The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Wawancara Ayu Utami soal Novel Terbarunya "Bilangan Fu"

Written by eastern writer on Tuesday, July 22, 2008

Bagaimana komentar Ayu Utami soal novel terbarunya "Bilangan Fu", berikut ini wawancara Nong Darol Mahmada aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) Komunitas Utan Kayu dengan penulis novel fenomenal Saman (1998) dan Larung (2001) yang menerima Prince Clause Award pada tahun 2000 tersebut.

Wawancara ini dilakukan pada acara peluncuran novel Bilangan Fu, Minggu (20/7) malam di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta.

Mbak Ayu, dibanding dengan novel-novel sebelumnya, saya melihat tema yang diangkat dalam novel ini cukup berat yaitu ingin mengritik 3 M: modernisme, monotheisme dan militerisme. Kenapa? Bisakah diceritakan proses awal kenapa mengambil tema ini? Bagaimana proses penulisannya?

Tentang 3M itu saya rumuskan sambil mendaki gunung Gede, olah raga rutin saya. Biasanya, sambil berjalan saya merenung-renung. Lalu, muncullah ide itu setelah pikiran saya berputar-putar sampai tak begitu bisa saya sadari lagi. Barangkali jalarannya begini. Pada masa Orde Baru, sebagai aktivis kemerdekaan pers, kami tahu bahwa musuh utama demokrasi adalah militerisme. Itu "M" yang pertama.

Nah, sekarang? Setelah Indonesia lumayan terbebas dari militerisme, kita menghadapi ancaman baru. Yaitu, ancaman yang berasal dari ketidakbebasan pikiran. Keengganan bahkan ketakutan terhadap kebebasan pikiran. Ini rupa-rupanya berasal dari beberapa hal. Dalam kasus Indonesia: satu, ketakutan. Ketakutan pada apa? Ketakutan bahwa kemerdekaan akan menghilangkan identitas kita sebagai "bangsa timur", "bangsa beragama", atau apapun yang kita percaya sebagai identitas kita. Sedihnya, ketakutan ini ternyata dipelihara melalui-atau menggunakan-agama. Ditambah dengan meningkatnya kekerasan atas nama agama sepuluh tahun belakangan ini. Kebetulan Indonesia mayoritas muslim. Maka, itulah "M" yang kedua: monoteisme. Saya percaya bahwa Islam maupun Kristen, yakni agama-agama monoteis, memiliki persoalan mendasar dalam kapasitas menerima perbedaan. Ini harus diakui secara jujur tanpa takut. Dua, ketidakbebasan pikiran ini datang dari kemanjaan yang dipelihara oleh kapitalisme. Kapitalisme tak bisa dilepaskan dari modernitas. Itulah "M" yang ketiga. Modernitas.

Jadilah 3M yang saya sebut sebagai ancaman terhadap dunia postmodern: Militerisme, Monoteisme, Modernisme. Hahaha. Ini autokritik sesungguhnya. Sebab, saya punya idealisasi tertentu pada militer. Saya penyuka pria dengan military-look. Tegap. Cepak. Hehe. Saya juga menikmati buah kapitalisme. Saya juga lahir dari tradisi monoteis.


Saya ingin tanya lebih detail lagi. Apa sih yang anda maksud dengan modernisme itu?

Sebetulnya terminologi yang tepat adalah modernitas. Atau pemikiran modern. Bilangan Fu juga bercerita tentang persoalan lingkungan. Rusaknya lingkungan karena eksploitasi dari manusia modern yang kelewat batas. Dalam skala besar: pemanasan global. Tapi, novel kan harus mengambil skala yang lebih kecil dan terfokus. Maka saya bercerita tentang eksploitasi penambangan gunung gamping di pantai selatan Jawa.

Apa alasan ekspolitasi? Ekonomi! Alasan ekonomi semata. Nah, inilah alasan yang sangat khas datang bersama modernitas dan konconya, kapitalisme. Manusia memandang dunia dari sudut kepentingan ekonomi belaka. Dari sudut kepentingan dirinya belaka. Manusia modern tak punya rasa hormat pada alam.

Sederhananya begini. Dulu, ketika masih hidup dengan "takhayul" tentang roh-roh penunggu bumi, manusia bersikap hormat pada alam. Masyarakat adat biasanya tidak berburu atau menebang pohon kelewat batas. Mereka permisi sebelum masuk hutan. Nah, manusia modern-yang telah berpikir rasional dan tak lagi takut pada takhayul-kehilangan rasa hormat itu. Jika dulu manusia tradisional melihat alam sebagai subyek, kini alam semata-mata obyek. Dulu bumi harus disajeni, kini bumi hanya untuk dieksploitasi. Manusia modern telah demikian sombong.

