The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Wawancara Ayu Utami soal Novel Terbarunya "Bilangan Fu"

Written by eastern writer on Tuesday, July 22, 2008

Bagaimana komentar Ayu Utami soal novel terbarunya "Bilangan Fu", berikut ini wawancara Nong Darol Mahmada aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) Komunitas Utan Kayu dengan penulis novel fenomenal Saman (1998) dan Larung (2001) yang menerima Prince Clause Award pada tahun 2000 tersebut.

Wawancara ini dilakukan pada acara peluncuran novel Bilangan Fu, Minggu (20/7) malam di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta.

Mbak Ayu, dibanding dengan novel-novel sebelumnya, saya melihat tema yang diangkat dalam novel ini cukup berat yaitu ingin mengritik 3 M: modernisme, monotheisme dan militerisme. Kenapa? Bisakah diceritakan proses awal kenapa mengambil tema ini? Bagaimana proses penulisannya?

Tentang 3M itu saya rumuskan sambil mendaki gunung Gede, olah raga rutin saya. Biasanya, sambil berjalan saya merenung-renung. Lalu, muncullah ide itu setelah pikiran saya berputar-putar sampai tak begitu bisa saya sadari lagi. Barangkali jalarannya begini. Pada masa Orde Baru, sebagai aktivis kemerdekaan pers, kami tahu bahwa musuh utama demokrasi adalah militerisme. Itu "M" yang pertama.

Nah, sekarang? Setelah Indonesia lumayan terbebas dari militerisme, kita menghadapi ancaman baru. Yaitu, ancaman yang berasal dari ketidakbebasan pikiran. Keengganan bahkan ketakutan terhadap kebebasan pikiran. Ini rupa-rupanya berasal dari beberapa hal. Dalam kasus Indonesia: satu, ketakutan. Ketakutan pada apa? Ketakutan bahwa kemerdekaan akan menghilangkan identitas kita sebagai "bangsa timur", "bangsa beragama", atau apapun yang kita percaya sebagai identitas kita. Sedihnya, ketakutan ini ternyata dipelihara melalui-atau menggunakan-agama. Ditambah dengan meningkatnya kekerasan atas nama agama sepuluh tahun belakangan ini. Kebetulan Indonesia mayoritas muslim. Maka, itulah "M" yang kedua: monoteisme. Saya percaya bahwa Islam maupun Kristen, yakni agama-agama monoteis, memiliki persoalan mendasar dalam kapasitas menerima perbedaan. Ini harus diakui secara jujur tanpa takut. Dua, ketidakbebasan pikiran ini datang dari kemanjaan yang dipelihara oleh kapitalisme. Kapitalisme tak bisa dilepaskan dari modernitas. Itulah "M" yang ketiga. Modernitas.

Jadilah 3M yang saya sebut sebagai ancaman terhadap dunia postmodern: Militerisme, Monoteisme, Modernisme. Hahaha. Ini autokritik sesungguhnya. Sebab, saya punya idealisasi tertentu pada militer. Saya penyuka pria dengan military-look. Tegap. Cepak. Hehe. Saya juga menikmati buah kapitalisme. Saya juga lahir dari tradisi monoteis.


Saya ingin tanya lebih detail lagi. Apa sih yang anda maksud dengan modernisme itu?

Sebetulnya terminologi yang tepat adalah modernitas. Atau pemikiran modern. Bilangan Fu juga bercerita tentang persoalan lingkungan. Rusaknya lingkungan karena eksploitasi dari manusia modern yang kelewat batas. Dalam skala besar: pemanasan global. Tapi, novel kan harus mengambil skala yang lebih kecil dan terfokus. Maka saya bercerita tentang eksploitasi penambangan gunung gamping di pantai selatan Jawa.

Apa alasan ekspolitasi? Ekonomi! Alasan ekonomi semata. Nah, inilah alasan yang sangat khas datang bersama modernitas dan konconya, kapitalisme. Manusia memandang dunia dari sudut kepentingan ekonomi belaka. Dari sudut kepentingan dirinya belaka. Manusia modern tak punya rasa hormat pada alam.

Sederhananya begini. Dulu, ketika masih hidup dengan "takhayul" tentang roh-roh penunggu bumi, manusia bersikap hormat pada alam. Masyarakat adat biasanya tidak berburu atau menebang pohon kelewat batas. Mereka permisi sebelum masuk hutan. Nah, manusia modern-yang telah berpikir rasional dan tak lagi takut pada takhayul-kehilangan rasa hormat itu. Jika dulu manusia tradisional melihat alam sebagai subyek, kini alam semata-mata obyek. Dulu bumi harus disajeni, kini bumi hanya untuk dieksploitasi. Manusia modern telah demikian sombong.

Kritik saya yang terutama adalah bahwa pemikiran modern yang terlalu mengagungkan rasio atau akal telah terlampau jauh meremehkan nilai-nilai tradisi, yang sesungguhnya sangat positif terhadap alam, dan juga telah merendahkan bumi. Ah, kita juga tahu, dalam perdebatan filsafat, bahwa rasio itu tak lepas dari kepentingan. Tak lepas dari libido, kata Freud. Tak lepas dari kekuasaan. Akal sehat itu tidak sehat-sehat amat. Kerusakan bumi menunjukkan bahwa rasio telah menjadi alat dari kehendak berkuasa saja.

Nah, dari penjelasan anda tadi, apa sebenarnya yang ingin anda tawarkan dalam mengritik modernisme ini?

Tawaran saya: spiritualisme kritis! Manusia tak hanya punya kepentingan jahat. Manusia juga punya kepentingan baik. Sama seperti manusia tak hanya punya nafsu rendah, tapi juga nafsu luhur. Kita switch, kita alihkan saja. Jadikan akal instrumental itu alat dari kehendak baik. Apa yang mendesak sekarang? Menyelamatkan bumi! Bukan menyelamati akhirat! Hal yang paling utama dari kesadaran modern sesungguhnya adalah kemampuan kritis. Inilah yang patut disyukuri tiada habis dari modernitas, buah rasio. Ini yang saya kira harus kita genjot. Kita kritik diri kita. Kita kritik nafsu-nafsu berkuasa kita. Karena itu, saya menawarkan "spiritualisme kritis."

Kita tahu, ketika rasionalitas berkembang, mereka mencurigai habis-habisan agama. Tuhan sudah mati, kata Nietzsche. Tapi, kesalahan kaum sekularis-dengan menampik agama-adalah justru membiarkan agama jatuh ke tangan kaum fundamentalis. Karena itu, kita butuh merebut kembali agama. Dan menafsirkannya kembali dengan lebih terbuka. Kita harus lebih belajar dari agama-agama bumi. Yaitu, sekali lagi, untuk menyelamatkan dunia lebih daripada mendahulukan akhirat.

