncul semacam ketidaksukaan, antipati dan lain sebagainya. Jadi problemnya itu sebetulnya mental sastrawan kok, jadi bukan gagasannya.

Mereka itu tidak pernah membicarakan karya dengan benar. Mereka hanya mengklaim bahwa karya ini tidak bagus, karya itu jelek dan sebagainya, tapi tidak memberikan sebuah kajian. contoh karya saya (Bau Betina, Red), saya ragu, mereka memberikan penilaian aneka macam itu sudah membaca karya saya. Saya yakin mereka nggak baca. Saya tidak masalah dikaji dengan hasil apa pun, asalkan itu kajian. Tapi kalau klaim, apa pun hasilnya, baik disebut baik atau buruk, mencaci atau memuji, saya gak mau terima kalau itu klaim. Omong kosong semua itu. Kalau kajian, baik hasilnya bagus maupun buruk, saya terima.

Saya memosisikan diri sebagai penyair yang mencoba menghargai tradisi. Maksud saya, puisi Indonesia itu sudah punya jejak yang sangat panjang. Cara saya menghargai tradisi adalah dengan cara mencoba meneruskan tradisi ini dengan cara mencari kemungkinan-kemungikan.

Dalam puisi-puisi Anda, tubuh menjadi pokok pembahasan. Kenapa Anda sebegitu terobsesinya dengan tubuh?

Kenapa saya memilih subyek tubuh dalam karya-karya saya? Karena saya kira hal itu dalam puisi Indonesia belum jadi perhatian yang serius. Kenapa saya pilih itu, karena secara personal saya punya problem dengan persoalan tubuh. Secara sosial itu juga jadi masalah. Dan ternyata dalam puisi Indonesia itu juga belum menjadi perhatian. Selama ini tubuh tak menjadi satu fokus yang digeluti secara lebih luas dan mendalam. Sementara tema lain seperti lingkungan, sosial, politik itu sudah ada. Tapi tubuh, katakanlah kalau orang bilang seksualitas, itu belum. Lagi pula puisi-puisi saya itu tidak hanya mengangkat persoalan tubuh dalam pengertian seks semata, bukan hanya biologis, tapi juga sosiologis bahkan juga teologis. Saya menggarap tiga hal ini: tubuh sosial, biologis dan teologis. Jadi dalam puisi saya, Kuda Ranjang, selalu ada tiga unsur itu, kalau saja orang mau jeli membaca. Bahkan ada yang bilang puisi saya itu religius, karena ada unsur pertentangan di sana. Khususnya
ketika menyikapi tubuh itu dengan rasa dosa, semisal ada kata maksiat di sana. Nah kata maksiat itu kan merujuk kepada konsep agama, religi.


Sepertinya Anda pembaca Michel Foucault atau jangan-jangan Anda pengikut Foucault?

Saya tidak suka mencari-cari konteks pemahaman saya terhadap kenyataan dengan basis filosofis, saya lebih cenderung pada empiris, setelah itu baru saya cari literatur, saya baca Foucault dan sebagainya. Saya kemudian mencari jawaban yang sifatnya personal dan subyektif, setelah itu saya mencari referensi-referensi, tapi saya yakin Foucault memang sudah menyelidiki soal tubuh, tetapi tubuh yang konteks ruang waktunya berbeda dengan sekarang. Jadi saya yakin bahwa seandainya kita serius mendalami persoalan tubuh, kita juga akan bisa menemukan soal baru tentang itu. Dan saya berani menempuh itu dengan segala konsekuensinya. Bagi saya tubuh adalah semesta. Di dalamnya kita bisa menemukan banyak hal. Kalau kita mau membaca jejak-jejak peradaban manusia bisa juga dilihat dari bagaimana tubuh itu hadir. Dengan tubuh itu bisa kelihatan semua.

Jadi bagaimana riwayatnya sehingga Anda bisa menekuni persoalan tubuh ini?

Tentu itu ada riwayatnya, kenapa sampai menganggap tubuh itu sebagai basis kultural saya. Saya punya sejarah yang sangat individual. Berawal ketika saya merasa tak punya kebudayaan kolektif. Tidak sebagaimana Rendra yang punya latar belakang kultural Jawa. Saya orang Jawa, tapi besar di Lampung, dan saya berasal dari keluarga santri yang tidak kenal kebudayaan dalam arti kesenian dan segala macam itu. Saya cemburu karena melihat penyair itu punya latar kultural, Sutardji punya Melayu, Rendra punya Jawa, terus saya bertanya sebenarnya inti budaya saya itu apa? Ternyata keintiman pada tubuh. Bayangkan, Rendra bicara tentang sesuatu hal dengan merujuk kepada mitologi Jawa, dari mitologi wayang misalnya. Sementara saya tidak, lantas saya sadar kalau saya intim dengan tubuh saya: mandi, makan, tidur juga dibawa.

Sesederhana itukah?

Ya, setelah sadar itu, saya menjadi peka dengan tubuh saya. Saya seperti orang primitif ketika baru sadar meraba, pada masa mengenal fase biologis. Saya juga kemudian sadar kalau tubuh juga secara sosial punya masalah, ditindas norma, kaidah dan segalanya. Misalnya kita keluar harus pakai baju tapi kalau di kamar mandi tidak merasa malu, tapi kenapa di luar rumah kita merasa rikuh. Ooo.. ini berarti ada masalah. Ternyata tubuh juga punya dimensi sosiologis, karena dengan tubuh ini kita bisa memaknai manusia dan juga Tuhan. Makanya dalam puisi saya judulnya Permohonan berbunyi “Tuhan beri saya perempuan, perempuan beri saya Tuhan”. Juga tubuh yang profan ini punya peran yang sakral. Jadi makna duniawi maupun makna di luar itu melalui tubuh. Karena tubuh itu lebih dulu menyerap kenyataan ketimbang pikiran. Kita tidur pun tubuh tidak tidur, tapi pikiran saja yang tidur. Tubuh tetap merekam kenyataan. Jadi tubuh itu lebih dulu memahami kenyataan tentang dunia daripada pikiran
manusia itu sendiri.

Pencarian Anda terhadap dunia ini jadi dimulai dari tubuh juga?

