The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Tanggapan Dewi Candraningrum atas Tulisan Katrin Bandel soal Politik Sastra Utan Kayu

Written by eastern writer on Monday, May 19, 2008

Mangkuk Majemuk Narasi Kritik Perempuan

(Tanggapan atas tiga bagian tulisan Katrin Bandel di Harian Republika,
(1) "Saman dalam `Kebohongan' Politik Sastra" pada 23 Maret; (2)
"Membongkar Kasus 'Politik Sastra Gombal'", 30 Maret; dan (3)
"Representasi Menyesatkan tentang Peran KUK", 06 April 2008).

Dewi Candraningrum*

Pada bagian pertama, Katrin mengulas informasi tentang Penerbit
Horlemann yang menerbitkan terjemahan bahasa Jerman atas novel Saman
pada 2007 lalu, karya Ayu Utami. Tarjamah Jerman ini ditulis oleh
Peter Sternagel, yang pernah bekerja pada pertukaran budaya dan
bahasa, sebagai Direktur Goethe Institut Bandung. Sampul Saman
diwajahkan oleh potret Ayu Utami. Potret ini untuk memberi ilustrasi
"wajah perempuan Indonesia berkarakter", demikian tutur Michael
Adrian, Direktur Penerbit Horlemann (Tempo, Sketsa, 25.02.2008).
Horlemann-Verlag, yang berkantor di Unkel am Rhein dekat kota Bonn
ini, dicitrakan sebagai "kecil dan kurang bergengsi" oleh Katrin
Bandel di tulisan Bagian 1 Harian Republika. Informasi ekstra-literer
ini cukup menarik untuk digali lebih lanjut. Pada 1990
Horlemann-Verlag didirikan oleh seorang politikus sekaligus penulis,
Juergen Horlemann (1941-1995), yang mendedikasikan diri pada produksi
penerjemahan serta penerbitan buku-buku tentang perkembangan
sosiopolitik dan sosiobudaya negara-negara berkembang. Dengan didorong
oleh kecintaan pada suara minoritas dan suara jauh, Horlemann
memberdayakan karya-karya di luar arus utama sastra Eropa. Seorang
penggiat LSM Eine Welt Forum Aachen, Sri Ningsih, memberikan informasi
penting tentang jasa penerbit Horlemann yang telah setia menerbitkan
karya-karya sastrawan Indonesia, dalam Artikel Perempuan, Jurnal
Perempuan Online, "Penerbit Horlemann dan Kesusasteraan Indonesia di
Jerman" (11 April 2008).


