The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Review Bilangan Fu: Manifesto Spiritualitas Ayu (2)

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar.

Kesadaran dasar ini juga akan membantu kita memandang semua sarana untuk mencari Tuhan secara proporsional. Sesuci apapun sebuah ayat, tak lebih dari sebuah wahyu, dan bukan kebenaran itu sendiri. Tidak perlu kita berkelahi meributkan rumusan-rumusan ayat kitab suci yang isi atau tafsirannya berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain, karena jika demikian kita menganggap rumusan wahyu itu sebagai Tuhan sendiri.

Tokoh protagonis Parang Jati dalam novel terbaru Ayu Utami adalah sosok yang mewakili bentuk penghayatan spiritualitas yang menghargai (respek) pada orang lain dan lingkungannya. Bahwa kita seharusnya berinteraksi dengan segala sesuatu di luar diri kita (manusia dan lingkungan) dengan sikap welas asih dan tidak memaksa. Sikap ini dipertentangkan dengan sikap tokoh antagonis Kupukupu, yang karena selalui dihantui rasa tidak aman dan belum selesai dengan eksistensi dirinya, menafsirkan rumusan ayat-ayat dalam Kitab Suci secara matematis, dan menggunakannya untuk menghakimi semua orang yang dianggap menyimpang dari rumusan tersebut.

Seperti dalam dua novel terdahulu (Saman dan Larung), dalam novel ini kita masih bisa merasakan kelincahan Ayu dalam memainkan kata-kata sehingga terlahir ungkapan-ungkapan puitis yang pada titik-titik tertentu melahirkan letupan keindahan laksana kembang api di angkasa. Berbeda dari dua novel terdahulu, dalam novel ini Ayu lebih kontemplatif dan lebih mendalam, tanpa terjebak menjadi nyinyir. Tidak heran Ayu sendiri menamai novel ini sebagai manifestonya tentang spiritualitas kritis.

Memang ada sedikit yang terasa mengganggu menyangkut kutipan-kutipan berita dari surat kabar yang tidak bersesuaian dalam waktu dan tempat dengan kejadian sebenarnya, sekilas terkesan dicocok-cocokkan. Namun kita harus selalu ingat bahwa bagaimanapun kisah ini adalah fiksi (rekaan), bukan fakta sejarah.

Bagaimanapun sebagai sebuah karya, novel ini memenuhi syarat keindahan (menggetarkan jiwa), simbolisme (apa yang terjadi di Watugunung merupakan miniatur dari kejadian secara nasional dan internasional, menyangkut modernisasi yang eksploitatif terhadap alam dan perlawanan antara kaum fundamentalis dan moderat agama), dan sebuah pernyataan sikap pengarang terhadap itu semua. Atas pertimbangan itu semua, novel ini bisa digolongkan dalam karya sastra.

Kita tunggu apakah novel ini akan mendapat penghargaan sastra seperti novel pertama Saman.

-----------
the review above was written by gagang_aking, member of www.bukukita.com forum

Read More......

Book Review: Bilangan Fu (1)

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

baiklah, akan aku ceritakan pengalaman membaca novel keren terbaru ayu utami, bilangan fu. sampai pada lembar terakhir aku merasa tak mendapatkan "imbalan" seperti pada novel kebanyakan. malahan ia menyisakan pertanyaan yang menteror.

aku sadar betul, ayu utami bukanlah penulis yang sebatas ingin memberikan penghiburan dan kepuasan kepada pembacanya. namun ia menawarkan suatu pemikiran baru mengenai spiritualisme.

masih sering kita melihat praktek-praktek upacara pemujaan dan persembahan (sesajen) kepada batu atau pohon di daerah-daerah yang masih memelihara takhayul. sebagian besar orang menganggapnya kuno, kampungan dan tak intelek. ada yang menilai sebagai bentuk perbuatan terkutuk yang menduakan Tuhan.

ayu utami memahaminya lain. melalui novelnya ia ingin mengatakan, agama-agama langit telah gagal menyelamatkan alam. agama bumilah yang secara sistematis memelihara alam. sayangnya agama-agama bumi ini telah terlindas nilai-nilai baru: modernisme dan monoteisme.

dengan setting watugunung (pegunungan kapur) dengan para pemanjat tebingnya, ayu sangat piawai meramu dan mengolah perbenturan dua keyakinan melalui kedua tokohnya: parang jati dan kupu-kupu. plot yang agak lambat namun padat, pembaca diajak memahami perbedaan antara agama-agama barat dengan timur (hindu budha, konghucu, tao, shinto dan agama lokal. (semacam pangestu, parmalim, kaharingan?).

rupanya perbedaan itu terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing agama. agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. nol. harmoni yang menghargai kontras (yin yang). dimana dalam yang satu selalu ada yang lain.

sebaliknya monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah satu. monoteisme memandang orang lain tampak seperti hidup dalam kegelapan dan penderitaan sehingga membutuhkan terang mereka. mereka melihat orang lain tampak seperti iblis sehingga boleh diperangi.

bagi mereka yang memilih agama langit daripada agama bumi, ia menawarkan bentuk keyakinan baru, spiritualisme kritis. kritis terhadap kebenaran yang dibawakan setiap agama. intinya jangan pernah mau menjadi budak kitab suci manapun.