Betul, ini jalan spiritual saya untuk memahami dunia, bukan saja untuk memahami diri saya. Saya memahami dunia itu melalui tubuh, sebagaimana saya menyadari realitas ketuhanan dengan iman. Tubuh itu menjadi medium saya untuk mencapai keimanan. Tanpa tubuh saya takkan pernah jadi manusia, jadi arwah saja. Artinya tubuh itu punya peranan luar biasa dalam kehidupan manusia. Tapi malangya tubuh itu seringkali digunakan oleh manusia untuk tujuan-tujuannya sendiri dengan cara menindas: tidak boleh begini, begitu...tujuannya untuk memuliakan, tapi dengan cara yang menindas. Saya pernah menulis sebuah esei soal itu di Jawa Pos, judulnya Merengkuh Makna Tubuh. Dalam tulisan itu saya memberikan fakta sejarah tentang bagaimana tubuh diperlakukan dan tujuannya apa. Bahkan Nietzche juga bilang soal tubuh dalam “Kepada Kaum Pembenci Tubuh”.

Apa yang hendak Anda buktikan dengan proyek tubuh itu?

Tentu saja saya sadar, ketika saya memutuskan untuk mengungkap tentang tubuh, ada persoalan yang melingkupinya. Sehingga dengan demikian saya mencoba memberikan satu upaya, paling tidak kepada diri saya sendiri, tentang bagaimana sih tubuh itu sejauh yang saya bisa pahami? Tentu saja hal ini bisa menimbulkan masalah karena disalahpahami. Lantas karena saya menulis, jadi karya saya itu dipublikasikan. Saya berharap bisa melakukan semacam korespondensi. Sebenarnya tubuh itu bagaimana? Saya mencoba menawarkan bahwa menurut saya itu tubuh begini. Ternyata korespondesi itu berjalan walaupun sangat keras karena karya saya disalahpahami ketika tubuh diartikan hanya dari sudut pandang seks belaka, sudut pandang yang sangat biologis. Dari situ saya punya indikator kenapa puisi saya selalu dilekatkan dengan urusan biologis, ternyata itulah cermin masyarakat kita dalam memahami tubuh.

Dari sana pula saya mendapat feedback, oohh ternyata benar dugaan saya. Tubuh adalah kultur saya. Tubuh medium saya untuk berbicara. Saya merasa yang intim dalam hidup saya itu bukan wayang, bukan serat atau babad tapi tubuh. Apa boleh buat, saya menjalani itu. Saya menyadari sesuatu yang sebetulnya sudah lambat saya sadari. Seharusnya saya sudah sadari sejak awal. Tubuh itu dahsyat. Makanya di dalam filsafat banyak yang menyoal tubuh mulai dari Nietzche sampai dengan Foucault. Bahkan Nietzche bilang dalam tubuhmu ada yang sesuatu yang lebih arif daripada akal pikiranmu. Tubuh itu tak bisa berbohong, tapi pikiran bisa. Apa yang dilakukan tubuh seandainya hanya mengikuti suara hati itu, luar biasa dunia ini. Tapi kalau tubuh diperalat oleh pikiran, itu jadi lain lagi.

Tapi kan itu kenyataan, bahwa masyarakat kita belum bisa menerima soal-soal demikian? Jadi apa yang Anda inginkan?

Saya berharap masyarakat punya pemahaman yang lebih kaya. Barangkali puisi saya itu hanya kata kunci saja untuk memahami tubuh terserah mereka mau bagaimana. Paling tidak secara pribadi saya berusaha memperkaya wacana dalam dunia sastra Indonesia. Dalam kesusasteraan, karena produk kreatif, harus ada unsur kebaruan. Dalam masyarakat itu yang berlaku adalah kesepakatan. Di dalam masyarakat yang tidak ilmiah itu jadi makin sulit karena yang berlaku dogma, kaidah dan sebagainya.

Sastra kan identik dengan bahasa yang berbunga-bunga, kaya dengan metafor dan simbol, tidak eksplisit seperti pada puisi-puisi Anda?

Saya bisa menjelaskan soal metafor itu. Kalau dibaca dan ditafsir dengan benar apa yang saya tulis itu juga mengandung simbolisasi dan metafor. Namun demikian, walaupun saya dituduh menulis puisi yang tidak simbolik dan tidak metaforik itu bukan masalah besar bagi saya.

Sebagian pengamat, semisal Maman S Mahayana mengatakan, sebaiknya karya sastra itu tidak eksplisit, dengan kata lain tidak vulgar. Bagaimana menurut Anda?

Sekarang pertanyaannya apakah betul kalau sastra itu tidak boleh bicara secara langsung, secara eksplisit? Begini, dalam puisi Taufik Ismail itu apa ada yang menggunakan metafor? Jadi saya kira pandangan sastra harus metafor, harus simbolik, itu bukan satu-satunya kebenaran. Kita baca juga puisi Chairil Anwar, puisinya kan bisa kita pahami secara letterlijk maupun secara metafor, “aku kalau sampai waktuku” misalnya. Itu bisa dipahami secara letterlijk tapi juga bisa dipahami secara metaforik. Jadi kalau ada orang yang mengatakan puisi saya tidak metaforik, ah itu bukan masalah. So what gitu loh? Kenapa dengan itu semua? Tidak masalah. Apalagi kalau kita baca karya-karya asing, banyak yang eksplisit.

Kumpulan puisi Anda Bau Betina dianugerahi karya sastra terburuk “Kakus-Litiwa” oleh Wowok Hesti Prabowo cs. Apakah Anda merasa dihakimi dalam urusan ini?

Tidak. Saya kira persoalannya bukan terletak pada sastrawan menghakimi, tetapi lebih karena kondisi kesusasteraan Indonesia yang sedang tidak sehat. Karena tidak ada lembaga kritik yang berwibawa. Padahal salah satu cara untuk mengukur sebuah karya itu bagus atau tidak harus dengan kritik sastra. Tidak dengan klaim. Jadi dari sana kita bisa menilai kalau kesusasteraan kita sedang tidak sehat. Jadi ada penghakiman, penghujatan, hanyalah sebuah efek dari sebuah kondisi yang tidak sehat. Seandainya ada lembaga kritik yang dipercaya, berwibawa, maka tidak ada penghakiman. Sekarang tidak ada kritikus demikian. Mereka itu (penyelenggara Kakus-Litiwa Award, Red) juga menghubung-hubungkan sesuatu yang tak ada kaitannya. Tiba-tiba ngomongin sastra dengan dana asing, tidak ada itu! Lantas juga ngomong soal komunitas, apa itu, tak ada hubungannya? Lalu mereka juga ngomong soal standar estetika, lha yang bikin standar itu siapa? Saya kira itu karena efek karena tidak ada lembaga
kritik yang berwibawa. Bahkan tidak ada lembaga kritik, jangankan lembaga kritik yang berwibawa, lembaga kritiknya saja tidak ada. Itulah yang membuat tidak sehat. Munculah kemudian klaim, mengatakan sebuah karya bagus atau jelek berdasarkan komentar. Masalah ini sangat rawan, rawan terhadap apresiasi dan perkembangan sastra itu sendiri. Ini baru pertama kali terjadi dalam dunia kesusasteraan kita ada penghargaan sastra terburuk yang diberikan oleh sesama sastrawan. Dulu di Jerman pada zaman NAZI ada pemberian hadiah sastra bobrok, tapi itu kan kekuasaan yang memberikan, politik, bukan sesama sastrawan.