Anda juga mengritik monotheisme. Apa yang salah dengan konsep ini?

Menurut saya, ada yang salah dengan slogan monoteis ini: kami mencari akhirat, bukan dunia. Dalam Bilangan Fu, saya khususnya menyoroti secara prihatin kesombongan monoteisme atas agama-agama lokal. Monoteisme-entah Kristen entah Islam-merendahkan agama-agama lokal sebagai penyembah berhala. Padahal, sesungguhnya agama-agama lokal ini memiliki penghormatan yang luar biasa pada alam. Dikotomi monoteis atas dunia dan akhirat harus dikaji ulang.

Salah satu contoh yang pantas membuat kita prihatin adalah, dua tahun lalu, segerombol pemuda dengan atribut Pemuda Persatuan Islam (Persis) di Jakarta memangkasi sebuah beringin tua di Harmoni. Alasannya karena pohon itu dianggap keramat, bahkan jalur busway pun tak boleh merobohkannya. Pemerintah kota juga mempertahankan pohon itu karena nilainya bagi lingkungan.

Ada sebuah cerpen yang sangat puitis dari Marguerite Yourcenar tentang seorang rahib Kristen Ortodoks yang menghanguskan hutan demi mengusir jin dan peri. Pada akhirnya jin dan peri itu bersembunyi di gua pada sebuah bukit cadas. Untuk memenjarakan mereka, sang rahib mendirikan gereja menutup mulut gua itu. Tapi, Perawan Maria membebaskan peri dan jin itu dari balik jubahnya sebagai burung-burung layang-layang. Buat saya: agama tak berhasil membebaskan manusia. Manusia memanjakan nafsu berkuasanya dengan agama, tapi yang suci memberikan kasihnya.


Mbak Ayu, setting dan tokoh dalam novel ini tentang pemanjat tebing. Kenapa anda mengambil setting dan tokoh tentang itu? Kenapa si akunya bukan perempuan?

Saya belum siap bercerita tentang diri saya sendiri. Hahaha… Saya masih ingin menyembunyikan pribadi saya. Hehehe…. Saya kira penulis justru leluasa untuk menjadi bukan dirinya.

Sesungguhnya awal cerita ini sangat pribadi dan sederhana. Yaitu, kisah masa lalu kekasih saya, Erik Prasetya. Ia memiliki sebuah periode sangat bahagia di masa mudanya, ketika ia menjadi pemanjat tebing, memiliki sahabat, sesama pemanjat, yang ia sayangi, serta kekasih yang ia cintai. Mereka membangun persahabatan yang istimewa antar tiga manusia. Sahabat itu mati dalam kecelakaan di tebing. Setelah itu, hubungan dia dan kekasihnya tak bisa sama lagi. Saya terkesan dengan hubungan yang puitis itu dan tragedi yang mengakhirinya. Betapa rentan manusia.

Tapi, sisa cerita dan pergulatan pemikirannya adalah bagian saya sendiri. Saya menulisnya di masa setelah reformasi. Keprihatinan saya adalah gangguan atas kedamaian dan hak sipil dari gerombolan yang memakai nama agama. Jadi, keprihatinan saya adalah ini: reformasi memberi kita kemerdekaan, tapi masyarakat tidak siap dengan kemerdekaan itu. Dan agama dipakai untuk menolak kemerdekaan.

Saya punya kesan novel Bilangan Fu dibanding novel Saman, sepertinya hanya bisa dipahami oleh kalangan terbatas karena soal tema yang diangkatnya cukup berat, orisinil, dan gaya bahasanya juga lebih berat dan penuh data, tidak secair seperti novel Saman. Apakah anda sengaja memilih seperti ini?

Saya kok tidak begitu sepakat. Struktur ceritanya sebetulnya sangat padat dan sederhana. Lebih sederhana daripada Saman ataupun Larung. Yaitu, tentang cinta segitiga yang istimewa. Tentang usaha menyelamatkan kawasan karst atau gamping. Memang Saman lebih manis. Karena si "aku" penceritanya adalah perempuan lugu yang sedang jatuh cinta dan melankoli. Larung lebih gelap karena karakter yang memiliki sejenis kegilaan. Bilangan Fu diceritakan oleh karakter yang sinis dan skeptis: Yuda. Memang ia punya cara pandang yang khas dan suka mengomentari banyak hal. Tapi, Yuda yang membuat struktur cerita yang sederhana menjadi tidak biasa. Yuda yang membuat hal sehari-hari jadi nampak aneh.

Mbak, kenapa sih judul novelnya Bilangan Fu? Banyak yang bertanya soal judul ini. Terus, apa sih Bilangan Fu itu?

Semula saya ingin menamainya Jalur 13. Semula ceritanya adalah jalur pemanjatan maut berangka 13. Angka yang dianggap sial. Lucunya, angka 13-yang dianggap sial di Barat ini-jika diurai dan dijumlah sebagai 1+3 hasilnya adalah 4. Yaitu Tsi, angka sial di Cina. Hehehe.

Saya semula memang ingin bermain-main dengan sebuah bilangan yang dianggap angker. Tradisi membuat saya berputar-putar pada bilangan 13. Ternyata akhirnya saya berakhir dengan sebuah bilangan yang memiliki properti 0 dan 1 sekaligus. Bilangan ketiga belas dalam sistem bilangan berbasis 12, bukan berbasis 10. Ada banyak hal menarik mengenai perbedaan bilangan berbasis 12 dan 10 ini. Semenarik fakta bahwa jari
kita sepuluh dan fakta bahwa bumi mengelilingi matahari dalam 12 bulan!

Apapun, bilangan fu adalah bilangan yang metaforis, bukan matematis. Spiritual, bukan rasional. Ia merupakan kritik bahwa pengertian kita tentang Tuhan yang satu dalam monoteisme terlalu matematis. Ketika monoteisme dirumuskan, orang belum mengenal bilangan 0. Konsekuensinya, 1 yang dimaksud bisa sama dengan konsep mengenai 0, yaitu yang penuh sekaligus kosong, tidak terbatas, tidak rasional.

Kenapa "Fu"?