kebenaran biarlah berada di langit. kelak kita akan mengetahui misteri itu. namun saat ini bumi membutuhkan kebaikan kita. maka sebaiknya kita berbuat baik kepada bumi, karena langit tak butuh belas kasih kita.

pada novel ini, ayu sangat bersemangat mengenalkan vocab yang jarang dipakai orang sejak dari bab pertama. bahkan beberapa tak kutemukan di tesaurus : dekis, retis. darimana ia mencipta kata-kata itu? lainnya yang kuingat: mendebik, miang, berjerangut, lihap, cedok, menyintas, membeting, wadat, menyalut, terpelecok, mengempal, orak, mengajuk, bergoler-goler dan dubuk.

ada roman (yang bukan picisan) asmara ketiga tokohnya, kita akan menemukan arti cinta yang aneh. yuda mencintai marja (cewek) dan parang jati. marja mencintai yuda dan parang jati. parang jati mencintai yuda dan marja. tak ada rasa cemburu, karena mereka tak ingin saling menguasai.

source: http://fanabis.blogsome.com

Read More......

Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman' tersebut.

Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.

Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku 70 eksemplar lebih.

Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang perempuan bernama Marja.

Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai 'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.

Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang? Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:

Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?

Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.

Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat tebing-tebing.

Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.

Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?

Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi. Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara beragama yang terlalu formalistis.

Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.

Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama ingin mencapai puncak.

Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat, bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak. Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.

Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.

Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.

Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang tidak memaksa.

Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?

Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha, karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan cara berbeda.

Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?

Masih.

Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?

Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan. Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.

Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi hatinya memang baik saja.

Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?

Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi saya selalu siap jika novel saya tidak laris.

Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.

Apa istimewanya Bilangan Fu?

Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung, adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba, dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.

Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik, fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis yang saya rasakan di zaman itu.

Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan. Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.

Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.

Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?

Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.

Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi. Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.

Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?

Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal (halamannya). Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.

Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?

Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu tidak puas.

Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9 bulan penulisan bentuk terakhir.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
Buku yang ditulis:

Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu

Read More......

The spiritual side in Ayu Utami latest book

Written by eastern writer on Thursday, July 17, 2008

The Indonesian Edition

Title: Bilangan Fu
First Edition: June 2008
Published by: Kepustakaan Gramedia (KPG)
Size: 13.5 x 20 cm
Price: Rp 60,000


Celebrated author Ayu Utami shares her thoughts on her latest book, Bilangan Fu (The Fu Numeral), at her house in Central Jakarta. She moves fluidly between subjects, from critical spiritualism to rock climbing and her partner in life, Erik. I even get treated to a dance with the couple's beautiful dog, Alpo.

I arrive at Ayu's house in Utan Kayu area at noon on a Monday. The men hanging around street outside tell me the doorbell is behind the brick wall, next to the rustic Balinese wooden door.

Peeking out from behind the wall is a man who flashes me a smile as he opens the door.

This is Ayu's partner, Erik Prasetya: freelance photographer, Jakarta Institute of Arts lecturer, rock climber and inspiration for her new book, due for release next month. Just behind him is the writer herself.

The two look 10 years younger than their years. Ayu, who will turn 40 in July, is slender in dark jeans, with a purple tank top showing off her toned biceps. Her skin, tanned from her 10 to 15-kilometer runs, glows. She wears her thick wavy hair down and looks beautiful with little makeup.

Erik has reached the ripe age of 50. Spectacles perch on his nose and I catch a glimpse of silver grays in his short hair. Dressed in a black-and-white batik sarong and gray sleeveless shirt, he looks in good shape, thanks to a disciplined fitness regimen.

They show me into the study and Ayu offers me dim sum to eat. I tell her I am a vegetarian and she disappears to the kitchen.

The study is spacious and opens onto other rooms. A tall white cabinet filled with books stands along one part of a wall. In front of the cabinet sits an antique desk with a laptop. A wooden art installation hangs from the high ceiling.

As I sit, a beautiful creature with big eyes and long eyelashes hops forward and rests its front legs on my lap. This is the couple's dog Alpo.

"Back up a little," Erik tells me. "She can stand on her feet and dance."

It is true. Alpo is not only beautiful -- she really can dance.

Ayu returns from the kitchen with a jug of water and a plate of tasty homemade energy bars, and we sit in wooden chairs in the middle of the study to get down to talking.

Right away, Ayu launches into an explanation of the concept of the fu numeral, which is the essence of her new book. She talks fluently, the words and sentences flowing freely from her lips.

Ayu is characterized by a mixture of sound historical knowledge, a healthy dose of free imagination and a critical way of thinking. This mixture led her to the concept of the fu numeral.

"The fu numeral is something that I've formulated. It's a number that has the properties of both one and zero. It's not a mathematical numeral, but a metaphorical numeral; not a rationalistic numeral but a spiritual numeral," she says.

"I use this to criticize monotheism."

With this last statement, her voice takes on a stern edge.

In the background, Erik, his legs resting on an exercise ball, is nodding off to sleep.

"I feel quite happy with my formulation," she says with a laugh.

And with another laugh: "I feel quite a genius with my discovery."

Ayu thinks monotheistic traditions understand the concept of one in an overly mathematical way, "whereas monotheism actually developed before the number zero was conceptualized".