Kritik saya yang terutama adalah bahwa pemikiran modern yang terlalu mengagungkan rasio atau akal telah terlampau jauh meremehkan nilai-nilai tradisi, yang sesungguhnya sangat positif terhadap alam, dan juga telah merendahkan bumi. Ah, kita juga tahu, dalam perdebatan filsafat, bahwa rasio itu tak lepas dari kepentingan. Tak lepas dari libido, kata Freud. Tak lepas dari kekuasaan. Akal sehat itu tidak sehat-sehat amat. Kerusakan bumi menunjukkan bahwa rasio telah menjadi alat dari kehendak berkuasa saja.

Nah, dari penjelasan anda tadi, apa sebenarnya yang ingin anda tawarkan dalam mengritik modernisme ini?

Tawaran saya: spiritualisme kritis! Manusia tak hanya punya kepentingan jahat. Manusia juga punya kepentingan baik. Sama seperti manusia tak hanya punya nafsu rendah, tapi juga nafsu luhur. Kita switch, kita alihkan saja. Jadikan akal instrumental itu alat dari kehendak baik. Apa yang mendesak sekarang? Menyelamatkan bumi! Bukan menyelamati akhirat! Hal yang paling utama dari kesadaran modern sesungguhnya adalah kemampuan kritis. Inilah yang patut disyukuri tiada habis dari modernitas, buah rasio. Ini yang saya kira harus kita genjot. Kita kritik diri kita. Kita kritik nafsu-nafsu berkuasa kita. Karena itu, saya menawarkan "spiritualisme kritis."

Kita tahu, ketika rasionalitas berkembang, mereka mencurigai habis-habisan agama. Tuhan sudah mati, kata Nietzsche. Tapi, kesalahan kaum sekularis-dengan menampik agama-adalah justru membiarkan agama jatuh ke tangan kaum fundamentalis. Karena itu, kita butuh merebut kembali agama. Dan menafsirkannya kembali dengan lebih terbuka. Kita harus lebih belajar dari agama-agama bumi. Yaitu, sekali lagi, untuk menyelamatkan dunia lebih daripada mendahulukan akhirat.

Anda juga mengritik monotheisme. Apa yang salah dengan konsep ini?

Menurut saya, ada yang salah dengan slogan monoteis ini: kami mencari akhirat, bukan dunia. Dalam Bilangan Fu, saya khususnya menyoroti secara prihatin kesombongan monoteisme atas agama-agama lokal. Monoteisme-entah Kristen entah Islam-merendahkan agama-agama lokal sebagai penyembah berhala. Padahal, sesungguhnya agama-agama lokal ini memiliki penghormatan yang luar biasa pada alam. Dikotomi monoteis atas dunia dan akhirat harus dikaji ulang.

Salah satu contoh yang pantas membuat kita prihatin adalah, dua tahun lalu, segerombol pemuda dengan atribut Pemuda Persatuan Islam (Persis) di Jakarta memangkasi sebuah beringin tua di Harmoni. Alasannya karena pohon itu dianggap keramat, bahkan jalur busway pun tak boleh merobohkannya. Pemerintah kota juga mempertahankan pohon itu karena nilainya bagi lingkungan.

Ada sebuah cerpen yang sangat puitis dari Marguerite Yourcenar tentang seorang rahib Kristen Ortodoks yang menghanguskan hutan demi mengusir jin dan peri. Pada akhirnya jin dan peri itu bersembunyi di gua pada sebuah bukit cadas. Untuk memenjarakan mereka, sang rahib mendirikan gereja menutup mulut gua itu. Tapi, Perawan Maria membebaskan peri dan jin itu dari balik jubahnya sebagai burung-burung layang-layang. Buat saya: agama tak berhasil membebaskan manusia. Manusia memanjakan nafsu berkuasanya dengan agama, tapi yang suci memberikan kasihnya.


Mbak Ayu, setting dan tokoh dalam novel ini tentang pemanjat tebing. Kenapa anda mengambil setting dan tokoh tentang itu? Kenapa si akunya bukan perempuan?

Saya belum siap bercerita tentang diri saya sendiri. Hahaha… Saya masih ingin menyembunyikan pribadi saya. Hehehe…. Saya kira penulis justru leluasa untuk menjadi bukan dirinya.

Sesungguhnya awal cerita ini sangat pribadi dan sederhana. Yaitu, kisah masa lalu kekasih saya, Erik Prasetya. Ia memiliki sebuah periode sangat bahagia di masa mudanya, ketika ia menjadi pemanjat tebing, memiliki sahabat, sesama pemanjat, yang ia sayangi, serta kekasih yang ia cintai. Mereka membangun persahabatan yang istimewa antar tiga manusia. Sahabat itu mati dalam kecelakaan di tebing. Setelah itu, hubungan dia dan kekasihnya tak bisa sama lagi. Saya terkesan dengan hubungan yang puitis itu dan tragedi yang mengakhirinya. Betapa rentan manusia.