Tapi itu sah-sah saja dalam alam demokrasi, bukan?

Saya memahami demokrasi tidak seperti itu. Ini adalah produk dari dunia kesusasteraan yang tidak sehat. Terlalu bagus kalau dikaitkan dengan demokrasi. Bahkan untuk disejajarkan dengan dagelan pun terlalu bagus. Ini lebih kepada cermin dari sebuah keadaan yang tidak sehat.
Lantas Anda memandang ini sebagai gejala apa?

Saya kira ini semacam warning tentang sastra kita yang sakit. Saya lebih memahami ke sana. Kalau sudah terjadi seperti ini yang harus dilakukan adalah menghidupkan lembaga kritik supaya terhindar dari kondisi semacam sekarang. Sekarang ini sastra kita rapuh, ada goncangan sedikit saja sudah geger. Contoh, ada jurnal Boemipoetra (dikelola oleh penyair Tangerang Wowok Hesti Prabowo, Red) saja sudah bikin orang geger, itu bukti kalau kondisi sastra kita rapuh.

Anda kini dicerca, karya Anda oleh Wowok dibilang terburuk dan mengalahkan 10 karya terburuk lainnya? Apakah Anda masih melanjutkan proyek tubuh dalam puisi-puisi Anda?

Karya sastra tugasnya dituliskan. Mau ada yang menerbitkan atau tidak itu gak jadi soal. Pasti nanti akan ada yang baca. Coba saja itu babad tanah jawi, tidak diterbitkan, tapi sekarang kan dibaca. Dulu saya punya cita-cita seandainya puisi saya tidak dimuat, tidak diterbitkan, saya bisa saja menempel puisi-puisi saya di bis kota, di tembok-tembok kota. Karena saya kira yang terpenting adalah bagaimana menuliskannya. Beberapa puisi dulu dianggap jelek, kurang baik. Semisal milik Chairil Anwar yang dulu tak dipandang sama sekali. Tapi ada HB Jassin yang punya penilaian lain terhadap karya Chairil, tokh sekarang dibaca juga. Mungkin nanti, beberapa generasi yang akan datang, puisi saya juga akan dibaca. Saya menulis bukan untuk hari ini saja, tapi pada sebuah masa kemudian, untuk generasi mendatang.

Tapi kan sebagai sastrawan yang juga produk dari sebuah kebudayaan massal, Anda juga harus memahami pada masyarakat mana Anda berada?

Oh ini imajinasi. Kalau karya seni ditaruh ukurannya pada masyarakat semua itu tidak akan bunyi. Coba saja ambil lukisan Picasso ke tengah masyarakat, pasti muncul komentar lukisan apa ini? Lukisan sampah.

Jadi Anda memisahkan kesusastraan atau kesenian itu dari masyarakat?

Saya tidak terbelenggu pada pengertian seni untuk rakyat atau seni untuk seni. Ada seni yang bisa untuk seni sekaligus juga untuk masyarakat. Saya cair aja soal begitu. Ketika seseorang mengatakan seni untuk seni, itu berarti memagari dirinya sendiri. Atau seni untuk rakyat, itu juga memagari. Lantas apa ukurannya? Dulu ada pendapat seni tinggi, misalnya lagu Bethoven, tapi sekarang semua orang bisa menikmati Bethoven. Misalnya lagi dalam pengertian Pramoedya Ananta Toer seni untuk rakyat adalah seni yang menyuarakan penderitaan masyarakat. Lho, memangnya hanya rakyat kecil saja yang bisa menderita? Raja-raja juga bisa kan menderita? Bagi saya itu relatif. Bagi saya seni bisa menjadi untuk seni sendiri atau untuk rakyat. Yang menentukan itu mutu. Lantas siapa yang mengukur mutu, ya itu kritikus.

Sebagai penutup, kembali kepada soal eksplisitas dalam karya Anda. Bagaimana dengan puisi berjudul “Berak” pada kumpulan puisi Kuda Ranjang? Apakah itu tidak metaforis?

Ooo itu, “Anusmu yang bagus// saban pagi mengangkangi kakus// yang tak bosan menunggu tahimu//”. Itu orang kalo berpikir tekstual pasti bertanya apa artinya ini? Padahal itu metafor juga, tentang kesetiaan bagaimana kakus setia kepada anus. Jadi saya memetaforkan hal-hal yang dianggap sepele bahkan dianggap najis. Orang tidak menafsir, jadi yang timbul salah paham. Kalau menafsir pasti tidak akan berpikir macam-macam. Makanya saya cuma tertawa ketika orang ribut membaca puisi saya, karena saya sudah tahu mereka tidak melakukan penafsiran. Puisi saya itu soal kesetiaan, bayangkan kakus bekerja itu tanpa pamrih, selalu menunggu setiap pagi..ha...ha...ha...ha

Pewawancara: Bonnie Triyana
Dipublikasikan di rubrik Gelanggang, Jurnal Nasional, 16 Desember 2007

Read More......

Metamorfosis Ikal dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi

Written by eastern writer on Thursday, April 24, 2008

oleh Wiwik Hidayati

Setelah membaca laskar pelangi, yang saya rasakan adalah sebuah emosi jiwa. Ya, saya merasa masuk dalam ruang penceritaan. Saya hanyut di dalamnya. Saya ingin mengetahui bagaimana nasib tokoh-tokoh itu terutama Lintang dan Mahar. Kemudian saya lanjutkan dengan pembacaan novel sang Pemimpi, yang kata Andrea lanjutan dari kisah Laskar Pelangi.

Saya sedikit kecewa karena yang saya temukan orang lain. Bukan mereka yang membuat diri saya bergejolak ingin tahu. Lalu setelah itu, saya sadar bahwa Lintang dan Mahar sudah berakhir dengan ditutupnya lembar terakhir Laskar Pelangi.Lintang menjadi seorang supir sedangkan Mahar sedikit lebih beruntung, menjadi seorang budayawan lokal. Hasrat keingintahuan saya sebenarnya tidak terpuaskan. Tapi apalah daya, informasi yang diberikan penulis hanya sekadar itu, ala kadarnya.