Semula karena ada alat musik tiup yang bernama Fu. Tapi, perhatikan, bunyi "fu", juga "hu", dan bunyi bersuara bilabial adalah bunyi dasar. Bilabial adalah bunyi konsonan yang dibuat dari aliran udara menggetarkan dua bibir. Kalau kita bernafas keras, kita mengeluarkan bunyi yang mirip ini. Buat saya, itu bunyi nafas. Bunyi kehidupan. Ya.
Bunyi hidup tapi bukan bunyi nafsu.

Berbeda dari "ma", seperti dalam "mama" atau "makan"; "pa", seperti dalam "papa" atau "pangan"; "da" seperti dalam "dada". "Ma", "pa", dan "da" adalah bunyi libido. Saya
tulis di Bilangan Fu, "ma" dan "pa" adalah bunyi perut, yang mencintai rasa kenyang. "Fu", atau variasinya "hu", dalah bunyi hidung, yang dari sana manusia bernafas. Fu adalah bunyi ruh.

Dalam novel ini juga banyak tersaji tentang cerita rakyat dan pewayangan. Apakah anda punya tendensi ingin menafsir ulang cerita-cerita tersebut?

Ya. Bagi saya cerita rakyat dan pewayangan, seperti juga kitab suci, terlalu kerap ditafsirkan dengan penyederhanaan berlebihan. Saya ingin menyumbang dalam tafsir yang seharusnya lebih kompleks.

Misalnya, saya ingat, ada seorang guru SD yang protes terhadap cerita rakyat. Menurut dia cerita rakyat itu bukan cerita anak-anak. Contohnya cerita Sangkuriang, yang bercerita tentang hubungan seks. Lha! Memang, cerita rakyat bukan cerita anak-anak. Tapi, bukan berarti tidak boleh diperkenalkan kepada anak-anak juga. Keistimewaan legenda adalah karena ia bisa disampaikan sebagai cerita segala umur, termasuk anak-anak.

Tetapi, di lapisan berikutnya ia mengandung bahan dan data yang lebih kompleks. Kita harus memelihara kekayaan itu. Lagi pula, setelah berumur, saya tahu dan percaya tak ada yang sungguh-sungguh baru di dunia ini. Jadi, kenapa tidak menggarap tema-tema klasik?

Berapa lama anda menyelesaikan novel ini?

Empat tahun penuh kegagalan. Setelah itu, sembilan bulan menuliskannya dalam bentuk yang sekarang ini dengan sangat lancar. Dalam empat tahun sebelumnya, sejak akhir 2003, saya mencoba menulis dan terus merasa gagal. Saya berlatih panjat tebing, penelusuran gua, dan pelbagai lain. Begitu banyak waktu, tenaga, dan uang yang saya habiskan, sesungguhnya.

Tapi saya puas. Saya merasa seperti pemanjat bersih. Yaitu, yang tidak memaksakan ide pada cerita. Seperti tidak memaksakan bor dan paku pada gunung batu. Saya merasa memanjat dengan jalur yang disediakan alam dan dengan peralatan yang tidak merusak tebing.

Mbak, apa saja hambatan dan tantangan yang dialami ketika menulis novel ini?

Tantangannya, saya tidak ingin mengulangi Saman dan Larung. Saman dan Larung ditulis di masa Suharto yang otoriter. Karena itu, saya ingin membebaskan diri dari linearitas bercerita. Dalam keduanya, saya ingin bercerita yang tidak lurus tidak padat, melainkan longgar. Bilangan Fu tidak. Saya ingin kembali kepada cerita yang sederhana. Apalagi di masa yang khaos dan ribut ini, saya ingin kembali kepada plot yang lurus. Ternyata tidak mudah memberi makna baru pada kesederhanaan.


Pertanyaan terakhir mbak. Adakah perasaan "terbebani" karena khawatir novel ini tidak sebagus atau tidak sesukses novel Saman?

Tidak. Sukses itu selalu separuh nasib. Nasib tidak bisa dipaksakan. Saman sukses karena dia yang pertama di zamannya. Dia pemberontakan. Dia menghantar pada masa perubahan. Dia diluncurkan sepuluh hari sebelum Suharto jatuh! Dia membawa gosip pula.

Selain itu, saya yakin bahwa Bilangan Fu lebih bagus daripada Saman. Paling tidak, saya lebih puas terhadap Bilangan Fu dibanding Saman. Secara struktur dia lebih kompak, lebih padat. Secara isi dia lebih berbobot. Saya juga senang bisa melibatkan gambar dari banyak khasanah, bisa memasukkan berita-berita koran yang absurd.

Memang, sekali lagi Bilangan Fu tidak manis dan lembut seperti Saman. Tapi, itulah hidup. Seperti anggur atau keju. Saya bertambah umur. Saya tidak bisa terus-menerus lembut seperti keju muda. Saya tak bisa terus-menerus manis atau jualan manis.

--------------
diambil tanpa izin (semoga yang punya tidak keberatan) dari blog Nong Darol Mahmada http://nongmahmada.blogspot.com

Read More......

Yang Kurang dari Bilangan Fu

Written by eastern writer on Tuesday, July 22, 2008

Novel teranyar Ayu Utami "Bilangan Fu" mempunyai tekanan pada aspek spiritualitas. Entahlah, apakah ini merupakan perjalanan spritual penulisnya, ataukah dari hasil risetnya. Sebenarnya itu juga tak terlalu penting. Apa yang disampaikannya dalam buku itu jauh lebih penting.

Pemanjat gunung memang identik dengan seorang pencari. Yuda, tokoh aku dalam Bilangan Fu, dalam perjalanannya memperoleh pengalaman mistik mendapat bisikan berbunyi "fu". Ia mendapatkan pencerahan dari kawan barunya bernama Parang Jati yang membukakan dia akan kearifan lokal. Jati banyak mengajarkan bagaimana menjadi tokoh seperti "Semar", dan dalam sisi lain mengkritik Kupukupu, yang memandang persoalan mistik secara radikal.

Tapi jujur, saya terganggu dengan dengan kemunculan Ahmadiyah dalam novel itu. Ada kesan Ayu menambahkan bagian itu dari peristiwa aktual, sementara rentang cerita dalam novel itu berkisar pada periode 90-an akhir. Sebenarnya tak jadi soal jika kita abaikan persoalan di luar cerita dengan begitu nama-nama dan peristiwa punya dunianya sendiri seperti yang dibangun penulisnya.