Saling Tarjamah sebagai Komunikasi antar Peradaban

Di antara produksi kesusasteraan Indonesia yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Jerman oleh Horlemann-Verlag adalah dari Mochtar Loebis, Tiger!
Tiger! (1992); Leila S. Chudori, Die letzte Nacht (1993); Armijn Pane,
In Fesseln (1993); Y.B. Mangunwijaya, Die Webervoegel (1993); Ahmad
Tohari, Die Tanzerin von Dukuh Paruk (1996) & Komet in der Dämmerung
(1997); Oka Rusmini, Erdetanz (2007). Pula, sampai lima karya
sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah diterjemahkan dan diterbitkan,
yaitu Mensch für Mensch (1993); Die Familie der Partisanen (1997);
Spur der Schritte (1999); Stilles Lied eines Stummen, Aufzeichnungen
aus Buru (2000); Die Braut des Bendoro (2001). Khusus untuk karya
Toer, ada dua penerbit lain di Jerman yang juga menerbitkan. Oleh
Penerbit Rowohlt, yaitu Garten der Menschheit (1987). Pula, oleh
Penerbit Unionsverlag, yaitu Kind aller Völker (1994); dan Spur der
Schritte (2002). Penerbit Horlemann yang "kecil" tersebut ternyata
memiliki jasa penting bagi pemberdayaan karya Indonesia di Jerman.
Horlemann membantu proses definisi, representasi dan proliferasi karya
sastra Indonesia dalam lokus kesusasteraan Jerman. Latar sosiobudaya
ini meruang dalam dialektika peradaban antara Indonesia dan Jerman,
dimana resepsi, apresiasi, dan kritik sastra Indonesia di Jurusan Asia
Tenggara universitas-universitas di Jerman tumbuh dan berkembang,
seperti di Universität Hamburg, Koeln, dan Bonn. Berthold Damshäuser,
seorang pengajar sastra Indonesia di Universität Bonn merupakan salah
satu penggerak penting dalam proses saling tarjamah ini. Bersama
majalah sastra Horison, Pak Trum, demikian dia akrab disapa, bersama
Agus R. Sarjono (dari Horison), menerjemahkan beberapa susastra Jerman
ke dalam Bahasa Indonesia. Seperti Seri Puisi Jerman 001 Rainer Maria
Rilke, Padamkan Mataku (2003); 002 Bertholt Brecht, Zaman Buruk Bagi
Puisi (2004); 003 Paul Celan, Candu dan Ingatan (2005); 004 Johann
Wolfgang von Goethe, Satu dan Segalanya (2007). Saling menterjemahkan
karya sastra baik dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman, dan
sebaliknya, merupakan komunikasi interpenetrasi dan komunikasi
kohabitasi dalam menembus batas perbedaan bahasa dan budaya. Dengan
plurivokalitas ragam representasi beberapa penulis Indonesia di Jerman
telah meniscayakan keragaman komunikasi yang tidak hanya
direpresentasikan secara tunggal oleh Saman. Ayu Utami bukanlah
satu-satunya penulis perempuan Indonesia bagi publik Jerman. Leila S.
Chudori dan Oka Rusmini telah pula diterbitkan dalam Penerbitan
Horlemann. Bahkan, di tahun ini Horlemann Verlag menerbitkan kumpulan
karya penulis perempuan kritis Indonesia dalam Duft aus Asche, yang
ditarjamah oleh Monika Arnez, pengajar Universität Passau, bersama
Edwin P. Wieringa, seorang Profesor Universität Koeln.

Pun, Berthold Damshäuser bersama Wolfgang Kubin yang menjadi editor
Orientierungen, sebuah majalah Kebudayaan Asia di Universität Bonn,
bersama para tim penerjemah dalam "Arbeitskreis Moderne Indonesische
Literatur", telah menerjemahkan beberapa karya perempuan seperti
Dorothea Rosa Herliany, Das Land des Anderseins (1/2002) dan Wellen
von Wut und Schmerz (1/2002). Lalu karya Djenar Maesa Ayu, Asmoro
(1/2006). Pak Trum telah pula menerjemahkan puisi dari penyair Agus R.
Sarjono, Hamid Jabbar, Jamal D. Rahman, Nenden Lilis, dll. Selain,
juga menerjemahkan kumpulan puisi karya Agus R. Sarjono Frische
Knochen aus Banyuwangi, Ausgewählte Gedichte (2002), yang diterbitkan
oleh Garlev Verlag. Terakhir, penulis mengirimkan cerpen
"Jaring-Jaring Merah" karya Helvy Tiana Rosa untuk diterjemahkan oleh
Orientierungen, Das Rote Netz (2/2007). Multivokalitas representasi
penulis perempuan tersebut merupakan catatan kaki bagi tulisan Katrin
Bandel Bagian 3. Dus, KUK dan Ayu Utami bukan representasi monolitik
bagi publik Jerman. Tetapi dia merupakan bagian dari plurivokalitas
representasi yang dimainkan oleh politik komunikasi media dan kerja
akademik. Kerja keras inisiatif dan pengelolaan proses-proses ini
merupakan sumbangsih bagi dialektika kesusasteraan, dan 'tidak kecil'
peran dan fungsinya dalam komunikasi antar peradaban. Kerja
menerjemahkan merupakan jantung dialog antar peradaban, yang
membongkar dan memaknai ulang sistem tanda dan makna asing ke dalam
sistem tanda dan makna lokal, melalui proses kreatif dan domestikasi
tanda.