Karya pertama dan kedua Andrea bagi saya bukan sepenuhnya Dwilogi. Alasannya simpel saja. Ikal yang ada pada karya pertama bukanlah Ikal yang ada pada tokoh kedua. Ikal dalam karya pertama hanya seorang tokoh yang keberadaannya tidak terlalu penting. Ada tiadanya Ikal takkan mengganggu isi cerita. Mungkin alasan tersebut bisa dipatahkan dengan argumen seperti ini. “Jika tidak ada ikal, tidak akan ada sang juru cerita yang akan mengantarkan sejarah laskar pelangi dalam sebuah memoar.” Benar. Hanya saja sang juru cerita bisa diganti orang lain.

Namun masalah yang kemudian muncul adalah karena ini memoar, sebuah kisah nyata. Jadi, Ikal tetap saja Ikal yang keberadaannya tidak bisa digantikan orang lain. Mungkin diantara kesebelas orang itu yang punya inisiatif atau obsesi menulis hanyalah seorang Ikal (Andrea Hirata Seman).

Alasan lain. Ikal dalam novel pertama tidak digambarkan berkarakteristik kuat sebagai tokoh yang menjual. Sebenarnya siapa tokoh yang ingin dimemoarkan? Tentu Ikal. Kenapa orang yang seharusnya menjadi tokoh utama seolah-olah tidak tampak. Ia tidak meresap di hati pembaca. Dalam novel itu, Ikal hanya seorang bocah yang memunyai sepuluh orang teman yang aneh-aneh. Ia seorang tokoh yang kurang mendapat simpati pembaca. Bukankah tokoh utama biasanya merebut hati pembaca?

Kemudian wajar jika pembaca Laskar Pelangi lebih mempertanyakan kondisi Lintang saat ini, atau Mahar barangkali daripada Ikal. Bukan karena keberadaan Ikal yang memang sudah diketahui. Tapi karena Lintang dan Mahar digambarkan lebih hidup daripada yang lain.

Selanjutnya, dalam sang Pemimpi, tiba-tiba Ikal ada secara penuh. Hanya dia satu-satunya tokoh dalam laskar pelangi yang diADAkan kembali. “Siapa Ikal yang berani-beraninya muncul di karya Andrea yang kedua?”. Dialah tokoh utama itu. Tanpa Ikal, sang Andrea sendiri, takkan ada Laskar Pelangi, sang Pemimpi, kemudian Edensor, dan Maryamah Karpov.

Dalam karya keduanya, Andrea memunculkan karakteristik tokoh Ikal yang harus dilihat. Ikal orang yang pandai, pekerja keras, dan sedikit nakal karena keremajaannya. Ia bukan lagi orang yang ikut ke sana ke mari tidak jelas seperti yang ada dalam Laskar Pelangi. Ialah tokoh sebenarnya tokoh.

Karya kedua Andrea memang berbeda. Awalnya saya menganggap bahwa Andrea dan Laskar Pelanginya tak lebih hanya mendapat durian runtuh. Jika tidak punya Lintang, Mahar, dan sekolah mengenaskan yang bersanding dengan lingkungan elit PN Timah, ia tidak bakal seberuntung sekarang. Ia punya modal awal cerita yang menarik. Di samping itu, ia juga tiba-tiba muncul saat masyarakat mulai bosan dengan keberadaan chikleet tenleet.

Saya menyukai Laskar Pelangi karena substansi ceritanya yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sebuah kehidupan yang serasa tidak nyata. Saya tidak melihat ada kelebihan lain dalam novel tersebut kecuali ceritanya itu sendiri.

Namun setelah membaca sang pemimpi, saya mulai berpikir ulang. Saya sadar ada kepiawaian di sana. Jika tidak ditulis oleh jari yang lentur, pikiran seorang yang imajinatif; cerita Ikal, Arai dan Jimbron, hanya akan berakhir pada keranjang sampah. Namun, Andrea membuktikan itu. Cerita yang biasa bakal jadi luar biasa bila diramu dengan baik. Mungkin begitu juga dalam laskar pelangi.

Andrea dan budayanya

Ada pujian yang berlebihan pada Andrea. Ia bukan dari lingkungan sastra namun dapat membuat novel best seller. Tak hanya karya pertamanya, namun juga karya yang kedua.

Berbicara mengenai best seller, banyak novelis muda Indonesia yang bukan dari lingkungan sastra tapi karyanya terjual laris manis. Sebaliknya, tidak mudah menemukan karya yang dibuat oleh kalangan sastra yang dapat diterima masyarakat luas.

Best seller tidaknya karya tidak hanya ditentukan hanya dari novelnya itu sendiri. Banyak kalangan yang berjasa. Di sini bisnis pun bermain. Dengan sedikit taktik karya bisa menjadi fenomenal. Misalnya saja dengan promosi besar-besar di media, launching dengan mengundang artis, atau bisa juga mencari komentator untuk ombustment.

Sedangkan dalam novel Andrea, saya lihat murni dari karya. Kelihaian bercerita menjadi kunci kesuksesannya. Kelihaian itu tak serta merta turun dari langit. Lingkungan dan budayanya sangat berpengaruh.

Ia orang Belitong, berdarah Melayu. Coba tengok ke belakang. Masyarakat tentu tidak awam dengan sastrawan Melayu seperti HAMKA, Marah Roesli, Muchtar Loebis, Iwan Simatupang dll. Jadi wajar jika Andrea pun seperti itu. Orang melayu terkenal pintar bercerita.

“Pendidikan di Sumatra itu sangat berbeda dengan di Jawa. Guru di sana seperti seorang teman. Dia hanya bertugas memfasilitasi. Orang Sumatra yang sukses itu bisa sangat sukses Karena cara mendidiknya tadi. Contohnya saja Andrea,” kata Aulia Muhammad dalam diskusi “Membaca Geliat penyair muda” di Fakultas Sastra Undip. Ia seorang pemred suaramerdeka.com yang juga bergelut dalam dunia sastra. Sebagai seorang yang lahir di Sumatra, tentu ia tahu bagaimana sistem pendidikan di sana.