Tapi, sisa cerita dan pergulatan pemikirannya adalah bagian saya sendiri. Saya menulisnya di masa setelah reformasi. Keprihatinan saya adalah gangguan atas kedamaian dan hak sipil dari gerombolan yang memakai nama agama. Jadi, keprihatinan saya adalah ini: reformasi memberi kita kemerdekaan, tapi masyarakat tidak siap dengan kemerdekaan itu. Dan agama dipakai untuk menolak kemerdekaan.

Saya punya kesan novel Bilangan Fu dibanding novel Saman, sepertinya hanya bisa dipahami oleh kalangan terbatas karena soal tema yang diangkatnya cukup berat, orisinil, dan gaya bahasanya juga lebih berat dan penuh data, tidak secair seperti novel Saman. Apakah anda sengaja memilih seperti ini?

Saya kok tidak begitu sepakat. Struktur ceritanya sebetulnya sangat padat dan sederhana. Lebih sederhana daripada Saman ataupun Larung. Yaitu, tentang cinta segitiga yang istimewa. Tentang usaha menyelamatkan kawasan karst atau gamping. Memang Saman lebih manis. Karena si "aku" penceritanya adalah perempuan lugu yang sedang jatuh cinta dan melankoli. Larung lebih gelap karena karakter yang memiliki sejenis kegilaan. Bilangan Fu diceritakan oleh karakter yang sinis dan skeptis: Yuda. Memang ia punya cara pandang yang khas dan suka mengomentari banyak hal. Tapi, Yuda yang membuat struktur cerita yang sederhana menjadi tidak biasa. Yuda yang membuat hal sehari-hari jadi nampak aneh.

Mbak, kenapa sih judul novelnya Bilangan Fu? Banyak yang bertanya soal judul ini. Terus, apa sih Bilangan Fu itu?

Semula saya ingin menamainya Jalur 13. Semula ceritanya adalah jalur pemanjatan maut berangka 13. Angka yang dianggap sial. Lucunya, angka 13-yang dianggap sial di Barat ini-jika diurai dan dijumlah sebagai 1+3 hasilnya adalah 4. Yaitu Tsi, angka sial di Cina. Hehehe.

Saya semula memang ingin bermain-main dengan sebuah bilangan yang dianggap angker. Tradisi membuat saya berputar-putar pada bilangan 13. Ternyata akhirnya saya berakhir dengan sebuah bilangan yang memiliki properti 0 dan 1 sekaligus. Bilangan ketiga belas dalam sistem bilangan berbasis 12, bukan berbasis 10. Ada banyak hal menarik mengenai perbedaan bilangan berbasis 12 dan 10 ini. Semenarik fakta bahwa jari
kita sepuluh dan fakta bahwa bumi mengelilingi matahari dalam 12 bulan!

Apapun, bilangan fu adalah bilangan yang metaforis, bukan matematis. Spiritual, bukan rasional. Ia merupakan kritik bahwa pengertian kita tentang Tuhan yang satu dalam monoteisme terlalu matematis. Ketika monoteisme dirumuskan, orang belum mengenal bilangan 0. Konsekuensinya, 1 yang dimaksud bisa sama dengan konsep mengenai 0, yaitu yang penuh sekaligus kosong, tidak terbatas, tidak rasional.

Kenapa "Fu"?

Semula karena ada alat musik tiup yang bernama Fu. Tapi, perhatikan, bunyi "fu", juga "hu", dan bunyi bersuara bilabial adalah bunyi dasar. Bilabial adalah bunyi konsonan yang dibuat dari aliran udara menggetarkan dua bibir. Kalau kita bernafas keras, kita mengeluarkan bunyi yang mirip ini. Buat saya, itu bunyi nafas. Bunyi kehidupan. Ya.
Bunyi hidup tapi bukan bunyi nafsu.

Berbeda dari "ma", seperti dalam "mama" atau "makan"; "pa", seperti dalam "papa" atau "pangan"; "da" seperti dalam "dada". "Ma", "pa", dan "da" adalah bunyi libido. Saya
tulis di Bilangan Fu, "ma" dan "pa" adalah bunyi perut, yang mencintai rasa kenyang. "Fu", atau variasinya "hu", dalah bunyi hidung, yang dari sana manusia bernafas. Fu adalah bunyi ruh.

Dalam novel ini juga banyak tersaji tentang cerita rakyat dan pewayangan. Apakah anda punya tendensi ingin menafsir ulang cerita-cerita tersebut?

Ya. Bagi saya cerita rakyat dan pewayangan, seperti juga kitab suci, terlalu kerap ditafsirkan dengan penyederhanaan berlebihan. Saya ingin menyumbang dalam tafsir yang seharusnya lebih kompleks.