Representasi Multivokal Karya Perempuan

Katrin Bandel membongkar kardus "politik sastra" Komunitas Utan Kayu,
yang dicitrakan sebagai "kebohongan dan kegombalan". Pencitraan dan
representasi Katrin Bandel atas Saman dibangun dari sumber
ekstra-literer. Dengan menggali tentang jati diri Horlemann-Verlag
yang "kecil dan kurang bergengsi", tentang peran KUK, peran Goenawan
Mohamad, pernyataan Katrin Figge tentang sosok Ayu Utami, dll dan dll.
Namun, di sana-sini terdapat inkonsistensi dalam mengumpulkan fakta
ekstra-literer tersebut. Aspek-aspek ekstra-literer penting yang
menjadi sandaran piranti baca dan analisis kritik meniscayakan peran
penting (1) kesejarahan kelahiran karya sastra; (2) bilik sosial,
ekonomi, budaya, politik, dan agama yang melatarinya; (3) oto/biografi
pengarang; (4) dan surat-surat serta korespondensi seputar karya
tersebut. Keempat faktor tersebut dapat dicapai dengan hasil yang
bertanggung jawab apabila dilakukan investigasi dan wawancara pada
pihak-pihak terkait di seputar karya tersebut. Salah satu
inkonsistensi kurang bertanggung jawab adalah representasi
Horlemann-Verlag. Pengecilan karya kemanusiaan yang dijepret dari segi
kuantitas, yaitu jumlah produksi dan kapital, tidak menjamin apakah
pengabdian pada asasi kemanusiaan Horlemann-Verlag besar atau kecil.
Komodifikasi dan kapitalisasi karya seni dalam banyak hal membantu
proliferasi `kuantitas' karya ke seluruh penjuru dunia, tetapi dia
tidak menjamin citra diri atas ukuran `kualitas' sebuah karya.
Mempolitisasi ukuran kapital Penerbit Horlemann untuk mengkritisi
sebuah karya meniscayakan pengabaian atas dedikasinya pada
penulis-penulis dari negara-negara berkembang. Penerbit ini telah
membuat yang tidak terlihat, menjadi terlihat; yang tidak dapat
bersuara, menjadi dapat bersuara. Tidak aneh, bila penerbit ini setia
dengan penulis-penulis dari Vietnam, Kamboja, India, Malaysia, juga
dari beberapa negara Amerika Latin dan Afrika. Bukankah Penerbit
Horlemann telah menyambit jejaring representasi penulis Eropa yang
dominan, dengan menampilkannya secara sejajar dengan penulis Asia,
Afrika, dan Amerika Latin? Dia telah merekayasa kerja keras untuk
menciptakan sebuah ruang representasi dimana penulis-penulis di luar
arus-utama mendapatkan rumahnya dalam representasi sastra Eropa yang
majemuk. Wajah-wajah perempuan penulis Indonesia yang tertekuk dalam
cetakan Horlemann dan Orientierungen merupakan tambahan pelangi
warna-warni indah dalam bingkai representasi kesusasteraan Asia di
Eropa yang multivokal dan plural.