Dalam Laskar pelangi maupun sang Pemimpi sebenarnya juga bisa terlihat jelas bagaimana pendidikan di sana. Tak jauh beda dengan yang dikatakan Aulia. Dalam novel Sang Pemimpi, Andrea menjelaskan bagaimana cintanya ia dengan sastra. Itu tak lain karena gurunya. Sang guru mengajarkan sastra sekaligus menghipnotisnya untuk mencintai bidang itu. Ia membuat pelajaran itu penuh dengan kepesonaan. Tak hanya teori yang diajarkan tapi ia membebaskan sang murid pada imajinasi-imajinasinya sendiri. Jadi, benarkah Andrea Hirata Seman benar-benar awam dalam dunia sastra?

*Wiwik Hidayati, a college student in faculty of letters, Diponegoro University, now she on a last semester, majoring Indonesian Literature. Visit her blog at http://heedawiwix.blogspot.com

Read More......

Perlukah Faktualitas dalam Cerpen?

Written by eastern writer on Monday, April 21, 2008

Cerita pendek atau yang biasa disebut “cerpen” sebagai salah satu genre sastra memiliki keunikan tersendiri. Ia bisa menceritakan pengalaman penulis dan bisa juga hanya merupakan imajinasi entah-berantah yang sengaja direka oleh pengarang. Seperti karya sastra pada umumnya, batasan fakta dan fiksi dalam cerpen tidak jelas. Bahkan jika mengacu pada wacana postmodern, seperti kajian teks ala Roland Barthes (Baca: Merayakan Kematian Pengarang, Mission Impossible: Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra) fakta dalam karya sastra, tidaklah penting.

Tapi bagaimana jika cerpen itu menyajikan sesuatu yang faktual. Ia disusun dari fakta, peristiwa yang benar-benar disaksikan ataupun dialami langsung oleh pengarang. Seperti yang dikisahkan oleh Rosidi dalam bedah cerpen “Opera Zaman” di Komunitas Sendang Mulyo Semarang, Rabu (29/11) malam.

Eros, panggilan Rosidi, membeberkan latar belakang penciptaan cerpennya yang berjudul “Ngadikan”. Cerita dalam cerpen itu diakuinya benar-benar dialami penulis. Tokoh-tokoh dalam cerpen adalah tokoh yang sebenarnya. Tidak ada yang disamarkan. Dan tokoh saya dalam cerpen itu, juga mengacu pada saya pengarang.

“Saya sangat terkesan oleh Ngadikan yang memiliki semangat hidup yang luar biasa,” ucapnya bersemangat. Ngadikan adalah nama teman seprofesi Eros sebagai pembuat bata di tempat tinggalnya, di sebuah desa di Kudus.

Lalu apa perlunya pengarang menceritakan perihal latar belakang penciptaan karyanya, bahkan mengklaim bahwa cerita yang ditulis adalah benar-benar yang dialami?

“Inilah yang menjadi penyakit cerpenis kita. Pengarang kita itu malas. Termasuk si Rosidi ini. Wong pencetak boto ya di ceritak-ceritake,” kritik Eko Prasetyo Utomo. Prasetyo adalah cerpenis asal Semarang yang beberapa karyanya telah diterbitkan di beberapa media lokal dan nasional. Beberapa kumpulan cerpennya juga sudah dibukukan.

Menurut Prasetyo apa yang dilakukan oleh Rosidi tidak menarik, karena ia menceritakan sesuatu dengan apa adanya. “Cerpen yang baik itu, ketika membacanya akan membekas. Kita selalu teringat. Sayang di sini cerita disajikan secara linier” ungkap Prasetyo, setengah kecewa.

Selain itu Prasetyo juga menilai judul Opera Zaman yang dipakai dalam kumpulan cerpen (kumcer) itu kurang menarik. Menurutnya lebih menarik jika Opera Wadas dijadikan sebagai judul kumcer. Opera Wadas adalah salah satu judul cerpen dalam kumcer.

Saya yang waktu itu mengikuti diskusi, mengajukan ke salah seorang penulis dalam kumpulan cerpen Opera Zaman yang kebetulan hadir. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Prasetyo bahwa sebagian besar cerpen dalam kumpulan cerpen itu disampaikan secara konvensional. Terlebih mendengar pengakuan dari Eros yang mengatakan bahwa apa yang ditulisnya adalah fakta.

“Jika Roland Barthes mengatakan pengarang telah mati, maka anda di sini telah menghidupkannya. Dengan adanya pengakuan anda itu, telah mereduksi pemaknaan pembaca. Karya sastra yang harusnya memiliki makna yang universal telah terbelenggu oleh ruang dan waktu. Di luar pernyataan anda itu, cerpen anda tidak memiliki makna apa-apa” kritik saya.

Bagi saya tidak selayaknya penulis merecoki pemaknaan pembaca. Ketika ia selesai menulis, teks itu sudah sepenuhnya menjadi milik pembaca. Biarkan pembaca yang akan memaknai teks itu.

Meski sepakat dengan beberapa pandangan Prasetyo, namun saya menyampaikan bahwa dirinya terkesan memaksakan menilai karya-karya dalam kumpulan cerpen yang terlalu faktual menjadi tidak menarik. “Saya seorang guru, tapi saya tak menceritakan itu dalam cerpen saya” ucapnya.

Saya sepakat jika Prasetyo mengatakan itu untuk mendorong penulis lebih mengeksplorasi idenya tidak sebatas berhenti pada hal-hal yang faktual. Namun jika kemudian memberikan anjuran agar pengarang menulis di luar kesehariannya, ini jelas tidak tepat. Bukankah akan lebih baik jika kita menulis sesuatu yang paling dekat dengan kita, sesuatu yang kita alami. Bagaimana jika kita menulis tentang sesuatu yang kita sendiri tidak mengetahuinya?

Saya curiga Prasetyo menggunakan pendekatan yang berbeda dengan gaya yang dipakai oleh sebagian pengarang dalam kumcer itu yang sebagian besar menggunakan style realis. Sementara-mungkin- Praetyo kurang suka dengan gaya itu -bisa jadi ia menyukai karya surealis.

“Oke kalau anda mengatakan jika cerpen yang faktual itu tidak menarik, mengapa anda menanyakan kebenaran dari fakta yang disampaikan cerpen itu. Terus, kalau kemudian anda mengatakan penulis kurang mengeksplorasi, lantas eksplorasi semacam apa. Jika kemudian eksplorasi yang anda maksud itu kemudian mematikan gaya pengarang, yang realis itu kemudian beralih ke surealis, jelas ini sangat memaksakan”

“Saya tak bermaksud mematikan kreativitas penulis. Justru dengan ejekan ini saya harapkan penulis mau terus berproses,” jawab Praestyo.

