The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Book Review: Bilangan Fu (1)

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

baiklah, akan aku ceritakan pengalaman membaca novel keren terbaru ayu utami, bilangan fu. sampai pada lembar terakhir aku merasa tak mendapatkan "imbalan" seperti pada novel kebanyakan. malahan ia menyisakan pertanyaan yang menteror.

aku sadar betul, ayu utami bukanlah penulis yang sebatas ingin memberikan penghiburan dan kepuasan kepada pembacanya. namun ia menawarkan suatu pemikiran baru mengenai spiritualisme.

masih sering kita melihat praktek-praktek upacara pemujaan dan persembahan (sesajen) kepada batu atau pohon di daerah-daerah yang masih memelihara takhayul. sebagian besar orang menganggapnya kuno, kampungan dan tak intelek. ada yang menilai sebagai bentuk perbuatan terkutuk yang menduakan Tuhan.

ayu utami memahaminya lain. melalui novelnya ia ingin mengatakan, agama-agama langit telah gagal menyelamatkan alam. agama bumilah yang secara sistematis memelihara alam. sayangnya agama-agama bumi ini telah terlindas nilai-nilai baru: modernisme dan monoteisme.

dengan setting watugunung (pegunungan kapur) dengan para pemanjat tebingnya, ayu sangat piawai meramu dan mengolah perbenturan dua keyakinan melalui kedua tokohnya: parang jati dan kupu-kupu. plot yang agak lambat namun padat, pembaca diajak memahami perbedaan antara agama-agama barat dengan timur (hindu budha, konghucu, tao, shinto dan agama lokal. (semacam pangestu, parmalim, kaharingan?).

rupanya perbedaan itu terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing agama. agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. nol. harmoni yang menghargai kontras (yin yang). dimana dalam yang satu selalu ada yang lain.

sebaliknya monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah satu. monoteisme memandang orang lain tampak seperti hidup dalam kegelapan dan penderitaan sehingga membutuhkan terang mereka. mereka melihat orang lain tampak seperti iblis sehingga boleh diperangi.

bagi mereka yang memilih agama langit daripada agama bumi, ia menawarkan bentuk keyakinan baru, spiritualisme kritis. kritis terhadap kebenaran yang dibawakan setiap agama. intinya jangan pernah mau menjadi budak kitab suci manapun.

kebenaran biarlah berada di langit. kelak kita akan mengetahui misteri itu. namun saat ini bumi membutuhkan kebaikan kita. maka sebaiknya kita berbuat baik kepada bumi, karena langit tak butuh belas kasih kita.

pada novel ini, ayu sangat bersemangat mengenalkan vocab yang jarang dipakai orang sejak dari bab pertama. bahkan beberapa tak kutemukan di tesaurus : dekis, retis. darimana ia mencipta kata-kata itu? lainnya yang kuingat: mendebik, miang, berjerangut, lihap, cedok, menyintas, membeting, wadat, menyalut, terpelecok, mengempal, orak, mengajuk, bergoler-goler dan dubuk.

ada roman (yang bukan picisan) asmara ketiga tokohnya, kita akan menemukan arti cinta yang aneh. yuda mencintai marja (cewek) dan parang jati. marja mencintai yuda dan parang jati. parang jati mencintai yuda dan marja. tak ada rasa cemburu, karena mereka tak ingin saling menguasai.

source: http://fanabis.blogsome.com

Related Posts by Categories



  1. 0 komentar: Responses to “ Book Review: Bilangan Fu (1) ”

Post a Comment

Thanks for your comment. I will reply your comment as soon as possible. I wonder if you would keep contact with this blog.

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google