To understand Ayu's concept of the fu numeral, it is first necessary to understand the history of religious development and the history of numerical development.

The concept of one god in the monotheistic tradition that started with Abraham around 4,000 B.C. emerged before the concept of zero was incorporated into the numerical system. The concept of zero or nil was first discovered in India around the fifth century.

"There, the concept of nil came from the concept of sunya or emptiness. The concept of a holistic divinity in the Eastern tradition is conceptualized into nil, while in the Semitic tradition it's conceptualized as one," she says.

"The numeral one, which monotheistic traditions use to define god, is actually one that is whole. However, we've come to understand the concept of one in a very mathematical sense since zero was discovered, which has resulted a very mathematical monotheist belief."

She incorporates this concept of the fu numeral in her book, along with "critical spiritualism", another concept she developed, by telling the story of a skeptical rock climber named Yuda.

By "critical spiritualism", Ayu means attempting to use our mind, living on Earth with our bodies and struggling against the urge to surrender to fatalistic faith.

"After we struggle to the very final moment and realize that we cannot grasp the ineffable, then yes, we surrender," she says.

This critical spiritualism is reflected her own spiritual journey. Raised in a Catholic tradition, she grew up despising religion. She became an atheist in her 20s, rejecting all religious values.

As she entered her 30s, she says, she came to view religion in a different light.

"I see in religion humanity's attempt for dialogue. Scriptures cannot be read literally, but have to be read contextually and metaphorically.

"Religion can renew itself. It's like a historical reality. In the end, what is important is not what is true, but what we do on Earth. Truth will always be delayed -- what's important is kindness," she says.

The spiritual Bilangan Fu has a different emphasis to her previous books Saman and Larung, which dealt with sexuality. What they do have in common is that they serve as a social critique.

Saman, released in 1998 just months after the toppling of former president Soeharto, was a critique of the hypocritical patriarchal society and repressive New Order Regime. Its sequel Larung shared the same broad themes.

Bilangan Fu is a critique of the growing power of religious fundamentalists, such as the Islam Defenders Front, and the increasing violence toward religious minorities over the past 10 years.

Both Ayu and Erik have signed the National Alliance for Freedom of Religion and Belief.

"In the past 10 years, people have been interpreting religion in a very shallow and fatalistic way. Religion is used to give life to power, or people are lured to the powerful side of religion. It's a sad development," she says.

Ayu dedicated Bilangan Fu to Erik. She was inspired to write a novel about rock climbing because of him. Once an avid climber, Erik stopped for 14 years after the death of his best friend in a rock climbing accident.

"When I first started going out with Erik, I didn't do any rock climbing, and neither did Erik, because of his trauma. But he kept telling me all these stories about rock climbing. I thought, why are you telling all these stories if you don't even do it anymore?" she says.

"So I decided to write a book about it."

By this time, Erik has woken from his doze. He joins us at the table and places his hands behind his head.

"I dedicated this book to Erik. This is a way for me to picture him in his youth with his late best friend and his girlfriend who left," she says, looking at him with a smile.

She started to learn rock climbing in late 2003, after which Erik returned to the sport.

"The first time back was magical. It all came back, the smell, the feel of the wind," Erik says.

They now have their own climbing wall in their house.

According to Ayu, Bilangan Fu was her hardest book to write, taking her around four and a half years to finish.

"There was so much that I wanted to say, my concepts of the fu numeral and critical spiritualism, but I didn't want that to ruin the structure of the story. Finding a simple structure for a complex matter is the hard part," she says.

"I saw her struggle to put her ideas into her book," Erik chimes in.

"It was not easy, and there were times she despaired and even said that her ideas could not be put into a book. But then she found her way."

Ayu likens writing to rock climbing.

"In rock climbing, a good climber should climb clean, which means we have to find a natural path, we can't destroy the rocks. That was my principle in writing as well -- if we can't find one path, we choose another," she says.

"And in desperate times we usually find the way."

Image: www.khatulistiwa.net
artcile: The Jakarta Post

Read More......

Heteronormatifitas dan Falosentrisme Ayu Utami

Written by eastern writer on Monday, May 19, 2008

by Katrin Bandel*

NOVEL Ayu Utami, Saman (1998) dan Larung (2001), sering disebut sebagai contoh karya dengan ciri "keterbukaan baru" dalam membicarakan seksualitas. Pada bagian-bagian novel yang menceritakan keempat tokoh perempuan-Shakuntala, Laila, Yasmin, dan Cok-seks menjadi tema utama. Perilaku seksual yang diceritakan hampir sepenuhnya bertentangan dengan norma masyarakat (Indonesia), dalam arti bukanlah hubungan heteroseksual yang disahkan oleh surat nikah.

SHAKUNTALA memiliki kecenderungan biseksual, Laila jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah menikah tapi akhirnya berhubungan seks dengan Shakuntala, Yasmin mengkhianati suaminya dengan sekaligus "memurtadkan" seorang pastor, lalu mewujudkan fantasi sadomasokisnya dengan bekas pastor tersebut, dan Cok gemar berganti-ganti pasangan. Kiranya tidak salah menyimpulkan dalam kedua novel tersebut, seksualitas direpresentasikan dengan cara provokatif.