Eksplorasi yang dimaksudkan oleh Prasetyo adalah perlunya penulis menggali sesuatu yang ingin disampaikan dari sudut pandang yang paling menarik. “Misalnya Eros mengeksplorasi lumpur itu. Ada apa dengan lumpur itu.. Ini bisa dieksplorasi lebih menarik, ketimbang menceritakan kisah tukang bata itu. Pram-Pramoedya Ananta Toer- juga penulis realis. Tapi eksplorasinya menarik,” terangnya.

Diskusi bedah buku kumpulan cerpen “Opera Zaman” itu diadakan oleh Komunitas Sendang Mulyo bekerja sama dengan Komunitas Merapi. Sebagai panitia pelaksana LPM Manunggal dan komunitas sastra Histeria. Hadir dalam diskusi itu Rosidi selaku salah seorang penulis, Eko Prasetyo Utomo selaku pembedah, Elissiti dan Gendhot Wukir yang mewakili editorial dan komunitas Merapi selaku penggagas kegiatan ini.

Cerita dalam kumcer Opera Zaman itu merupakan karya para anggota komunitas milis Merapi. Sebelumnya ada sekitar 200-an naskah, kemudian dipilih 10 terbaik. Cerpen ini menyajikan tema tentang petualangan. Buku ini dijual seharga Rp 20.000. Sedianya hasil penjualannya akan disumbangkan untuk pengembangan pendidikan anak.

This artcile was written by Muhamad Sulhanudin. Visit the writer's homepage at http://hanyaudin.blogspot.com

Read More......

The Death of Author: Merayakan Kematian Pengarang

Written by eastern writer on Wednesday, April 16, 2008

Ketika teks terlahir, maka pengarang telah tiada. Dia digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan teksnya.

Ketika membaca sebuah cerita, novel atau cerpen, muncul pertanyaan siapa sebenarnya yang tengah berbicara? Apakah sang hero, sang tokoh sebagai individual, ataukah sebenarnya suara pengarang sendiri yang disusupkan melalui suara tokoh-tokohnya maupun melalui sang narrator?

Sang tokoh sebagai individu yang tengah memperjuangkan ideologi, misalnya, marxis, atau mungkin sang pengarang yang membela ideologi kaum feminis?

Dikatakan oleh Roland Barthes dalam esainya The Death of The Author bahwa ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya dia (pengarang) telah mati. Dia terpisah dari teksnya. Teks tersebut sekarang sudah bukan miliknya lagi.

Pengarang adalah figur modern yang merupakan produk dari masyarakat sejak jaman pertengahan Empirisme Inggris, Rasionalisme Prancis, maupun yang lainnya. Dari sana Sastra kemudian menganut prinsip positivism.



Berdasar prinsip positivsm tersebut, hanya berlaku kebenaran tunggal, seperti yang berlaku pada kebenaran dogmatis agama. Dalam hal ini kebenaran versi pengarang memiliki kedudukan yang setara dengan kebenaran tuhan seperti dalam agama. Pengarang sebagai penyampai pesan tuhan (The massanger from God).

Akibatnya, pengarang mendapat porsi yang berlebihan. Apa yang disampaikannya adalah kebenaran. Kebenaran yang tak dapat dibantah lagi. Pun demikian teks yang dihasilkan, tak dapat dibantah oleh pembaca siapapun.

Secara kebahasaan, pengarang tak lebih hanya sebuah tulisan siap saji (instance writing). Seperti kata “I” tak lebih dari tulisan I, bukan pengarang yang sebenarnya. Bahasa mengetahui subyek bukan orang. Ia kosong, tak berarti apa-apa, di luar ucapan yang ditentukan. Pembacalah yang kemudian akan mengisi kekosongan ini, memaknai I menurut pemahamannya masing-masing, menurut kepentingannya masing-masing pula.

Penghapusan sang pengarang dimaksudkan untuk membebaskan teks dari pengarang. Ada jarak antara pengarang dengan teks. Ketika teks itu terlahir, maka teks tersebut sudah terpisah dari pengarangnya. Ada sifat temporal.

Dalam grafik berikut ini menjelaskan tentang konsep tersebut:



Buku dan pengarang berada dalam garis lurus terbagi antara sebelum (before) dan (sesudah). Pengarang saat ini mungkin akan berbeda dengan pengarang yang dulu, ketika menulis buku. Apa yang diyakininya sekarang bisa jadi tidak sama persis dengan yang dimilikinya dulu, bahkan sudah berubah.

Dari grafik di atas juga bisa dijelaskan bahwa garis yang memisahkan antara before dan after benar-benar memisahkan antara author dan book. Keduanya memiliki dunianya masing-masing. Maka setelah melewati batas itu, book yang dihasilkan oleh sang author sudah menjadi produk lain, yang bukan miliknya lagi.

Teks bukan merupakan sederatan kata yang mempunyai arti teologis (pesan pengarang dari tuhan) tapi dilihat secara multidimensional sebagai sebuah variasi bentuk penulisan. Teks tersebut tak pernah asli. Begitu juga teks yang ditulis oleh pengarang. Ia hanya tiruan dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh pengarang. Pengarang hanya menerjemahkan dari apa yang dibacanya, bukan menyalin arti yang sebenarnya.

Dengan kata lain, hidup tak lebih dari meniru buku. Dan buku itu sendiri hanya merupakan sebuah tisu tanda, dan tiruan yang hilang, yang tertangguhkan maknanya.
Pembaca adalah pembaca yang tengah membaca teks secara utuh, tanpa ada yang dihilangkan. Kesatuan teks berada pada keasliannya bukan pada tujuan dibalik teks itu sendiri. Pembaca bukan dirinya yang sebenarnya. Dia adalah orang yang tengah membaca teks yang entah siapa pengarannya. Seperti yang dinyatakan dalam kutipan di bawah ini.

"...The reader is the space on which all the quotations that make up a writing are inscribed without any of them lost; a text’s unity lies on its origin but its destination.



Ketika pengarang dihapuskan, teks menjadi bebas. Menyerahkan teks pada pengarang hanya akan membatasi kebebasan teks. Karena teks bersifat tidak terikat. Ia hanya sederetan abjad yang kosong tak berarti apa-apa. Pembacalah yang kelak akan mengisinya, memenuhi gelas yang masih kosong itu, dengan pengalaman dan kepentingannya masing-masing.