Saya pribadi kurang puas, karena sebenarnya menurut saya Ayu bisa menggarap novel itu lebih menggigit dan tidak tergesa-gesa dalam penyelesaiannya. Tampak pada bagian akhir-akhir Ayu kewalahan, dan banyak mengada-ada hingga terkesan Ayu tak bisa untuk tak memunculkan seperti Ahmadiyah itu. Yang bisa dieksplorasi lagi sebenarnya tentang konsep bilangan, konsep tentang satu, tentang tuhan, yang bisa digali dari Ibnu Arabi. Barangkali karena Ayu pakai rujukan keyakinannya.

Pada bagian akhir-akhir, Ayu lebih banyak berkutat pada cerita sejarah. Memang itu penting, karena dia menyinggung sejumlah peristiwa di masa lampau yang celakannya karena pembaca dikenalkan dengan tokoh-tokoh yang sudah dikenal maka Ayu harus mengisahkannya dengan rujukan dari buku-buku sejarah. Akibatnya nasib para tokoh-tokohnya terlantarkan.

Satu lagi, banyak bagian yang diulang-ulang. Kebencian tokoh Yudha akan televisi muncul sampai berkali-kali. Capek kalau menghitungnya. Baiklah jika itu sebagai sebuah penegasan, tapi dalam sisi lain, bagi saya terasa mengganggu.

Saya suka gaya bercerita Ayu dalam novel ini, yang bisa berubah-ubah, melompat-lompat. "ketika saya menuliskan kembali cerita ini", karena dengan urutan itu, si aku banyak mendapat masukan dari Parang Jati, setelah kemudian mengolahnya kembali dan tentu saja dengan memberikan sejumlah catatan.

Novel ini patut diapresiasi karena kaya akan wacana: sejarah dan nilai-nilai lokal yang sudah banyak dilupakan generasi sekarang. Ia memtret ketegangan antara tradisionalisme dengan modernisme, dan mengajak pembaca untuk berpikir melampaui dua fase itu: berpikir postmodern.

Read More......

Ayu Utami launches 'Bilangan Fu'

Written by eastern writer on Tuesday, July 22, 2008

Indonesian artist Landu Simatupang (left) read the fragment of Fu Numeral (Bilangan Fu), the latest Novel by Indonesian famous writer Ayu Utami, at Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sunday (20/7) evening. This event was held to launch the novel. (Kompas Images)
--------------------------


Writer-Journalist Ayu Utami on Sunday launched her third novel, Bilangan Fu (Fu Number), seven years after her previous literary work.

"I had to learn rock climbing and conduct deep research before writing the novel," Ayu told reporters at Taman Ismail Marzuki arts center in Central Jakarta about the novel which centers on rock climbers.

During the launch, the 40-year-old writer gave a copy of Bilangan Fu, which expresses her criticisms of modernism, monotheism and militarism, to veteran rock climber Harry Suliz, the founder of Skyger rock climbing club.

Noted theater actor Landung Simatupang read parts of the novel published by Kepustakaan Populer Gramedia, during the launching.

Ayu's first novel Saman won a writing competition held by the Jakarta Art Competition in 1989 and Prince Claus Award in 2000 from Prince Claus of the Netherlands. She wrote her second novel Larung in 2001.

----------
Jakarta Post

Read More......

Review Bilangan Fu: Manifesto Spiritualitas Ayu (2)

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar.

Kesadaran dasar ini juga akan membantu kita memandang semua sarana untuk mencari Tuhan secara proporsional. Sesuci apapun sebuah ayat, tak lebih dari sebuah wahyu, dan bukan kebenaran itu sendiri. Tidak perlu kita berkelahi meributkan rumusan-rumusan ayat kitab suci yang isi atau tafsirannya berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain, karena jika demikian kita menganggap rumusan wahyu itu sebagai Tuhan sendiri.

Tokoh protagonis Parang Jati dalam novel terbaru Ayu Utami adalah sosok yang mewakili bentuk penghayatan spiritualitas yang menghargai (respek) pada orang lain dan lingkungannya. Bahwa kita seharusnya berinteraksi dengan segala sesuatu di luar diri kita (manusia dan lingkungan) dengan sikap welas asih dan tidak memaksa. Sikap ini dipertentangkan dengan sikap tokoh antagonis Kupukupu, yang karena selalui dihantui rasa tidak aman dan belum selesai dengan eksistensi dirinya, menafsirkan rumusan ayat-ayat dalam Kitab Suci secara matematis, dan menggunakannya untuk menghakimi semua orang yang dianggap menyimpang dari rumusan tersebut.

Seperti dalam dua novel terdahulu (Saman dan Larung), dalam novel ini kita masih bisa merasakan kelincahan Ayu dalam memainkan kata-kata sehingga terlahir ungkapan-ungkapan puitis yang pada titik-titik tertentu melahirkan letupan keindahan laksana kembang api di angkasa. Berbeda dari dua novel terdahulu, dalam novel ini Ayu lebih kontemplatif dan lebih mendalam, tanpa terjebak menjadi nyinyir. Tidak heran Ayu sendiri menamai novel ini sebagai manifestonya tentang spiritualitas kritis.

Memang ada sedikit yang terasa mengganggu menyangkut kutipan-kutipan berita dari surat kabar yang tidak bersesuaian dalam waktu dan tempat dengan kejadian sebenarnya, sekilas terkesan dicocok-cocokkan. Namun kita harus selalu ingat bahwa bagaimanapun kisah ini adalah fiksi (rekaan), bukan fakta sejarah.

Bagaimanapun sebagai sebuah karya, novel ini memenuhi syarat keindahan (menggetarkan jiwa), simbolisme (apa yang terjadi di Watugunung merupakan miniatur dari kejadian secara nasional dan internasional, menyangkut modernisasi yang eksploitatif terhadap alam dan perlawanan antara kaum fundamentalis dan moderat agama), dan sebuah pernyataan sikap pengarang terhadap itu semua. Atas pertimbangan itu semua, novel ini bisa digolongkan dalam karya sastra.

Kita tunggu apakah novel ini akan mendapat penghargaan sastra seperti novel pertama Saman.

-----------
the review above was written by gagang_aking, member of www.bukukita.com forum

Read More......

Modernisme (Nukilan Bilangan Fu)

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

Almari

Taruhan. Kau pasti enggan percaya jika kubilang padaku ada sebuah stoples selai berisi sepotong ruas kelingking. Kudapat dari menang bertaruh. Aku tidak gandrung pada benda itu: botol gelas berisi buku berkuku yang mengapung di air formalin. Pacarku Marja membencinya sampai ia pergi. Katanya, kaca tebal dan cembung membuat efek akuarium. Kelingking itu jadi tampak bagai seekor balakutak. Kukunya yang ungu adalah mata memar, memergokinya setiap kali dia melirik ke sana. Kubilang, kalau takut ya jangan kau menoleh kepadanya. Aku sendiri menikmati kelingking itu sebagai salah satu dari koleksi benda yang kudapat dari menang taruhan.