Representasi perilaku dan orientasi seksual yang demikian beragam dan gugatan terhadap stereotip perempuan yang pasif dengan mudah dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa novel Ayu Utami jauh dari nilai heteronormatif dan falosentris, atau bahwa Ayu berhasil menciptakan representasi seksualitas yang berbeda ("lebih perempuan") daripada yang kita kenal selama ini (di Indonesia). Apalagi ide-ide yang diungkapkan tampak begitu up-to-date karena sepertinya sengaja disesuaikan dengan teori-teori mutakhir. Dalam teori pascastrukturalis maupun feminis, cara berpikir tertentu yang banyak dikritik, misalnya kepercayaan pada kebenaran yang tunggal, hierarki yang kaku dan pandangan humanis tentang individu yang bebas dan mandiri, sering dihubungkan dengan maskulinitas dan patriarki. Dan femininitas dalam tulisan beberapa pemikir seperti Luce Irigaray dan Hélène Cixous menjadi semacam konsep alternatif yang dipertentangkan dengan maskulinitas yang dominan itu.

Salah satu adegan novel Ayu Utami yang tampaknya terpengaruh oleh konsep-konsep tersebut adalah bagian novel Larung, di mana Shakuntala membandingkan sikap hidupnya sendiri dengan sikap hidup abangnya. Penggambaran sifat si abang itu merupakan semacam karikatur maskulinitas dalam pemahamannya yang paling negatif: Si abang selalu berusaha membuktikan diri, "mencoba segala hal hingga maksimal" (Larung, 141), khususnya dalam dua wilayah yang "khas laki-laki": kemampuan berereksi dan kebolehan membawa sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Mengenai latihan ereksi abangnya, dengan nada sedikit mengejek Shakuntala mengatakan, "ia bisa menyuruh-nyuruh bagian-bagian tubuhnya seperti seorang komandan memerintah batalyon dan kompi" (Larung, 140). Perbandingan dengan dunia militer ini pun tentu merupakan unsur konstruksi maskulinitas yang sangat sesuai dengan stereotip negatif yang ingin dibangkitkan di sini. Di samping itu, si abang memiliki kepercayaan pada akal yang amat berlebihan, yakin "bahwa akal akan menaklukkan badan" (Larung, 139), dan bahkan "tak mau percaya bahwa ada otot sadar dan otot tak sadar. Semua otot adalah sadar, ia bersikeras" (ibid). Berkat latihannya, dengan kekuatan akal (yaitu dengan mengulang-ulang kata ngaceng) dia dapat memerintah alat vitalnya untuk berdiri. Pendek kata, tokoh abang Shakuntala tampil sebagai wujud atau lambang falosentrisme par excellence yang akhirnya cuma menghasilkan kematiannya (Larung, 141-142).

Berseberangan dengan sikap abangnya, bagi Shakuntala "keputusan-keputusanku diperintah oleh dorongan tubuh untuk menari. Sebab bagiku menari adalah menjadi. [...] Tubuhku hanya ingin menjadi. Tapi apa salahnya menjadi tidak genap?" (Larung, 140). Dalam sebuah esai berjudul "Membantah Mantra, Membantah Subjek" di jurnal Kalam (edisi 12, 1998) Ayu Utami secara langsung menghubungkan sikap tokoh Shakuntala dalam novel Saman dengan sikapnya sendiri sebagai pengarang. Ayu mengatakan, "Mengarang, bagi saya, adalah kesediaan melibatkan, meleburkan diri, dan menerima kemungkinan- kemungkinan yang tak direncanakan". Ini mirip dengan ungkapan Shakuntala di atas. Dengan pilihannya untuk "menjadi tidak genap" (seperti novel Ayu yang diterbitkan sebagai "fragmen"), biseksualitasnya dan pemberontakannya terhadap nilai-nilai patriarkal, Shakuntala menjadi semacam tokoh perempuan ideal yang sekaligus melambangkan "filsafat posmo" yang dipilih Ayu sebagai kredo kepengarangannya.

Dalam esainya, Ayu menyatakan dia "sengaja" memilih cara penulisan tertentu: memilih menulis "novel polifonik" dengan "diksi yang berbeda bagi masing-masing Aku". Namun, dia juga mengakui bahwa "novel itu tidak sepenuhnya menurut padaku", kadang cerita berkembang di luar rencananya sendiri. Pengakuan ini tentu sama sekali bukan sesuatu yang luar biasa. Bahwa dalam menulis ada hal-hal yang dengan sadar diatur dan diciptakan, dan ada pula yang timbul begitu saja tanpa sengaja, merupakan pengalaman yang pasti dikenal hampir setiap pengarang. Yang perlu dicurigai adalah penilaian yang secara implisit terkandung dalam ungkapan Ayu tentang pengalaman mengarangnya tersebut. Bukan saja dengan sangat percaya diri dia menilai novelnya sendiri sebagai "novel polifonik" (yang berarti memuji diri sendiri sebagai "pembaharu", pembawa gaya tulis yang masih belum lumrah di Indonesia), juga ceritanya mengenai perkembangan alur novel yang di luar rencana semula terkesan amat tidak kritis.