Pencitraan Narasi Perempuan

Selain aspek representasi yang telah diperjuangkan oleh Penerbit
Horlemann untuk khasanah kesusasteraan Indonesia di Jerman, penulis
melihat bahwa pencitraan Katrin Bandel atas Katrin Figge (staf pada
Goethe-Institut Jakarta) telah melampaui ruang obyektifitas. Imajinasi
inkorporeal telah dibekukan dalam mangkuk banalitas korporeal.
Memenjara pernyataan Katrin Figge (Porträt aus:
"Literatur-Nachrichten" Nr. 94 Herbst 2007, Wilde Ehe, Bier und
Pornographie) dalam ruang banal subyektifitas resepsi dan citra diri
Katrin Bandel. Dalam artikel Bagian 2 pada 30 Maret di Harian
Republika, "Membongkar Kasus 'Politik Sastra Gombal'", Katrin Bandel
melakukan kerja pencitraan sekaligus politik representasi atas Figge
sebagai "orang asing" yang membuat pernyataan "luar biasa rasis".
Tentu saja ini adalah politik pencitraan Katrin Bandel yang berangkat
dari bilik subyektifitas, yang diniscayakan memiliki kekuatan sebagai
fakta korporeal. Yang senyatanya, Katrin Figge menolak dengan keras.
Dalam diari mayanya Katrin Figge menyebut dirinya "half Indonesian
myself". Dan, menyampaikan keberatan dengan menulis, "Me, half
Indonesian myself, is said to be racist against my own people? The
people of this country I love? Please!". Ketika Katrin Figge menyebut
diri sebagai "setengah Indonesia", dia telah menisbatkan pilihan diksi
universal, serupa dengan Katrin Bandel menisbat diri sebagai "kritikus
sastra asal Jerman" atau Katrin Bandel memberi tera diri Katrin Figge
sebagai "orang asing". Pilihan diksi dalam mencitrakan ras diri adalah
pilihan alamiah dan universal. Lompatan diksi menuju rasisme, perlu
meninjau konteks ucap `narasi ras' tersebut. Dalam berita sastranya,
Figge bisa jadi menggunakan klise dan stereotipi dalam potret tulisan
atas Ayu Utami, tetapi lompatan diksi Bandel atas "luar biasa rasis"
ini berlebihan dan tidak adil. Karena, Figge meletakkan ajektif atas
Ayu Utami itu dalam konteks yang spesifik. Pernyataan klise dan
stereotipi atas konteks tertentu yang spesifik, perlu dihikmati dalam
konteksnya sendiri yang spesifik pula; dan, tidak bisa serta merta
dihakimi sebagai "luar biasa rasis". Dekonstruksi pencitraan kurang
adil oleh Figge sendiri ini penting dan perlu disuarakan, karena
Katrin Bandel enggan melakukan kerja konfirmasi, wawancara, pun
"cross-interview" untuk mendapatkan pencitraan yang adil dan
bertanggung jawab atas citra inkorporeal pernyataan seorang Katrin Figge.

Politik pencitraan dan lompatan diksi yang kurang adil ini telah pula
dinarasikan atas Ayu Utami dalam tulisan Katrin Bandel di Berita Seni
(16/04/2008). Syahdan, pula, dituliskan oleh Katrin Bandel, tentang
sebuah pesan pendek dari kawan di Hamburg, yang memberi komentar atas
sampul novel Saman, yang menerakan foto Ayu Utami. Lompatan diksi
berikutnya adalah "eksotisme istri impor" atas karakter foto Ayu
Utami. Memilih, menyortir, dan menarasikan pesan pendek ini, pun,
adalah pilihan politis. Narasi "istri impor" ini dipilih untuk
mendukung citra yang kurang apresiatif dan kurang bertanggung-jawab.
Lompatan diksi atas "luar biasa rasis" dan "istri impor" ini adalah
juga kerja politis. Imaji inkorporeal Katrin Figge dan Ayu Utami tidak
perlu dibela, tetapi, manipulasi politik representasi dan citra diri
narasi atas Katrin Figge dan Ayu Utami oleh Katrin Bandel ini
merupakan maneuver politik dan lompatan diksi yang dapat melahirkan
banalitas gosip dan polemik yang kurang sehat. Polemik kurang sehat
ini membuka peluang ruang-ruang gosip yang mengalir di samping
bantaran sungai psikososial para pekerja seni dan pembacanya. Di satu
sisi melahirkan perpecahan, pengelompokan dan sentimen diri yang
over-dosis; tetapi di sisi lain, dapat pula menumbuhkan ruang-ruang
kedewasaan dan kritisisme dalam melakukan pembacaan atas polemik ini.
Kedua efek tersebut di atas dapat memacu kreativitas dan kompetisi
sehat, tetapi, sekaligus, politik kebencian, rasisme, dan narsisme
pribadi dan kelompok. Lanskap dialektika polemik ini dapat disehatkan
kembali dengan melakukan kerja-kerja konfirmasi dan re-konfirmasi,
penulisan dan penulisan-kembali, pengisian ruang-ruang kosong atas
pembingkaian informasi tertentu secara lebih apresiatif dan
bertanggung jawab. Dinamika ini merupakan kekayaan dari kedewasaan
berkesusasteraan di Indonesia. Terpenting, bingkai pencitraan atas
narasi Liyan dengan pilihan diksi secara apresiatif, adil, dan
bertanggung jawab. Bingkai citra ini berkekasih dekat dengan dimensi
etik. Dimensi etik meniscayakan didalamnya narasi pencitraan Liyan
yang, sekali lagi, apresiatif, adil dan bertanggung jawab.