Ibarat sebuah buku, buanglah sampulnya. Hapus nama pengarangnya. Cukup ambil isinya, tak usah lagi dipikirkan siapa pengarangnya.

Pandangan ketika author ditemukan maka teks akan berbicara mengahadapi dilema karena author sendiri sebenarnya juga bagian dari masyarakat, dari obyek yang dikritik. Pengarang sendiri tidak bebas nilai. Dia bias. Dia tak pernah bisa obyektif. Lalu bagaimana teksnya akan ditempatkan sebagai sebuah kebenaran tunggal?

Itulah sebabnya mengapa sastra (akan lebih baik bila sekarang menyebutnya tulisan) menolak untuk memberikan rahasia, makna yang diagung-agungkan, membebaskan dari apa yang disebut aktivitas antiteologi, gerakan revolusioner yang menolak kebenaran mutlak, yang pada akhirnya menolak kebenaran Tuhan dan hipotesisnya.

Peristiwa kematian pengarang ini pada sisi lain akan dibarengi dengan kelahiran pembaca. Pembaca adalah orang yang berhak menerjemahkan teks. Teks bersifat tidak terikat. Maka akan sangat mungkin terjadi multitafsir antara satu pembaca dengan pembaca lainnya. Ini tak masalah.

Pembaca dengan segala pengalaman membacanya, sebenarnya diam-diam telah menyususun strategi unuk mencari kebenaran sesuai yang dikehendakinya. Lalu kenapa kita masih sering manafikan kehadiran pembaca itu? Maka biarlah teks yang berbicara. Biarlah pembaca sendiri yang memaknainya, memenuhi gelas yang masih kosong itu.


*This article written by Muhamad Sulhanudin, originally published at the writer's blog hanyaudin.blogspot.com

Read More......

Polemik Ayat-ayat Cinta: Indonesian Best Seller Novel

Written by eastern writer on Sunday, March 30, 2008

Sukses film "Ayat-ayat Cinta" (AAC) yang sebelumnya diangkat dari novel islami karya Habiburahman El Shirazy membuat nama penulis asal Semarang tersebut semakin di kenal luas. Sebelum heboh film AAC, novel Kang Abik tersebut memang sudah menjadi best seller dan konon sudah tercetak lebih dari 400 ribu kopi. Dari kabar terakhir, penonton film AAC sudah menembus angkat 3 juta lebih sejak diputar perdananya pada 28 Februari 2008.

Banyak pujian dialamatkan kepada penulis novel alumnus Al Azhar, Kairo, Mesir itu. Pun juga kepada Hanung Bramantyo, sang sutradara yang menggarap novel AAC ke layar lebar. Pujian itu diberikan karena film ini dinilai telah memberikan pengaruh yang positif, menyampaikan ajaran-ajaran moral yang tinggi.

Namun demikian, kesuksesan buku ini, bagi pihak lain menunjukkan betapa rendahnya selera masyarakat pembaca Indonesia akan sebuah karya yang bagus. Kritik atas AAC tidak jauh dari nuansa dakwah yang disampaikan penulisnya yang dinilai seperti teks khotbah, dan juga tokoh Fahri sebagai pemeran utama yang sangat lurus dan sempurna.

Berikut ini, saya mengumpulkan beberapa link penting untuk dokumentasi seputar fenomena Ayat-ayat Cinta baik dalam versi buku atau terakhir, versi film:

Read More......

Buku Laris dan Fenomena Ayat-ayat Cinta

Written by eastern writer on Sunday, March 30, 2008

by Prie GS, published at Republika, Dec 17 2006.

Ayat Ayat Cinta, sebuah novel pembangun jiwa, sekarang telah menjadi fenomena. Benarkah?Saya tertarik untuk mengujinya. Tidak perlu dengan penelitian ilmiah. Tapi dengan hukum dagang bakulan yang sederhana saja.Awal Maret lalu. Dalam sebuah kesempatan diskusi di Semarang, manajer Penerbit Republika bercerita pada saya. Katanya, sejak kemunculannya di bulan Desember 2004, novel Ayat Ayat Cinta telah terjual 80 ribu eksemplar. Dan angka itu, lanjutnya, masih mungkin terus merangkak naik. Saya takjub mendengarnya. Sebab, selama 15 bulan beredar (terhitung sejak Desember 2004 hingga Februari 2006 - ed), novel itu berarti telah terjual kira-kira 5300-an eksemplar tiap bulannya. Angka yang fantastik untuk penjualan buku di Indonesia. Apalagi jenis sastra. Dan tebal pula. Itu berita kemarin. Berbulan lalu.
Berita terkini lebih menakjubkan lagi. Sebab, ketika tulisan ini saya buat, saya baru saja mendapat berita dari kolega Jakarta saya yang lain. Katanya, per bulan Juni, penjualan Ayat Ayat Cinta telah menembus angka 120 ribu. Dan per bulan Agustus telah merangkak hingga angka 150 ribu. Itu artinya, selama 21 bulan mengorbit (sejak Desember 2004 hingga Agustus 2006 - ed), novel itu terjual rata-rata sebanyak 7142-an eksemplar per bulannya. Betul-betul angka yang susah disebut biasa untuk dunia perbukuan Indonesia. Apapun jenis bukunya.

Angka penjualan yang fantastis itu, sempat menggoda saya untuk mengalkulasi berapa nilai nominal rupiah yang kira-kira diperoleh penulisnya. Dengan perhitungan lazim royalti seorang penulis di Indonesia, yakni 10 persen dari harga bandrol, maka angka yang dihasilkan Ayat Ayat Cinta pun semakin menggoda saya. Mari kita hitung bersama-sama!
Jika harga novel setebal 410-an halaman itu sebesar Rp 43.500, maka penulisnya memperoleh royalti Rp 4.350 per bukunya. Dan, jika bukunya itu telah terjual sebanyak 150 ribu eksemplar, maka tinggal kalikan saja. Hasilnya Rp 652.500.000 (enam ratus limapuluh dua juta limaratus ribu rupiah). Angka yang fantastis: setengah miliar rupiah lebih! Maka siapa pun Anda yang berniat menjadi penulis profesional, bidang sastra ataupun bukan, berbahagialah. Ternyata penulis itu bisa kaya.

Dengan penjelasan sederhana seperti itu, tidak aneh jika novel itu disebut fenomenal, hingga majalah nasional sekualitas Tempo pun, 'terpaksa' harus mengeksposnya. Sengaja saya sebut terpaksa dengan tanda kutip, karena saya tahu betul, majalah 'jurnalisme sastrawi' seangker Tempo takkan serampangan menampilkan ulasan buku sastra berikut penulisnya, jika ia tidak istimewa. Apalagi sampai memampang foto penulisnya segala. Dan, lebih tidak aneh lagi, jika novel itu pada akhirnya dilirik oleh rumah produksi, yang memang berwatak haus industri dan kapital materi.