Pada dinding kamar kosku ada sebuah almari. Kupersembahkan untuk menampung kenang-kenangan, cenderamata menang taruhan. Isinya kebanyakan barang tak berharga. Kelingking itu, misalnya, tak ada gunanya bagiku. Di sebelahnya telah kutata pula sebilah iga manusia, melengkung bagai pedang, dengan satu pasak salib nisan terbuat dari granit hitam. Meski kasihku akhirnya pergi juga, sesungguhnya tiga benda itu sajalah yang membikin dia jeri. Sisa koleksi tidak membuat aku tampak seperti manusia gothik. Aku bukan karakter dari cerita Alfred Hithcock yang telah klasik. Aku hanya manusia yang mengabdi pada hobiku. Aku adalah seorang pemanjat dan petaruh. Begitu saja.

Ruas kelingking berkuku belah itu milik si Fulan, temanku, sesama pemanjat tebing dulu. Tidak, aku tidak mendapatkannya dengan memotong jarinya pada talenan sebab ia kalah taruhan. Aku bukan psikopat. Kami sedang memanjat di Citatah, barisan tebing gamping di tepi kota Bandung, ketika tiba-tiba sebongkah batu rumpal. Sekepala manusia besarnya. Aku sedang memanjat, sementara Fulan berada di kaki gawir. Ia sedang kena giliran tugas sebagai juru masak. Aku berani bertaruh batu itu gumpil sendiri dari sarangnya lima meter di atas kepalaku. Bukan aku yang menyebabkan. Aku menjerit anjing ketika ia melayang melampaui kepalaku. Segera kutahu bahwa kawan-kawanku di dekat tenda ada dalam bahaya. Batu itu telah bertambah kecepatan pula manakala tiba di tanah kelak.

Sedetik kemudian kudengar di bawah ada yang meraung jalang. Suaranya gaduh anjing dibunuh. Posisiku terhalang ganjur tebing untuk melihat apa yang terjadi. Kami berusaha secepat mungkin untuk turun, meluncur dengan kait delapan bergantian. Sampai di tanah kulihat Fulan telah dibaringkan pada tandu, yang sedang dinaikkan ke dalam Landrover kuning tua yang kudapat dari beberapa kali menang judi sabung ayam. Tak kulihat luka pada sekujur tubuhnya. Hanya kulihat kelingkingnya berdarah parah. Tepatnya, hanya kulihat seluruh bidang telapak tangannya berwarna merah, pekat mengilap.

Sebelum mobil menyala, kawanku yang lain terdengar menghardik kepadaku. “Yuda! Kau carikan potongan kelingkingnya sebelum gelap!”

Tentu akan kucari sampai mati, sebagai kesetiakawanan yang masih bisa kusumbangkan. Sebelum tikus hutan mencurinya. Aku menemukan ruas jari itu, terserak di tepi semak-semak, dekat kompor bensin yang terguling. Ia melenting tak jauh dari ceceran darah. Prioritas membuat teman-temanku tak melihatnya tadi. Kubuntal kelingking malang itu dengan bandana yang semula mengikat kepalaku. Segera aku menyusul ke rumah sakit dengan ojeg. Supirnya kuancam agar ngebut. Tancap gas, atau motormu kurebut. Tiba di sana, kulihat dokter sedang mengobras kelingking yang buntung. Aku terlambat. Dengan segala sesal dan prihatin aku meledak, “Stop dokter! Ini, saya temukan kelingking itu! Ayo sambung!”

Dalam kalut kubuka bungkusan dan kuacungkan ruas sepetilan lengkuas. Tapi semua mata memandang ke arahku dalam diam, kepadaku dan kepada jari yang kuajukan, bagai sepuluh menit lamanya. Aku merasa menjadi gerakan ganjil dalam film yang dibekukan. Lalu kulihat dokter itu menggelengkan kepala, pelan. “Percuma. Sudah putus. Tidak bisa disambung,” ujarnya dingin.

Ketika suasana telah tenang, kulihat di tatapan Fulan ada magma yang terarah padaku. Ia duduk di kursi tunggu ruang gawat darurat sekarang. Bibirnya mengatup tegang dan matanya menyorotkan api. Rambutnya ular berbisa. Apa salahku? Bukan aku yang meruntuhkan batu. Lagi pula, kalau bongkah itu rumpal karena aku, kami semua tahu bahwa kecelakaan yang diakibatnya tak bisa disalahkan pada siapapun. Itulah kebersamaan kami. Batu jatuh bisa terjadi setiap saat. Bagian dari risiko petualangan. “Yuda…” Ia menyebut namaku, tapi aku yakin kudengar bunyi desis di akhir ucapnya. Yudas. Engkau Yudas, si pengkhianat. Aku memegang stoples berisi kelingking yang telah tanpa pamrih kuperjuangkan sampai di sini. Suster berpantat montok itu telah mengemasnya buat kami. Tapi dokter itulah yang salah, bukan aku. Dia yang tak mau menyambungnya. Keras kepalaku membuat aku tak sudi minta maaf, bahkan sekadar untuk melembutkan hati kawanku.

Aku justru mengajukan taruhan. Taruhan sepertinya adalah satu-satunya bahasa yang kumengerti pada usiaku waktu itu. Umurku sembilan belas.

“Kelingkingmu pasti tumbuh lagi. Tidak sempurna, tapi tumbuh lagi. Percayalah. Taruhan…” kataku tanpa pikir panjang. Di usia itu seorang anak muda memang tak perlu pikir panjang. Seseorang tertawa karena aku memperlakukan jari seperti buntut cicak. Si Fulan belum bisa tersenyum. Katanya, “Boleh. Kalau tidak tumbuh, kau telan kelingkingku itu.”

Aku sebetulnya tersinggung. Ia sama sekali tak menghargai jerih payahku. “Oke,” tantangku tanpa kehilangan humor. “Tapi kalau tumbuh, kau telan kelingkingmu ini?” Teman kami yang lain menengahi. “Kalau tumbuh, kelingkingnya biar buat Yuda. Kalau tidak, buat Fulan. Siapa tahu bisa disambung lagi kalau sudah ada teknologi baru.”