Pandangan Dunia dan Hermeneutika

Ketiga lanskap sosiobudaya kesusasteraan tersebut di atas—baik (1)
saling penerjemahan karya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Jerman dan
dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia; (2) representasi karya
minoritas; dan (3) pencitraan narasi Liyan yang berkeadilan—diwarnai
oleh kerja penetrasi dan kohabitasi bilik sosiopolitik dan
sosioekonomi dalam menyusun fondasi epistemik ekstra-literer karya
sastra. Pendekatan ekstra-literer ini melengkapi pendekatan literer,
yaitu ekstra-tekstual, inter-tekstual, dan intra-tekstual atas
pembacaan sebuah karya sastra. Piranti mendekati karya kesusasteraan
ini memiliki validitas masing-masing, yang dapat saling mengisi,
mengkonfirmasi, atau bahkan saling bertolak belakang dan bermusuhan.
Mesin peradaban ini melahirkan iklim kebaruan dalam berkarya dan
berapresiasi. Asupan oli dan bensin bagi megamachine ini adalah
terwujudnya semangat Etik, dimana karya-karya kemanusiaan didekati
dengan sila ilmu humaniora, Geisteswissenschaften. Kata ini dilahirkan
di Jerman pada tahun 1849 oleh Dilthey (1833-1911). Filsuf, Psikolog,
dan Pendidik ini membabarkannya dalam Einleitung in die
Geisteswissenschaften (1883), untuk memisahkannya dengan
Naturwissenschaften—yang mengeksplorasi kebenaran dengan nalar
erklären (menjelaskan)—melalui metode verstehen (memahami), dalam
panci Hermeneutika. Dilthey mendefinisikan sebagai pengetahuan
pengalaman dan spirit. Spirit ini merupakan Geist yang diambil dari
terma Hegel (1770-1831) atas spirit kehidupan manusia, masyarakat, dan
budaya. Dalam bahasa Inggris, dia menemukan analoginya Humanities,
Arts dan Human Studies. Dilthey meniscayakan pemahaman kebenaran dapat
dilacak dari `pandangan dunia' sebuah individu, pun masyarakat.
Weltanschauung ini mengumpulkan keping-keping pengetahuan,
representasi, narasi diri, dan produksi makna atas dunia dan tugas
dirinya bagi peradaban. Pengetahuan ini kemudian dihadapkan pada
sebuah cermin, dengan kerja refleksi, kemudian kerja sistemasi dengan
menjalin satu pandangan dunia dengan yang lainnya. Kerja membedah dan
membongkar pandangan dunia ini membutuhkan sila-sila Etik. Etik,
sebagai jantung dari kebijaksanaan, mendedahkan suatu kehidupan yang
beradab. Etik melampaui konsepsi benar dan salah. Inti dari Etik
adalah peradaban yang laik, yang dilakoni bukan dengan moralitas kaku
a la Manichean, hitam putih. Tetapi dedahan bijaksana yang maujud
dalam hikmat adab yang adil dan bertanggung jawab. Dimana dihindari:
politik komunikasi yang melahirkan manipulasi; politik representasi
Liyan yang mendakwakan pengecilan atas kelompok minoritas; politik
pencitraan yang menjuruskan interpretasi tidak adil atas Liyan.
Tanggung jawab Etik dalam Humaniora, yang menyerbuki putik-putik
dialektika dalam sumur ekstra-literer kesusasteraan, meniscayakan
politik komunikasi yang membuahkan saling apresiasi antar peradaban;
politik representasi yang melahirkan pemberdayaan atas karya-karya
minoritas; dan politik pencitraan Liyan yang adil dan bertanggung
jawab. Basis Etik adalah nurani. Nurani adalah mulut sekaligus kuping
peradaban. Deklarasi nurani ini merupakan tebing terjal bagi harkat
kemanusiaan.