Menurut pengakuannya, pada titik tertentu tokoh-tokoh novelnya seakan- akan mulai memiliki hidup dan kemauannya sendiri sehingga sebagai pengarang dia "terpaksa takluk [p]ada ciptaannya". Meskipun menggunakan kata terpaksa, cukup jelas bahwa dia tidak menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang negatif. Malah, timbul kesan bahwa dia sangat membanggakannya. Sepertinya dia merasa tidak perlu bersikap kritis terhadap bagian teks yang muncul "di luar rencana" itu, seakan-akan apa yang mengalir dari tangannya bersumber pada semacam "jenius" di kedalaman dirinya yang tak perlu diragukan. Padahal, dalam esai yang sama, bahkan pada alinea yang sama, dia merujuk pada pemikiran Roland Barthes tentang matinya sang Pengarang!

SAYA tidak percaya pada "jenius" semacam itu. Namun, saya yakin bahwa dalam setiap teks pasti ada hal-hal yang disampaikan secara eksplisit, dan ada yang ikut tersampaikan dengan tersembunyi atau tanpa sengaja. Menurut pengalaman saya, hubungan antara kedua jenis "isi teks" itu sering penuh ambivalensi. Misalnya dalam sebuah novel dengan pesan yang jelas mungkin saja kita menemukan bagian yang secara agak tersembunyi justru berlawanan dengan pesan tersebut. Ambivalensi semacam ini biasanya sangat menarik disoroti dan diteliti, dan itulah yang ingin saya lakukan dalam esai ini.

Dalam hal representasi seksualitas, novel Ayu Utami memiliki pesan yang cukup eksplisit seperti yang sudah saya sebut di atas: membicarakan seks dengan keterbukaan yang provokatif, memprotes stereotip pasif perempuan, menolak falosentrisme pada umumnya, mengakui orientasi seksual yang plural. Namun, ambivalensi tak terlalu sulit dicari. Berikut ini saya akan mengemukakan beberapa hal yang justru bertentangan dengan pesan eksplisit tersebut.

Dalam representasi hubungan homoseksual antarperempuan, lesbianisme, novel Saman/Larung ternyata justru mereproduksi stereotip yang sangat tidak menguntungkan bagi perempuan, khususnya lesbian. Tokoh Laila digambarkan sebagai seorang perempuan yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan menjadi seorang lesbian. Dia heteroseksual 100 persen. Namun, saat sedang patah hati karena dikecewakan pacarnya, dia tidak menolak didekati secara seksual oleh Shakuntala. Hubungan seks antara kedua perempuan itu pun terjadilah. Stereotip yang direproduksi di sini adalah anggapan bahwa perempuan cenderung menjadi lesbian karena dikecewakan laki-laki. Di samping itu, sebuah prasangka lain yang sering kita dengar tampaknya justru dibuktikan benar di sini: kekhawatiran bahwa lesbianisme dapat "menular" sehingga berbahayalah bagi perempuan "normal" (baca: heteroseksual) seperti Laila bergaul dengan orang seperti Shakuntala.

Alasan Shakuntala mengajak Laila bercinta adalah untuk mengajari kawannya itu mengenal tubuhnya sendiri. Menurut penilaian Shakuntala, Laila belum pernah mengalami orgasme dan keadaan itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama. Argumentasi ini terasa janggal bagi saya: bukankah untuk mengenal tubuhnya sendiri dan mengalami orgasme seorang perempuan tidak mesti berhubungan seks, apalagi melakukan hubungan seks yang tidak sesuai dengan orientasi seksualnya sendiri? Kalau Laila memang begitu lugu atau kaku sehingga dia tidak berinisiatif mengeksplorasi tubuhnya sendiri, bukankah cukup kalau Shakuntala menyarankan padanya mencoba masturbasi, seperti yang dilakukan tokoh Lara pada Mei dalam situasi yang serupa dalam novel Tujuh Musim Setahun karya Clara Ng (2002)?

Meskipun hampir seluruh kisah keempat sahabat Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin itu berkisar pada pengalaman seksual mereka, masturbasi hampir tidak pernah disebut, paling tidak masturbasi yang dilakukan perempuan. Misalnya pada bagian akhir Saman yang terdiri dari surat-e Yasmin dan Saman, Saman memberitahukan bahwa dia masturbasi, dan Yasmin membalas bahwa dia membayangkan Saman pada saat dia melakukan hubungan seks dengan suaminya (Saman, 195)-hanya tokoh laki-laki yang masturbasi!

Absennya masturbasi tersebut dapat dihubungkan dengan sebuah gejala lain yang terdapat pada representasi kenikmatan seksual dan orgasme perempuan dalam novel Saman/Larung. Dalam buku hariannya, tokoh Cok menceritakan pengalamannya ketika sebagai murid SMA dia mulai berhubungan seks. Karena tidak mau kehilangan keperawanannya, pada awalnya hubungan dengan pacarnya berbentuk masturbasi sang pacar dengan payudara Cok dan seks anal. "Lalu kupikir-pikir, kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? Enak di dia nggak enak di gue", begitu kesimpulan Cok mengenai pengalaman itu dan dia pun memutuskan berhenti menjaga keperawanannya (Larung, 82-83). Di sini timbul kesan dalam hubungan heteroseksual, perempuan hanya dapat merasa nikmat dan mencapai orgasme apabila terjadi koitus, sedangkan laki-laki punya alternatif lain mencapai orgasme. Hal yang sama terjadi pada Laila saat dia berhubungan seks dengan pacarnya, Sihar, tanpa penetrasi. Di sini pun Sihar orgasme, sedangkan Laila tidak (Saman, 129-130; Larung, 120). Seperti juga masturbasi, praktik seks di luar koitus hanya monopoli laki-laki.