Demikian saja. Semula tak ada satu pun yang percaya. Tapi setelah setahun berselang, kami melihat jari si Fulan telah bertunas lagi. Tidak sempurna betul memang, persis seperti yang kukatakan serampangan dulu. Ruas yang hilang itu telah digantikan oleh taju baru yang lebih kecil, dengan kuku yang lebih pendek dan tampak lebih lunak. Tapi jentik itu tumbuh kembali, seperti ekor cicak! Kami tak ingin ke dokter, sebab kami tak membutuhkan penjelasan. Jari bertaruk kembali, apa lagi yang perlu dijelaskan? Keterangan akan menghilangkan rasa mukjizat. Lebih menyenangkan bagi kami para pemanjat untuk menerima teori bahwa jari pemanjat tak banyak beda dari buntut cicak. Teori ini lebih memberi harapan. Begitulah, dengan sebuah upacara kecil di antara gerombolan pemanjat kami, si Fulan menyerahkan stoples kaca istimewa itu kepadaku sebagai tanda kekalahannya.

Aku mengenang upacara kecil itu dengan agak syahdu. Malam. Bintang waluku. Tebing menjulang sebagai bayangan gelap. Angin. Bau alam bercampur unggun yang meletik-retas. Kami duduk melingkari tonjolan batu di mana kecelakaan dulu terjadi. Di atas pembakaran, daging domba mulai matang. Bawang putih dimemarkan. Selusin Balihai dingin dalam kulboks dengan es batu yang mulai mencair. Beberapa botol kola, serta Mansions dan Drum. Semua yang termurah dan cepat membikin pusing. Si Fulan duduk dengan wajah kalah. Ia tahu tak benarlah sikapnya menyalahkan aku dulu. Ia tahu, jika aku berkeras dengan nilai taruhan awal, maka dia harus menelan acar kelingking formalinnya sekarang.

Tapi bukan itu yang terutama membuat aku biru. Dalam pidato kecilnya, si Fulan berkata bahwa ia harus mengurangi kegiatan memanjat karena dia akan segera menikah. Ini sekaligus akan menjadi pesta melepas masa lajangnya. Lalu si Fulan menyerahkan stoples selai itu kepadaku bagai sebuah wasiat. Anggota gerombolan yang lain bertepuk tangan. Seseorang menirukan suara tersedu sinetron sendu.

Aku merengkuh dan mencium kelingkingnya yang baru. Ada rasa sedih dan marah setiap kali seorang kawan pemanjat menikah. Aku tahu pernikahan berarti akhir petualangan panjat tebing. Mereka akan segera pensiun, untuk mencari nafkah dan memberikan kehidupan yang stabil bagi kaum pembujuk itu dan anak-anak tuyul yang akan mereka lahirkan. Lalu satria pun akan menjadi sudra.

“Aku sedih kau meninggalkan agama kami,” bisikku kepadanya. Sesungguhnya, ia bukan berpindah agama, melainkan turun kasta.

Ia mengelak dan berkata bahwa ia tak akan meninggalkan sepenuhnya pemanjatan. Aku tersenyum kering. Semua laki-laki membual, di malam lepas lajang, bahwa mereka takkan kehilangan kebebasan sampai kapan pun.

Si Fulan. Ia telah pensiun sekarang. Di usia dua puluh empat. Pemilik kelingking dalam botol selai yang kusimpan baik-baik itu. Kawanku yang berwajah bulat berambut wol, yang bagaimanapun telah pernah menjadi teman berbagi dalam hidupku.

Aku tetap dengan pilihan hidupku. Bahkan sampai hari ini, bertahun-tahun kemudian. Di sebelah botol acar kelingkingnya, pada rak yang sama dari almari di kamar kosku, tertatah juga tulang iga beralas beledru. Rusuk itu milik mendiang ayah temanku, dan salibnya, yang tersandar pada dinding, adalah batu nisannya. Kudapat dari taruhan yang lain, yang berawal dari debat mengenai mana lebih baik: kremasi atau penguburan. Kubilang pada Oscar, temanku anggota gerombolan juga, bahwa kuburan Blok P tempat ia akan memakamkan ayahnya pasti digusur dalam sepuluh tahun ini. Jika aku salah, pada tahun kesebelas aku akan tidur di sebelah kubur ayahnya selama empat puluh hari sinambung. Jika bolong satu, aku harus mengulang dari hitungan satu. Ia telanjur setuju sebelum aku mengajukan syaratku. Nah, sekarang syaratku. Jika aku benar, aku minta sepotong rusuk dan pasak nisannya ketika mereka membongkar remah-remah makam. Sepotong rusuk, siapa tahu menjelma perempuan cantik. (Oscar punya ibu yang masih berbentuk gitar di usia empat puluh lima.) Kuburan itu menjelma kantor walikota. Oscar memenuhi janjinya dengan tipu-daya terhadap keluarganya. Atau barangkali ia menipuku dan memberi tulang iga dari kuburan lain. Terserah. Demi rasa-rasa yang aneh, Oscar juga secara rutin mengunjungi tulang itu dan memberi penghormatan dengan caranya sendiri. Barangkali ia sendiri senang berada dekat relik leluhurnya. Barangkali ia menikmati tipuannya padaku. Terserah.

Almari kenang-kenangan taruhan. Ia memelihara kesendirianku dari hingar-bingar kota yang aku tak tahan. Pada saat-saat tertentu aku sungguh memandangi isinya dengan nikmat yang membuat hatiku tersenyum. Gelas selai berisi kelingking masam. Sebilah rusuk garing. Sekumpulan tetek-bengek. Botol berisi kentut yang tak pernah kubuka. Beha milik pacar temanku. Foto burung kami yang kami jepret ketika seorang teman perempuan menitipkan kamera analog. Rambutnya berjerangut. Kawan cewek yang sedang belajar fotografi itu baru sadar ketika ia mengambil hasil cetakan foto dari Fuji Image Plaza. Buku tua How to be a Sensuous Man. How to be a Perfect Gigolo. How to Read Books. How to Win Friends. Bagaimana Menjadi Kaya Dalam Sebulan. Bagaimana Menghipnotis Orang. Wayang Werkudara. Kepompong ulat kedondong. Sejilid ilustrasi porno dan kasar dari Eric Staton. Satu set koleksi komik Superman dari Amerika. Boneka Spiderman pelbagai ukuran. Firdaus Oil. Tongkat Madura. Minyak binatang biul untuk memperbesar payudara. Sebuah kutipan pada papan, tanpa nama: Kelak, ketika tua, kita tahu kita semakin sulit tertawa. Sebab, seperti pohon, semakin menjadi tua semakin mengeras diri manusia. Tentang hal yang menyedihkan itu boleh juga kita bertaruh.