Pengalaman dan Tatapan Perempuan

Cetak biru Dilthey atas `pandangan dunia' ini penting. Yang merupakan
salah satu peletak dasar atas Hermeneutika yang telah didedahkan oleh
beberapa filsuf Jerman lainnya, seperti Schleiermacher, Gadamer dan
Habermas. Schleiermacher (1768-1834) mendedah pentingnya kesejarahan
konteks ucap dari grammatika sekaligus motif psikologis sang penulis
dalam mesin `memahami', yaitu hermeneutika. Sedang Gadamer (1900-2002)
membabar bahwa pembacaan dan pemahaman atas teks merupakan kerja yang
tiada henti, karsa abadi, yang diperluas dengan pergerakan horizon.
Gadamer melanjutkan bahwa "memahami" adalah sebuah proses perpindahan
dari satu horison ke horison lainnya, digambarkan seperti menembus
dari satu bilik menuju bilik lainnya. Ini kemudian dilengkapi oleh
Habermas (1929-) atas tempelan ideologi pada sang pengelana
ruang-ruang itu. Dus, perjumpaan antar horison itu ditemani sahabat
dekat, bernama ideologi. Namun demikian, Dilthey dikritik oleh
beberapa feminis, seperti Katherine Goodman, Biddy Martin, dan Sara
Lennox. Pada buah pemikiran Dilthey tentang "Erlebnis". Menurut
Dilthey, dalam memahami "pandangan dunia" manusia atau kebudayaan
tertentu, dapat disingkap tabir rahasianya dari dua pengalaman, yaitu,
(1) Erlebnis-pengalaman yang hidup; dan (2) Erfahrung-pengalaman
ilmiah. Menurut kawan feminis, Erlebnis ini elitis, yang tidak
memperhatikan pengalaman yang hidup kawan-kawan `kelas pekerja' dan
pengalaman `perempuan'. Ini merupakan terobosan baru atas dekonstruksi
pengalaman yang hidup, yang sebelumnya dilihat dan dipahami secara
elitis. Perspektif ini, pula, disokong oleh Annete Drostehulshoff,
Christa Wolf, dan Ingeborg Bachman. Pun, sekarang, kawan-kawan
minoritas seksual telah menggunakan diskursus Politik Queer, untuk
mencoba menyodorkan pengalaman, tidak hanya kelas pekerja dan
perempuan, tetapi pula pengalaman `kawan-kawan minoritas seksual'.
Saling koreksi dan saling mengisi ruang-ruang pemahaman dalam melihat
fenomena atas kebenaran ini merupakan pergerakan dialektika yang kekal
sekaligus multivokal. Yang ditiliki dan dihikmati dari beragam
perspektif. Saling menghiasi dan saling mengkoreksi satu sama lain.
Pergerakan abadi inilah yang memberikan inspirasi pada kawan-kawan
feminis untuk memajang Saman dengan perspektif perempuan. Tatapan
perempuan atas Saman ini merupakan bagian dialektika peradaban yang
akan selalu plurivokal. Dengan suara yang beragam dalam kontinuum
pelangi kesusasteraan Indonesia.