Lalu bagaimana dengan hubungan seks yang terjadi antara Shakuntala dan Laila? Jelas di sini tidak terjadi koitus, dan praktik seksual yang saya sebut sebagai monopoli laki-laki dalam hubungan heteroseksual di atas mestilah digunakan oleh kedua perempuan itu. Namun, justru adegan ini diceritakan dengan sangat singkat dan kabur. Dengan "kesopanan" yang terasa janggal dalam sebuah karya yang begitu "terbuka" mengenai seks di bagian-bagian lainnya, narasi diputuskan pada saat Shakuntala membuka baju dan mulai berdekatan dengan Laila (Larung, 132 dan 153). Narasi kemudian malah dilanjutkan dengan cerita metaforis mengenai vagina sebagai bunga karnivora: cerita yang justru mempersoalkan hubungan seksual antara perempuan dan laki-laki. Hanya kalimat terakhir yang mungkin dapat dibaca sebagai semacam keterangan mengenai apa yang terjadi antara Shakuntala dan Laila: "Tapi klitoris bunga ini tahu bagaimana menikmati dirinya dengan getaran yang disebabkan angin" (Larung, 153).

Apa perlunya "pengaburan" semacam itu? Mengapa misalnya cara abang Shakuntala melatih ereksinya diceritakan dengan begitu gamblang, sedangkan untuk mendeskripsikan rangsangan pada klitoris saja diperlukan metafora aneh yang kurang mengena tentang "angin" yang menggetarkannya!

Bahwa cerita tentang bunga karnivora ditempatkan pada adegan itu bukanlah sebuah anakronisme. Setelah Shakuntala memutuskan bahwa Laila perlu diberi "pelajaran seks" sebelum menemui Sihar lagi, dia melanjutkan: "Setelah itu kamu [Laila-Pen] boleh pergi: Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora...". Artinya, lewat hubungan seks antarperempuan, Shakuntala bermaksud mengajari Laila mengenai hakikat hubungan seks "secara umum", dan yang dimaksudkan dengan seks "secara umum" itu adalah hubungan heteroseksual. Heteronormatifitas yang tampak sangat jelas dalam adegan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Laila tertarik pada sisi maskulin dalam diri Shakuntala, dan pada saat hubungan seks dimulai, Laila "tak tahu lagi siapa dia. Apakah Tala apakah Saman apakah Sihar" (Larung, 132). Hubungan homoseksual di sini sekadar semacam variasi dari heterosexual matrix.

Metafora bunga karnivora dapat dipahami sebagai gugatan terhadap stereotip kepasrahan perempuan. Perempuan yang sering diibaratkan bunga yang madunya diisap kumbang, yaitu sebagai pihak yang pasif, di sini disulap menjadi pihak yang aktif sebagai bunga pengisap "cairan dari makhluk yang terjebak dalam rongga di balik kelopak-kelopaknya yang hangat". Namun, di sisi lain, di sini pun sekali lagi ejakulasi laki-laki menjadi pusat segala kenikmatan: "Otot-ototnya yang kuat [...] akan memeras binatang yang masuk, dalam gerakan berulang-ulang, hingga bunga ini memperoleh cairan yang ia hauskan. Nitrogen pada nepenthes. Sperma pada vagina." (Larung, 153). Vagina yang haus akan sperma: inikah representasi seks versi perempuan, versi yang tidak falosentris?

Dilihat dari segi biologis, representasi tersebut bisa dikatakan tidak sesuai dengan anatomi tubuh dan fungsi seksual perempuan. Dalam merasakan kenikmatan seksual dan mencapai orgasme ketika berhubungan seks, bagi seorang perempuan semprotan sperma ke dalam vagina jelas tidak terlalu berpengaruh, atau mungkin bahkan bisa dikatakan tidak berarti sama sekali. Misalnya kalau si laki-laki belum berejakulasi atau berejakulasi ke dalam kondom, hal itu tentu tidak menjadi halangan bagi pasangannya untuk mencapai orgasme.

Yang mengganggu pada gambaran stereotipikal tentang perempuan sebagai bunga adalah implikasi yang timbul karena gambaran itu diambil dari alam. Bunga sudah secara alami diam di tempat, jadi dalam penggunaan gambaran semacam itu terdapat asumsi bahwa sifat pasif pada perempuan merupakan sifat alami (kodrat). Ayu Utami mengganti bunga yang pasif itu dengan jenis bunga yang ganas dan aktif, tapi cerita mengenai "kehausan" bunga itu akan cairan kembali membawa kita pada persoalan kodrat. Bukankah akhirnya kontraksi otot vagina (yang terjadi ketika perempuan mengalami orgasme) terkesan sebagai semacam "naluri alam" untuk mengisap sperma, dalam arti bahwa orgasme perempuan terjadi bukanlah demi kenikmatan, tapi demi masuknya sperma ke dalam rahim, atau dengan kata lain: demi kelanjutan umat manusia?

