The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Buku Laris dan Fenomena Ayat-ayat Cinta

Written by eastern writer on Sunday, March 30, 2008

by Prie GS, published at Republika, Dec 17 2006.

Ayat Ayat Cinta, sebuah novel pembangun jiwa, sekarang telah menjadi fenomena. Benarkah?Saya tertarik untuk mengujinya. Tidak perlu dengan penelitian ilmiah. Tapi dengan hukum dagang bakulan yang sederhana saja.Awal Maret lalu. Dalam sebuah kesempatan diskusi di Semarang, manajer Penerbit Republika bercerita pada saya. Katanya, sejak kemunculannya di bulan Desember 2004, novel Ayat Ayat Cinta telah terjual 80 ribu eksemplar. Dan angka itu, lanjutnya, masih mungkin terus merangkak naik. Saya takjub mendengarnya. Sebab, selama 15 bulan beredar (terhitung sejak Desember 2004 hingga Februari 2006 - ed), novel itu berarti telah terjual kira-kira 5300-an eksemplar tiap bulannya. Angka yang fantastik untuk penjualan buku di Indonesia. Apalagi jenis sastra. Dan tebal pula. Itu berita kemarin. Berbulan lalu.
Berita terkini lebih menakjubkan lagi. Sebab, ketika tulisan ini saya buat, saya baru saja mendapat berita dari kolega Jakarta saya yang lain. Katanya, per bulan Juni, penjualan Ayat Ayat Cinta telah menembus angka 120 ribu. Dan per bulan Agustus telah merangkak hingga angka 150 ribu. Itu artinya, selama 21 bulan mengorbit (sejak Desember 2004 hingga Agustus 2006 - ed), novel itu terjual rata-rata sebanyak 7142-an eksemplar per bulannya. Betul-betul angka yang susah disebut biasa untuk dunia perbukuan Indonesia. Apapun jenis bukunya.

Angka penjualan yang fantastis itu, sempat menggoda saya untuk mengalkulasi berapa nilai nominal rupiah yang kira-kira diperoleh penulisnya. Dengan perhitungan lazim royalti seorang penulis di Indonesia, yakni 10 persen dari harga bandrol, maka angka yang dihasilkan Ayat Ayat Cinta pun semakin menggoda saya. Mari kita hitung bersama-sama!
Jika harga novel setebal 410-an halaman itu sebesar Rp 43.500, maka penulisnya memperoleh royalti Rp 4.350 per bukunya. Dan, jika bukunya itu telah terjual sebanyak 150 ribu eksemplar, maka tinggal kalikan saja. Hasilnya Rp 652.500.000 (enam ratus limapuluh dua juta limaratus ribu rupiah). Angka yang fantastis: setengah miliar rupiah lebih! Maka siapa pun Anda yang berniat menjadi penulis profesional, bidang sastra ataupun bukan, berbahagialah. Ternyata penulis itu bisa kaya.

Dengan penjelasan sederhana seperti itu, tidak aneh jika novel itu disebut fenomenal, hingga majalah nasional sekualitas Tempo pun, 'terpaksa' harus mengeksposnya. Sengaja saya sebut terpaksa dengan tanda kutip, karena saya tahu betul, majalah 'jurnalisme sastrawi' seangker Tempo takkan serampangan menampilkan ulasan buku sastra berikut penulisnya, jika ia tidak istimewa. Apalagi sampai memampang foto penulisnya segala. Dan, lebih tidak aneh lagi, jika novel itu pada akhirnya dilirik oleh rumah produksi, yang memang berwatak haus industri dan kapital materi.

Ayat Ayat Cinta telah fenomenal. Tempo pun telah mengakuinya. Siapakah penulis yang disebut Tempo dengan Pengarang Semarang itu? Pengarang Semarang itu ternyata bukanlah siapa-siapa. Publik Semarang pun bahkan sama sekali tidak mengenalnya. Tak kecuali saya. Itu dulu ketika novel itu belum mengemuka. Jika akhirnya saya mengenalnya, itu pun karena dikenalkan adiknya, Anif Sirsaeba. Ketika saya mementori ilmu jurnalistik untuk para aktivis mahasiswa se-Jawa Tengah, Anif Sirsaeba ini adalah murid terbaik saya.

Si Anif ini mengenalkan kakaknya ke rumah saya dengan membawa novel Ayat Ayat Cinta. Saat itu masih cetakan pertama, belum booming. Kepada saya, dia meminta pendapat mengenai novel kakaknya itu, kuratorial. Katanya, untuk perbaikan-perbaikan karya dan edisi berikutnya. ''Seminggu lagi saya telpon ke Panjenengan, Mas,'' daulat si Anif pada saya mengakhiri pembicaraan. Saya tak tega menolaknya. Benar. Seminggu kemudian dia menelpon saya.