Narasi Tabu

Kawan Feminis melihat Saman dengan tatapan perempuan. Menempatkannya
pada pencarian suara feminin atas sumbangannya pada roda peradaban.
Tokoh utama dalam novel Saman, adalah Saman sendiri. Nama merujuk
jender maskulin ini merupakan mangkuk pusat atas transformasi
sosiopolitik dan sosiobudaya Indonesia di bawah represi ideologi
patriarki Orde Baru. Meskipun berjender maskulin, Saman diserbuki jiwa
feminin, jiwa sang Ibu. Martina Heinschke, Soe Tjen Marching, Gadis
Arivia, Mariana Amiruddin dan beberapa kritikus lain telah secara
berbeda menuju simpul serupa atas penolakan tabu yang direbus dalam
panci-panci tradisi budaya agama dan budaya politik otoriter. Yang
telah digambarkan pula oleh Katrin Figge dalam berita sastranya. Soe
Tjen Marching, pengajar pada SOAS London, dalam "Description of Female
Sexuality in Ayu Utami's Saman" (Journal of Southeast Asian Studies,
2007, 38: 133-146 Cambridge Univ Press) memberi eksplorasi tentang
aksi dekonstruksi Saman, yang memungkinkan pembicaraan terbuka atas
tema `seksualitas' yang dipandang sebagai `tabu', sebuah penala yang
menyedot hiruk pikuk kontroversi dalam kesusasteraan Indonesia. Soe
Tjen membabar bahwa pusaran debat tersebut telah gagal melihat
kompleksitas ruang-ruang poskolonial yang menjadi latar novel itu.
Sementara, Martine Heinschke—pengajar pada Universität Hamburg, dalam
"Eigenes Terrain, eigene Wege? Indonesisches Frauenromane seit den
1970er Jahren und Ayu Utami Debutwerk: Saman (1998) und Larung (2001)"
(hal. 145-198) dalam buku suntingan Dorothee Schaab-Hanke dan Judit
Árokay, Auf Anderen Wegen? Bermerkenswerte Frauen in Ost und
Sudostasien (Hamburger Sinologische Schriften 10, 2007)—mendedahkan
bahwa letak kekuatan Saman tidak hanya pada persoalan seksualitas,
akan tetapi pada `tema sosial'. Yaitu, bagaimana Saman mengalami
persekusi represif Orde Baru. Tema sosial bagaimana tokoh Saman ini
diciduk dan dipenjara merupakan aksis penting dalam pergerakan plot
novel ini. Dari bumi akademik Indonesia, pendiri Yayasan Jurnal
Perempuan, dan salah satu filsuf feminis penting, Gadis Arivia,
menemukan kekuatan Saman pada `politik feminis' yang memiliki komitmen
sosial. Lontaran tersebut diwajahkan dalam diskusi virtual mailing
list Jurnal Perempuan. Direktur Jurnal Perempuan, Mariana Amiruddin,
yang juga seorang perempuan penulis dan feminis, menyatakan bahwa
Saman adalah upaya melawan `stigma' atas perbincangan seksualitas itu
sendiri. Seksualitas dapat dibicarakan secara terbuka dan bukan barang
tabu. Mariana memapar lebih jauh bahwa seksualitas bukanlah produk
Barat per se, tetapi merupakan bagian dari lanskap tradisi Indonesia
yang tercermin, salah satunya, dalam candi, seperti relik Lingga dan
Yoni. Dari segelintir eksplorasi kritikus perempuan atas Saman
tersebut, menggambarkan bahwa Saman telah dicitrakan sebagai novel
`pemberontakan'. Meskipun Katrin Bandel "mempertanyakan" citra
pemberontakan dalam tulisan lalu, fakta bahwa Saman diapresiasi oleh
para kritikus sebagai salah satu ekspresi pemberontakan, adalah
legitim. "Pertanyaan" Katrin Bandel atas citra ini, juga, adalah
legitim. Tatapan kawan-kawan perempuan kritikus sastra ini menambahi
lajur kekayaan khasanah kesusasteraan Indonesia. Saman sebagai sebuah
karya akan hidup dengan dirinya sendiri, berdialektika secara kekal
dan indah, baik dengan para kritikus dan pembacanya. Dia maujud dalam
ruang ideologi yang beragam. Dirasai serta dijejapi secara beragam,
pula. Dia telah menggelindingkan roda dialektika, dimana ruang-ruang
apresiasi dan kritik disemai dan disirami dalam bantaran sungai
kearifan hermeneutika. Pula, telah membukakan pintu tabu bagi
`visibilitas suara perempuan' yang rapat terkunci oleh hasrat ideologi
patriarki Orde Baru. Tabu telah dibongkar, dibicarakan, didiskusikan,
diperdebatkan, diperebutkan dan dinarasikan secara majemuk dalam
piring kreativitas `kemanusiaan-perempuan' yang terus-menerus, tiada
henti, sepanjang jaman.

Related Posts by Categories



  1. 0 komentar: Responses to “ Tanggapan Dewi Candraningrum atas Tulisan Katrin Bandel soal Politik Sastra Utan Kayu ”

Post a Comment

Thanks for your comment. I will reply your comment as soon as possible. I wonder if you would keep contact with this blog.

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google