CERITA mengenai vagina sebagai bunga karnivora menghubungkan kenikmatan, orgasme perempuan dengan ejakulasi laki-laki. Namun, bukankah setiap perempuan menyadari bahwa tanpa "diperas" sekalipun, "binatang bodoh tak bertulang belakang" itu tetap akan memuntahkan cairannya-dengan kata lain, pengibaratan vagina sebagai bunga karnivora sekadar sebuah permainan imaji yang tidak sesuai dengan realitas pengalaman perempuan?

Representasi seksualitas dalam novel Saman/Larung berpusat pada hubungan heteroseksual, khususnya pada koitus. Kecenderungan itu bahkan dapat ditemukan pada representasi tingkah laku seksual yang jauh menyimpang dari norma, yaitu hubungan sadomasokis Yasmin dengan Saman. Dilihat secara sekilas, di sini sekali lagi kita menemukan pemberontakan atau pemutarbalikan terhadap relasi kekuasaan laki-laki-perempuan yang normatif: Yasmin mengambil peran sebagai penyiksa, Saman sebagai korban.

Kutipan berikut ini adalah deskripsi Yasmin tentang pengalaman itu dalam sebuah suratnya kepada Saman: "Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia menginterogasi mata-mata yang tertangkap. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu, atau membiarkan kamu tak memperolehnya, membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harafiah" (Larung, 157).

Meskipun permainan ini jauh dari imaji normatif tentang persetubuhan, toh sekali lagi pusatnya adalah koitus. Dan siksaan yang diceritakan dengan paling rinci dan jelas adalah penundaan atau pencegahan orgasme Saman, sehingga timbul kesan bahwa coitus interuptus menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi seorang laki-laki. Penderitaan itu terkesan jauh lebih hebat daripada misalnya penderitaan Laila atau Cok yang terangsang dan birahi, namun tidak mencapai orgasme dalam permainan seks, seperti yang disebut di atas. Ternyata dalam hubungan seks yang didominasi oleh seorang perempuan ini pun koitus digambarkan sebagai satu-satunya cara berhubungan seks, dan orgasme laki-laki menjadi pusat perhatian. Apakah Yasmin mencapai orgasme sama sekali tidak dipersoalkan.

Di samping Shakuntala, Laila, Yasmin, dan Cok, masih ada seorang tokoh perempuan lain yang tingkah laku seksualnya dipersoalkan cukup rinci. Tokoh yang saya maksudkan adalah Upi, seorang gadis cacat mental yang diberi perhatian khusus oleh Romo Wis (Saman). Tokoh Upi mungkin dapat dianggap cukup penting bagi representasi seksualitas dalam novel Ayu. Karena cacat mental, Upi menjadi semacam wujud seksualitas yang tak terkekang, yang "alami". Bahwa birahi Upi dipahami terutama sebagai persoalan alam atau persoalan biologis, terlihat misalnya pada deskripsi Upi sebagai gadis "yang mentalnya tersendat namun fisik dan estrogen dan progesteronnya tumbuh matang" (Saman, 76-77), juga pada keterangan ibu Upi bahwa sang gadis biasanya mengalami semacam masa birahi, yaitu dia menjadi beringas kira-kira seminggu sebelum haid (Saman, 71).

Representasi seksualitas yang "alami" tersebut dalam beberapa hal tidak jauh dari seksualitas tokoh perempuan yang lain. Upi mencari kepuasan seksual secara aktif dan agresif seperti Cok dan Shakuntala, dan dia menggabungkan pemuasan birahi dengan tindakan penyiksaan seperti Yasmin, yaitu penyiksaan terhadap binatang. Namun, ada hal yang khas pada representasi seksualitas Upi: gadis itulah satu-satunya perempuan yang diceritakan beronani. Masturbasi dilakukannya dengan cara menggosokkan selangkangannya pada pohon, tiang listrik, pagar atau sudut tembok (Saman, 68, 71-72), dan selain itu dia gemar "memerkosa" binatang. Tidak diterangkan dengan rinci apa yang dimaksudkan dengan "memerkosa" di sini, hanya satu kasus yang digambarkan dengan jelas, yaitu "ia mengempit seekor bebek di pangkal pahanya sambil mencekik leher binatang itu" (Saman, 71-72).

Seksualitas Upi awalnya digambarkan seperti ini: "Gadis itu terkenal di kota ini karena satu hal. Dia biasa berkeliaran di jalan-jalan dan menggosok-gosokkan selangkangannya pada benda-benda [...] seperti binatang yang merancap. Tentu saja beberapa laki-laki iseng pernah memanfaatkan tubuhnya. Konon, anak perempuan ini menikmatinya juga. Karena itu, kata orang-orang, dia selalu saja kembali ke kota ini, mencari laki-laki atau tiang listrik" (Saman, 68).