Tapi, di tempat yang paling terhormat di almari itu, di tengah-tengah, di antara dua lilin persembahan, aku memiliki sebuah peti kecil. Kotak perhiasan terbuat dari kayu jati yang permukaannya secara rutin kugosok dan kurawat. Pada tanggal-tanggal tertentu kusulut lilin di kanan kirinya, kunyalakan ritualku. Di dalamnya terdapat sepotong batu sederhana. Batu endapan berwarna kelabu, nyaris segitiga bentuknya. Padanya ada sebuah jejak fosil. Berbentuk labirin cangkang siput sekepalan. Batu itu tampak seperti replika yang dijual sebagai suvenir museum geologi. Dan memang batu itu pantas menghuni sebuah pedestal terhormat di sebuah museum istimewa. Museum yang tak hanya memperlakukan koleksinya sebagai obyek ilmiah; melengkapinya dengan kartu berisi data-data mati. Melainkan yang juga menganggap benda-bendanya sebagai subyek, yaitu yang memiliki ruh pada dirinya. Ruh yang mewujudkan diri dalam rupa dongeng dan cerita. Di bawah batu endap itu terdadah secarik surat tua bertulis tangan dengan sepatah kalimat terakhir: apa yang tak selesai kau mengerti di sini, tak boleh kau tanyakan padaKu di luar.

Pada batu itulah kisahku ini mengkristal.

download dalam format pdf

Read More......

Book Review: Bilangan Fu (1)

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

baiklah, akan aku ceritakan pengalaman membaca novel keren terbaru ayu utami, bilangan fu. sampai pada lembar terakhir aku merasa tak mendapatkan "imbalan" seperti pada novel kebanyakan. malahan ia menyisakan pertanyaan yang menteror.

aku sadar betul, ayu utami bukanlah penulis yang sebatas ingin memberikan penghiburan dan kepuasan kepada pembacanya. namun ia menawarkan suatu pemikiran baru mengenai spiritualisme.

masih sering kita melihat praktek-praktek upacara pemujaan dan persembahan (sesajen) kepada batu atau pohon di daerah-daerah yang masih memelihara takhayul. sebagian besar orang menganggapnya kuno, kampungan dan tak intelek. ada yang menilai sebagai bentuk perbuatan terkutuk yang menduakan Tuhan.

ayu utami memahaminya lain. melalui novelnya ia ingin mengatakan, agama-agama langit telah gagal menyelamatkan alam. agama bumilah yang secara sistematis memelihara alam. sayangnya agama-agama bumi ini telah terlindas nilai-nilai baru: modernisme dan monoteisme.

dengan setting watugunung (pegunungan kapur) dengan para pemanjat tebingnya, ayu sangat piawai meramu dan mengolah perbenturan dua keyakinan melalui kedua tokohnya: parang jati dan kupu-kupu. plot yang agak lambat namun padat, pembaca diajak memahami perbedaan antara agama-agama barat dengan timur (hindu budha, konghucu, tao, shinto dan agama lokal. (semacam pangestu, parmalim, kaharingan?).

rupanya perbedaan itu terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing agama. agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. nol. harmoni yang menghargai kontras (yin yang). dimana dalam yang satu selalu ada yang lain.

sebaliknya monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah satu. monoteisme memandang orang lain tampak seperti hidup dalam kegelapan dan penderitaan sehingga membutuhkan terang mereka. mereka melihat orang lain tampak seperti iblis sehingga boleh diperangi.

bagi mereka yang memilih agama langit daripada agama bumi, ia menawarkan bentuk keyakinan baru, spiritualisme kritis. kritis terhadap kebenaran yang dibawakan setiap agama. intinya jangan pernah mau menjadi budak kitab suci manapun.

kebenaran biarlah berada di langit. kelak kita akan mengetahui misteri itu. namun saat ini bumi membutuhkan kebaikan kita. maka sebaiknya kita berbuat baik kepada bumi, karena langit tak butuh belas kasih kita.

pada novel ini, ayu sangat bersemangat mengenalkan vocab yang jarang dipakai orang sejak dari bab pertama. bahkan beberapa tak kutemukan di tesaurus : dekis, retis. darimana ia mencipta kata-kata itu? lainnya yang kuingat: mendebik, miang, berjerangut, lihap, cedok, menyintas, membeting, wadat, menyalut, terpelecok, mengempal, orak, mengajuk, bergoler-goler dan dubuk.

ada roman (yang bukan picisan) asmara ketiga tokohnya, kita akan menemukan arti cinta yang aneh. yuda mencintai marja (cewek) dan parang jati. marja mencintai yuda dan parang jati. parang jati mencintai yuda dan marja. tak ada rasa cemburu, karena mereka tak ingin saling menguasai.

source: http://fanabis.blogsome.com

Read More......

Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman' tersebut.

Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.

Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku 70 eksemplar lebih.

Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang perempuan bernama Marja.

Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai 'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.

Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang? Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:

Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?

Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.

Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat tebing-tebing.

Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.

Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?

Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi. Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara beragama yang terlalu formalistis.

Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.

Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama ingin mencapai puncak.

Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat, bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak. Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.

Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.

Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.

Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang tidak memaksa.

Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?

Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha, karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan cara berbeda.

Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?

Masih.

Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?

Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan. Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.

Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi hatinya memang baik saja.

Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?

Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi saya selalu siap jika novel saya tidak laris.

Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.

Apa istimewanya Bilangan Fu?

Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung, adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba, dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.

Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik, fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis yang saya rasakan di zaman itu.

Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan. Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.

Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.

Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?

Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.

Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi. Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.

Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?

Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal (halamannya). Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.

Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?

Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu tidak puas.

Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9 bulan penulisan bentuk terakhir.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
Buku yang ditulis:

Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu

Read More......

The spiritual side in Ayu Utami latest book

Written by eastern writer on Thursday, July 17, 2008

The Indonesian Edition

Title: Bilangan Fu
First Edition: June 2008
Published by: Kepustakaan Gramedia (KPG)
Size: 13.5 x 20 cm
Price: Rp 60,000


Celebrated author Ayu Utami shares her thoughts on her latest book, Bilangan Fu (The Fu Numeral), at her house in Central Jakarta. She moves fluidly between subjects, from critical spiritualism to rock climbing and her partner in life, Erik. I even get treated to a dance with the couple's beautiful dog, Alpo.