Misalnya, saya ingat, ada seorang guru SD yang protes terhadap cerita rakyat. Menurut dia cerita rakyat itu bukan cerita anak-anak. Contohnya cerita Sangkuriang, yang bercerita tentang hubungan seks. Lha! Memang, cerita rakyat bukan cerita anak-anak. Tapi, bukan berarti tidak boleh diperkenalkan kepada anak-anak juga. Keistimewaan legenda adalah karena ia bisa disampaikan sebagai cerita segala umur, termasuk anak-anak.

Tetapi, di lapisan berikutnya ia mengandung bahan dan data yang lebih kompleks. Kita harus memelihara kekayaan itu. Lagi pula, setelah berumur, saya tahu dan percaya tak ada yang sungguh-sungguh baru di dunia ini. Jadi, kenapa tidak menggarap tema-tema klasik?

Berapa lama anda menyelesaikan novel ini?

Empat tahun penuh kegagalan. Setelah itu, sembilan bulan menuliskannya dalam bentuk yang sekarang ini dengan sangat lancar. Dalam empat tahun sebelumnya, sejak akhir 2003, saya mencoba menulis dan terus merasa gagal. Saya berlatih panjat tebing, penelusuran gua, dan pelbagai lain. Begitu banyak waktu, tenaga, dan uang yang saya habiskan, sesungguhnya.

Tapi saya puas. Saya merasa seperti pemanjat bersih. Yaitu, yang tidak memaksakan ide pada cerita. Seperti tidak memaksakan bor dan paku pada gunung batu. Saya merasa memanjat dengan jalur yang disediakan alam dan dengan peralatan yang tidak merusak tebing.

Mbak, apa saja hambatan dan tantangan yang dialami ketika menulis novel ini?

Tantangannya, saya tidak ingin mengulangi Saman dan Larung. Saman dan Larung ditulis di masa Suharto yang otoriter. Karena itu, saya ingin membebaskan diri dari linearitas bercerita. Dalam keduanya, saya ingin bercerita yang tidak lurus tidak padat, melainkan longgar. Bilangan Fu tidak. Saya ingin kembali kepada cerita yang sederhana. Apalagi di masa yang khaos dan ribut ini, saya ingin kembali kepada plot yang lurus. Ternyata tidak mudah memberi makna baru pada kesederhanaan.


Pertanyaan terakhir mbak. Adakah perasaan "terbebani" karena khawatir novel ini tidak sebagus atau tidak sesukses novel Saman?

Tidak. Sukses itu selalu separuh nasib. Nasib tidak bisa dipaksakan. Saman sukses karena dia yang pertama di zamannya. Dia pemberontakan. Dia menghantar pada masa perubahan. Dia diluncurkan sepuluh hari sebelum Suharto jatuh! Dia membawa gosip pula.

Selain itu, saya yakin bahwa Bilangan Fu lebih bagus daripada Saman. Paling tidak, saya lebih puas terhadap Bilangan Fu dibanding Saman. Secara struktur dia lebih kompak, lebih padat. Secara isi dia lebih berbobot. Saya juga senang bisa melibatkan gambar dari banyak khasanah, bisa memasukkan berita-berita koran yang absurd.

Memang, sekali lagi Bilangan Fu tidak manis dan lembut seperti Saman. Tapi, itulah hidup. Seperti anggur atau keju. Saya bertambah umur. Saya tidak bisa terus-menerus lembut seperti keju muda. Saya tak bisa terus-menerus manis atau jualan manis.

--------------
diambil tanpa izin (semoga yang punya tidak keberatan) dari blog Nong Darol Mahmada http://nongmahmada.blogspot.com

Read More......

Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris

Written by eastern writer on Sunday, July 20, 2008

Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman' tersebut.

Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.

Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku 70 eksemplar lebih.

Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang perempuan bernama Marja.

Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai 'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.

Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang? Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:

Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?

Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.

Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat tebing-tebing.

Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.

Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?

Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi. Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara beragama yang terlalu formalistis.

Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.

Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama ingin mencapai puncak.

Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat, bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak. Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.

Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.

Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.

Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang tidak memaksa.

Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?

Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha, karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan cara berbeda.

Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?

Masih.

Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?

Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan. Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.

Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi hatinya memang baik saja.

Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?

Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi saya selalu siap jika novel saya tidak laris.

Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.

Apa istimewanya Bilangan Fu?

Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung, adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba, dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.

Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik, fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis yang saya rasakan di zaman itu.

Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan. Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.

Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.

Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?

Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.

Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi. Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.

Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?

Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal (halamannya). Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.

Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?

Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu tidak puas.

Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9 bulan penulisan bentuk terakhir.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
Buku yang ditulis:

Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu

Read More......

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google