Di sini timbul kesan bahwa pada awalnya Upi tidak birahi pada laki-laki, tingkah laku seksualnya berfokus pada tubuhnya sendiri. Seks baginya bukan interaksi dengan orang lain, melainkan stimulasi tubuhnya sendiri yang memberi kenikmatan. Segala macam rangsangan psikologis yang biasanya sangat berpengaruh dalam perilaku seksual manusia yang sehat mental tampaknya tak begitu penting baginya. Seksualitasnya sepenuhnya persoalan tubuh. Dan hubungan seks dengan laki-laki yang kemudian terjadi atas inisiatif para laki-laki yang birahi dinikmatinya bukan karena sifat hubungan pribadinya dengan laki-laki itu, tetapi semata-mata karena rangsangan seksual yang diterimanya.

Namun, interpretasi dan intervensi yang kemudian dilakukan Romo Wis sangat jauh dari gambaran awal tentang seksualitas Upi tersebut. Karena kelakuan Upi kadang-kadang agresif dan membahayakan orang lain, keluarganya menguncinya dalam sebuah bilik. Wis pun tidak mampu mencari solusi lain-pengobatan di rumah sakit terlalu mahal-tapi dia memutuskan untuk meringankan penderitaan Upi dengan membuatkan "penjara" yang lebih luas dan bersih untuknya. Dalam pembuatan tempat tinggal Upi itu, kebutuhan seksual Upi juga diperhatikan. Wis mengenal tingkah laku seksual Upi (kutipan di atas adalah cerita seseorang padanya), dan dia sendiri pun pernah dikagetkan oleh pendekatan seksual Upi: Upi tiba-tiba meraba kemaluannya (Saman, 76). Sebagai "solusi", tempat tinggal Upi yang baru dilengkapinya dengan sebuah patung yang dipresentasikannya kepada Upi dengan kata-kata berikut: "Upi! Kenalkan, ini pacarmu! Namanya Totem. Totem Phallus. Kau boleh masturbasi dengan dia. Dia laki-laki yang baik dan setia." (Saman, 78).

Kalau pada awalnya masturbasi digambarkan sebagai perilaku seksual Upi yang utama, sedangkan seks dengan laki-laki hanya kebetulan dikenalnya, maka dalam ucapan Wis ini kita temukan asumsi bahwa seksualitas Upi adalah birahi pada laki-laki. Masturbasi mengalami degradasi, dalam arti: masturbasi hanya menjadi pengganti seks yang "sungguhan", seks dengan seorang laki- laki. Anehnya, meskipun konon dibuat untuk keperluan masturbasi, patung itu tidak dilengkapi alat kelamin! Artinya, yang dibuatkan Wis adalah simbol laki-laki atau simbol phallus, bukan alat yang secara teknis pantas digunakan sebagai alat masturbasi. Mungkinkah patung itu akan mampu memberikan kenikmatan yang lebih pada Upi hanya karena sudah dijadikan simbol "laki-laki baik dan setia"?

Seksualitas Upi yang pada awalnya digambarkan sebagai semacam hasrat primitif untuk memperoleh kenikmatan dengan merangsang alat kelamin diarahkan dan dipersempit menjadi hasrat heteroseksual. Penggunaan kata phallus dan totem bisa dipahami sebagai rujukan pada psikoanalisis dan pada totemisme, kepercayaan kuno yang sering diasosiasikan dengan "manusia primitif". Karena kedua kata itu digunakan sebagai nama patung laki-laki yang diharapkan menjadi obyek birahi Upi, pesan yang tersampaikan adalah bahwa hasrat heteroseksuallah yang paling wajar, alami, dan asli. Keterpusatan psikoanalisis pada penis atau phallus yang banyak dikritik feminis di sini diulangi tanpa sifat kritis sama sekali, phallus malah dijadikan totem, pusat pemujaan. Memang pembuatan patung Totem Phallus itu dan pemahaman seksualitas Upi yang terkandung di dalamnya diceritakan sebagai buah pikiran dan perbuatan Romo Wis, tapi karena dalam novel "polifon" ini tidak terdapat suara lain yang menyoroti peristiwa itu dari perspektif lain, inilah satu-satunya versi yang tersampaikan. Bahwa interpretasi Wis terhadap seksualitas Upi merupakan penyempitan, sama sekali tidak dipersoalkan, sehingga saya rasa tidak terlalu mengada-ada kalau kita menganggap penyempitan itu tidak disadari penulis.

Saya telah memperlihatkan bahwa dalam novel Saman/Larung di samping pesan-pesan eksplisit dan provokatif yang menentang falosentrisme, pada banyak adegan yang membicarakan seksualitas justru terdapat kecenderungan falosentris dan heteronormatif.

Saya tidak menemukan indikasi bahwa ambivalensi dalam representasi seksualitas di novel Saman/Larung ini merupakan ambivalensi yang disadari. Karena itu, mungkin lebih tepat kalau pesan eksplisit mengenai seksualitas yang terdapat dalam novel itu kita sebut sebagai sebuah pretensi. Kritik terhadap falosentrisme hanya terjadi di permukaan, atau dengan kata lain, kritik itu dimasukkan hanya dalam beberapa adegan. Di level yang lain, novel Ayu justru sangat falosentris.

-------------------------

Katrin Bandel Menyelesaikan Studi Doktor dalam Sastra Indonesia di Universitas Hamburg, Jerman; Saat Ini Pengajar Kajian Gender di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Source: Rubrik Bentara, Harian Kompas, Rabu 01 Juni 2005

Read More......

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google