"Gimana, Mas, komentarnya?" katanya."Kangmasmu itu HAMKA kecil, Nif. Sebentar lagi pasti booming novelnya. Tinggal nunggu waktu saja. Kapan-kapan kita ngobrol banyak," jawab saya. Setelah itu, si Anif dan kakaknya makin sering dolan ke rumah saya. Kami intens bertemu. Dari intensitas pertemuan kami itulah, akhirnya saya lebih mengenal siapa sebenarnya pengarang Semarang yang menarik perhatian Tempo. Orangnya tak banyak bicara, santun, penuh dedikasi, dan dalam ilmu agamanya. Ia tak jauh beda dengan karakter Fahri bin Abdullah Shiddiq yang ia tulis dalam novelnya. Begitulah cerita perkenalan saya dengan penulis Ayat Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy.

Membicarakan buku-buku laris di Indonesia, bertahun lalu sebelum Ayat Ayat Cinta menggelinding ke publik, saya punya beberapa refleksi pribadional yang menarik untuk saya kaitkan dengan fenomena Ayat Ayat Cinta.Saya pernah membaca Saman. Bertahun lalu.Saman, novel karya Ayu Utami adalah novel laris yang terlambat saya beli. Untung, seorang pengarang terkenal Indonesia mengirimkannya pada saya setelah ia mendapat kiriman buku itu dari koleganya. ''Saya tidak kuat membacanya,'' katanya.
Anehnya, hal serupa juga terjadi dengan Supernova, novel 'eksperimental' karya Dewi 'Dee' Lestari. Yang ini dikirim oleh mahasiswa yang mengaku membeli buku ini karena mode, takut dianggap ketinggalan jaman. ''Tapi saya bingung, tidak paham apa maunya,'' katanya.

Pengalaman ketiga masih datang dari mahasiswa, seorang yang ketika saya memberi pelatihan jurnalistik di kampusnya bertahun lalu, dia menjadi salah satu peserta. Anak muda inilah yang belum lama berselang mengantarkan buku ke rumah, dua buah buku jenis self motivation yang dia tulis sendiri. Buku itu telah menjadi dua seri karena laris. Seri pertama, telah mengalami beberapa kali cetak ulang dan laku mendekati angka 30 ribu. Ayu Utami, dalam kesempatan berdiskusi bersama mengatakan, bahwa saat itu Saman telah terjual lebih dari 50 ribu.

Dari tiga fakta itu saja ada pola yang bisa diidentifikasi. Pertama, adalah penulis terkenal yang baru sekali menulis novel langsung laris. Kedua, ada penyanyi terkenal, tapi bukan penulis, sekali menulis buku juga laris. Ketiga, bukan nama terkenal, bukan pula penulis, sekali menulis buku juga laris. Artinya, saat ini, siapapun Anda, penulis atau bukan, boleh dan bisa menghasilkan buku laris.

Soal yang lain adalah kasus buku Jakarta Under Cover tulisan Moammar Emka, seorang wartawan hiburan. Buku yang pernah jadi perbincangan ramai ini semula adalah buku yang sempat ditolak penerbit besar. Dan ia menjadi laris justru di tangan penerbit kecil saja, Galang Press. Maka, siapapun Anda, penerbit kecil atau besar, penerbit lama atau baru, berkesempatan mencetak buku best seller.

Pola yang lain ialah, betapa siklus kemunculan buku-buku laris itu kini relatif pendek saja. Seperti Hollywood yang selalu melahirkan film-film box office dengan jarak waktu yang relatif cepat. Ini artinya, pasar buku Indonesia telah bergerak menjadi industri yang jelas arahnya. Meskipun pasar ini belum sepenuhnya stabil. Adanya kasus pembeli buku laris yang tidak membaca buku yang dibelinya itu adalah indikasi, bahwa pasar Indonesia masih ditandai watak snobbish, ada jenis pembeli buku yang lebih untuk sebuah gaya hidup.

Hal semacam ini harus diterima dengan rendah hati. Karena, memang begitulah watak pasar transisi. Tapi dari gaya hidup itulah pasar buku akan menjadi kebutuhan hidup. Era membaca menjadi kebutuhan, memang, sesuatu yang sedang kita usahakan, dan baru sekarang usaha itu menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Refleksi pribadional saya di atas, tentu berkelindan dengan kasus fenomena Ayat Ayat Cinta. Ia setidaknya melahirkan pertanyaan, apakah fenomena itu merupakan bagian dari snobisme pasar buku Indonesia? Jawabnya: untuk sekarang, pasti. Ia memenuhi watak snobbish pasar transisi Indonesia yang menempatkannya sebagai gaya hidup. Namun, untuk ke depan, belum tentu. Jika dilihat dari isi dan reaksi pembacanya, saya optimis bahwa Ayat Ayat Cinta akan menjadi 'legenda sastra santri' tersendiri. Tak jauh berbeda dengan karya HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Bahkan bisa lebih. Kita lihat saja nanti.

Sumber: Republika


Related Posts by Categories



  1. 0 komentar: Responses to “ Buku Laris dan Fenomena Ayat-ayat Cinta ”

Post a Comment

Thanks for your comment. I will reply your comment as soon as possible. I wonder if you would keep contact with this blog.

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google