Ayat Ayat Cinta telah fenomenal. Tempo pun telah mengakuinya. Siapakah penulis yang disebut Tempo dengan Pengarang Semarang itu? Pengarang Semarang itu ternyata bukanlah siapa-siapa. Publik Semarang pun bahkan sama sekali tidak mengenalnya. Tak kecuali saya. Itu dulu ketika novel itu belum mengemuka. Jika akhirnya saya mengenalnya, itu pun karena dikenalkan adiknya, Anif Sirsaeba. Ketika saya mementori ilmu jurnalistik untuk para aktivis mahasiswa se-Jawa Tengah, Anif Sirsaeba ini adalah murid terbaik saya.

Si Anif ini mengenalkan kakaknya ke rumah saya dengan membawa novel Ayat Ayat Cinta. Saat itu masih cetakan pertama, belum booming. Kepada saya, dia meminta pendapat mengenai novel kakaknya itu, kuratorial. Katanya, untuk perbaikan-perbaikan karya dan edisi berikutnya. ''Seminggu lagi saya telpon ke Panjenengan, Mas,'' daulat si Anif pada saya mengakhiri pembicaraan. Saya tak tega menolaknya. Benar. Seminggu kemudian dia menelpon saya.

"Gimana, Mas, komentarnya?" katanya."Kangmasmu itu HAMKA kecil, Nif. Sebentar lagi pasti booming novelnya. Tinggal nunggu waktu saja. Kapan-kapan kita ngobrol banyak," jawab saya. Setelah itu, si Anif dan kakaknya makin sering dolan ke rumah saya. Kami intens bertemu. Dari intensitas pertemuan kami itulah, akhirnya saya lebih mengenal siapa sebenarnya pengarang Semarang yang menarik perhatian Tempo. Orangnya tak banyak bicara, santun, penuh dedikasi, dan dalam ilmu agamanya. Ia tak jauh beda dengan karakter Fahri bin Abdullah Shiddiq yang ia tulis dalam novelnya. Begitulah cerita perkenalan saya dengan penulis Ayat Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy.

Membicarakan buku-buku laris di Indonesia, bertahun lalu sebelum Ayat Ayat Cinta menggelinding ke publik, saya punya beberapa refleksi pribadional yang menarik untuk saya kaitkan dengan fenomena Ayat Ayat Cinta.Saya pernah membaca Saman. Bertahun lalu.Saman, novel karya Ayu Utami adalah novel laris yang terlambat saya beli. Untung, seorang pengarang terkenal Indonesia mengirimkannya pada saya setelah ia mendapat kiriman buku itu dari koleganya. ''Saya tidak kuat membacanya,'' katanya.
Anehnya, hal serupa juga terjadi dengan Supernova, novel 'eksperimental' karya Dewi 'Dee' Lestari. Yang ini dikirim oleh mahasiswa yang mengaku membeli buku ini karena mode, takut dianggap ketinggalan jaman. ''Tapi saya bingung, tidak paham apa maunya,'' katanya.

Pengalaman ketiga masih datang dari mahasiswa, seorang yang ketika saya memberi pelatihan jurnalistik di kampusnya bertahun lalu, dia menjadi salah satu peserta. Anak muda inilah yang belum lama berselang mengantarkan buku ke rumah, dua buah buku jenis self motivation yang dia tulis sendiri. Buku itu telah menjadi dua seri karena laris. Seri pertama, telah mengalami beberapa kali cetak ulang dan laku mendekati angka 30 ribu. Ayu Utami, dalam kesempatan berdiskusi bersama mengatakan, bahwa saat itu Saman telah terjual lebih dari 50 ribu.

Dari tiga fakta itu saja ada pola yang bisa diidentifikasi. Pertama, adalah penulis terkenal yang baru sekali menulis novel langsung laris. Kedua, ada penyanyi terkenal, tapi bukan penulis, sekali menulis buku juga laris. Ketiga, bukan nama terkenal, bukan pula penulis, sekali menulis buku juga laris. Artinya, saat ini, siapapun Anda, penulis atau bukan, boleh dan bisa menghasilkan buku laris.

Soal yang lain adalah kasus buku Jakarta Under Cover tulisan Moammar Emka, seorang wartawan hiburan. Buku yang pernah jadi perbincangan ramai ini semula adalah buku yang sempat ditolak penerbit besar. Dan ia menjadi laris justru di tangan penerbit kecil saja, Galang Press. Maka, siapapun Anda, penerbit kecil atau besar, penerbit lama atau baru, berkesempatan mencetak buku best seller.

Pola yang lain ialah, betapa siklus kemunculan buku-buku laris itu kini relatif pendek saja. Seperti Hollywood yang selalu melahirkan film-film box office dengan jarak waktu yang relatif cepat. Ini artinya, pasar buku Indonesia telah bergerak menjadi industri yang jelas arahnya. Meskipun pasar ini belum sepenuhnya stabil. Adanya kasus pembeli buku laris yang tidak membaca buku yang dibelinya itu adalah indikasi, bahwa pasar Indonesia masih ditandai watak snobbish, ada jenis pembeli buku yang lebih untuk sebuah gaya hidup.

Hal semacam ini harus diterima dengan rendah hati. Karena, memang begitulah watak pasar transisi. Tapi dari gaya hidup itulah pasar buku akan menjadi kebutuhan hidup. Era membaca menjadi kebutuhan, memang, sesuatu yang sedang kita usahakan, dan baru sekarang usaha itu menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Refleksi pribadional saya di atas, tentu berkelindan dengan kasus fenomena Ayat Ayat Cinta. Ia setidaknya melahirkan pertanyaan, apakah fenomena itu merupakan bagian dari snobisme pasar buku Indonesia? Jawabnya: untuk sekarang, pasti. Ia memenuhi watak snobbish pasar transisi Indonesia yang menempatkannya sebagai gaya hidup. Namun, untuk ke depan, belum tentu. Jika dilihat dari isi dan reaksi pembacanya, saya optimis bahwa Ayat Ayat Cinta akan menjadi 'legenda sastra santri' tersendiri. Tak jauh berbeda dengan karya HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Bahkan bisa lebih. Kita lihat saja nanti.

Sumber: Republika


Read More......

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google