I arrive at Ayu's house in Utan Kayu area at noon on a Monday. The men hanging around street outside tell me the doorbell is behind the brick wall, next to the rustic Balinese wooden door.

Peeking out from behind the wall is a man who flashes me a smile as he opens the door.

This is Ayu's partner, Erik Prasetya: freelance photographer, Jakarta Institute of Arts lecturer, rock climber and inspiration for her new book, due for release next month. Just behind him is the writer herself.

The two look 10 years younger than their years. Ayu, who will turn 40 in July, is slender in dark jeans, with a purple tank top showing off her toned biceps. Her skin, tanned from her 10 to 15-kilometer runs, glows. She wears her thick wavy hair down and looks beautiful with little makeup.

Erik has reached the ripe age of 50. Spectacles perch on his nose and I catch a glimpse of silver grays in his short hair. Dressed in a black-and-white batik sarong and gray sleeveless shirt, he looks in good shape, thanks to a disciplined fitness regimen.

They show me into the study and Ayu offers me dim sum to eat. I tell her I am a vegetarian and she disappears to the kitchen.

The study is spacious and opens onto other rooms. A tall white cabinet filled with books stands along one part of a wall. In front of the cabinet sits an antique desk with a laptop. A wooden art installation hangs from the high ceiling.

As I sit, a beautiful creature with big eyes and long eyelashes hops forward and rests its front legs on my lap. This is the couple's dog Alpo.

"Back up a little," Erik tells me. "She can stand on her feet and dance."

It is true. Alpo is not only beautiful -- she really can dance.

Ayu returns from the kitchen with a jug of water and a plate of tasty homemade energy bars, and we sit in wooden chairs in the middle of the study to get down to talking.

Right away, Ayu launches into an explanation of the concept of the fu numeral, which is the essence of her new book. She talks fluently, the words and sentences flowing freely from her lips.

Ayu is characterized by a mixture of sound historical knowledge, a healthy dose of free imagination and a critical way of thinking. This mixture led her to the concept of the fu numeral.

"The fu numeral is something that I've formulated. It's a number that has the properties of both one and zero. It's not a mathematical numeral, but a metaphorical numeral; not a rationalistic numeral but a spiritual numeral," she says.

"I use this to criticize monotheism."

With this last statement, her voice takes on a stern edge.

In the background, Erik, his legs resting on an exercise ball, is nodding off to sleep.

"I feel quite happy with my formulation," she says with a laugh.

And with another laugh: "I feel quite a genius with my discovery."

Ayu thinks monotheistic traditions understand the concept of one in an overly mathematical way, "whereas monotheism actually developed before the number zero was conceptualized".

To understand Ayu's concept of the fu numeral, it is first necessary to understand the history of religious development and the history of numerical development.

The concept of one god in the monotheistic tradition that started with Abraham around 4,000 B.C. emerged before the concept of zero was incorporated into the numerical system. The concept of zero or nil was first discovered in India around the fifth century.

"There, the concept of nil came from the concept of sunya or emptiness. The concept of a holistic divinity in the Eastern tradition is conceptualized into nil, while in the Semitic tradition it's conceptualized as one," she says.

"The numeral one, which monotheistic traditions use to define god, is actually one that is whole. However, we've come to understand the concept of one in a very mathematical sense since zero was discovered, which has resulted a very mathematical monotheist belief."

She incorporates this concept of the fu numeral in her book, along with "critical spiritualism", another concept she developed, by telling the story of a skeptical rock climber named Yuda.

By "critical spiritualism", Ayu means attempting to use our mind, living on Earth with our bodies and struggling against the urge to surrender to fatalistic faith.

"After we struggle to the very final moment and realize that we cannot grasp the ineffable, then yes, we surrender," she says.

This critical spiritualism is reflected her own spiritual journey. Raised in a Catholic tradition, she grew up despising religion. She became an atheist in her 20s, rejecting all religious values.

As she entered her 30s, she says, she came to view religion in a different light.

"I see in religion humanity's attempt for dialogue. Scriptures cannot be read literally, but have to be read contextually and metaphorically.

"Religion can renew itself. It's like a historical reality. In the end, what is important is not what is true, but what we do on Earth. Truth will always be delayed -- what's important is kindness," she says.

The spiritual Bilangan Fu has a different emphasis to her previous books Saman and Larung, which dealt with sexuality. What they do have in common is that they serve as a social critique.

Saman, released in 1998 just months after the toppling of former president Soeharto, was a critique of the hypocritical patriarchal society and repressive New Order Regime. Its sequel Larung shared the same broad themes.

Bilangan Fu is a critique of the growing power of religious fundamentalists, such as the Islam Defenders Front, and the increasing violence toward religious minorities over the past 10 years.

Both Ayu and Erik have signed the National Alliance for Freedom of Religion and Belief.

"In the past 10 years, people have been interpreting religion in a very shallow and fatalistic way. Religion is used to give life to power, or people are lured to the powerful side of religion. It's a sad development," she says.

Ayu dedicated Bilangan Fu to Erik. She was inspired to write a novel about rock climbing because of him. Once an avid climber, Erik stopped for 14 years after the death of his best friend in a rock climbing accident.

"When I first started going out with Erik, I didn't do any rock climbing, and neither did Erik, because of his trauma. But he kept telling me all these stories about rock climbing. I thought, why are you telling all these stories if you don't even do it anymore?" she says.

"So I decided to write a book about it."

By this time, Erik has woken from his doze. He joins us at the table and places his hands behind his head.

"I dedicated this book to Erik. This is a way for me to picture him in his youth with his late best friend and his girlfriend who left," she says, looking at him with a smile.

She started to learn rock climbing in late 2003, after which Erik returned to the sport.

"The first time back was magical. It all came back, the smell, the feel of the wind," Erik says.

They now have their own climbing wall in their house.

According to Ayu, Bilangan Fu was her hardest book to write, taking her around four and a half years to finish.

"There was so much that I wanted to say, my concepts of the fu numeral and critical spiritualism, but I didn't want that to ruin the structure of the story. Finding a simple structure for a complex matter is the hard part," she says.

"I saw her struggle to put her ideas into her book," Erik chimes in.

"It was not easy, and there were times she despaired and even said that her ideas could not be put into a book. But then she found her way."

Ayu likens writing to rock climbing.

"In rock climbing, a good climber should climb clean, which means we have to find a natural path, we can't destroy the rocks. That was my principle in writing as well -- if we can't find one path, we choose another," she says.

"And in desperate times we usually find the way."

Image: www.khatulistiwa.net
artcile: The Jakarta Post

Read More......

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google