The Greatest Literary Works

literary works documentation. essay on literature. student paper. etc

Kisah di Balik Layar Ayat-ayat Cinta (AAC)

Written by eastern writer on Wednesday, January 30, 2008

This post was originally taken from Hanung Bramantyo' blog. Hanung is director of "Ayat-ayat Cinta" movie which is formerly filmed from a novel "Ayat-ayat Cinta" written by Habiburahman El Shirazy, an Indonesian college student in Al Azhar university, Cairo. Hanung wrote personally about his experience during process of making AAC film.

Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?
Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku
'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.'
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali.
Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ...
Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.
'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke producer.
Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.'
Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ...
'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'
Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali.
Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.
Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.
Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ...
'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.'
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini ...
Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ...
Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ...

Section 2

Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan cafĂ© pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.
Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami. Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.
Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …
`Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
Seakan runtuh bangunan mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku.
Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya …
Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan.
Terbayang olehku bangunan-bangunan bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …
Ana aasif … ya ummi …


Section 3
Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film. Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.
Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.
‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,
‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.
‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …
‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.
Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.
Skenario dibuat dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap, terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu, karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!
Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.
Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …
Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih dewasa.

Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin ...
( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami ...)

Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) ...

Read More......

'Keajaiban' Ayat-Ayat Cinta

Written by eastern writer on Wednesday, January 30, 2008

by Ahmadun Yosi Herfanda, literature editor in Republika

Hari ini, Ahad 6 Januari 2008, novelis Habiburrahman El-Shirazy, mendapat penghargaan sebagai Novelis No 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Beberapa hari lalu, 4 Januari 2008, Habiburrahman 'dinobatkan' sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2007 oleh Republika.

Kedua penghargaan tersebut diraih Habiburrahman berkat novelnya, Ayat-Ayat Cinta (AAC, 2004). Novel bergaya 'romantisme Islami' ini tidak hanya berhasil meraih predikat megabestseller (dan kini dalam kurun tiga tahun terjual 400 ribu eksemplar), tapi juga menyuarakan moral, keteladanan, kearifan hidup, dan solidaritas sosial, yang mampu mencerahkan nurani pembacanya.

Dan, dengan dibaca oleh lebih dari 800 ribu orang (rata-rata satu eksemplar novel minimal dibaca oleh dua orang), novel tersebut dianggap ikut mendorong proses perubahan sosial atau proses pencerahan moral ke arah yang lebih baik. Kang Abik panggilan akrab Habiburrahman menyebutnya sebagai 'novel pembangun jiwa'.

Sejak novel AAC terbit dan bestseller, sederet penghargaan atas novel tersebut telah diraih Kang Abik. Tahun 2005, dia meraih Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional. Pada tahun yang sama, novel tersebut meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006.

Mengingat kekuatan ceritanya, pesan moral yang dibawanya, dan kenyataan bahwa ternyata novel tersebut diapresiasi oleh lebih dari 800 ribu pembaca, kiranya sangat layak untuk diajukan ke panitia penghargaan-penghargaan sastra yang lebih tinggi di tingkat Asia Tenggara, semacam Penghargaan Mastera dan SEA Write Awards.

Dari kisah cintanya, sejumlah pengamat sastra Indonesia sempat memasukkan AAC ke dalam kategori novel pop, atau novel pop-Islami. Tapi, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai novel neo-romantik yang Islami atau bergaya romantisme Islam, yang segera mengingatkan kita pada karya-karya Buya Hamka, terutama novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Kebetulan, Buya Hamka dan Kang Abik sama-sama ustadz dengan basis moral santri yang sangat kuat. Karena itu, dalam beberapa diskusi dan tulisan, saya pernah menyebut Kang Abik sebagai 'reinkarnasi Hamka' atau 'Hamka Abad 21'. Keduanya sama-sama menggarap masalah cinta dengan pendekatan yang sama-sama Islami, dan sama-sama mampu memikat keharuan pembaca. Namun, sastrawan negara Malaysia yang juga pengagum Hamka, A Samad Said, lebih mendekatkannya dengan novel Tunggu Teduh Dulu (TTD, 2004) karya Faisal Tehrani.

Memang, seperti temuan Samad Said, novel AAC tidak banyak memiliki persamaan dengan novel-novel Hamka. Hamka menulis kisah cinta yang terhalang adat dan perbedaan derajat. Sedang Kang Abik menempatkan adat dan budaya hanya sebagai latar multikultural. Persoalan adat memang telah terlewati oleh generasi Kang Abik, yang terepresentasi melalui tokoh Fahri. Yang menyamakan keduanya adalah pendekatan dan latar agamanya.

Karena itu, Samad Said lebih mendekatkan novel AAC dengan TTD. Kedua penulisnya berlatar belakang agama yang sama, sama-sama berisi kisah cinta yang tertib (Islami) di tengah maraknya fiksi cinta yang seronok, sama-sama tentang cinta segi tiga, dan sama-sama novel pembangun jiwa. Bedanya, tokoh utama AAC lelaki (Fahri), sedangkan tokoh utama TTD perempuan (Salsabila). Uniknya, keduanya terbit pada tahun yang sama, 2004.

Novel Ayat-Ayat Cinta (2004), mungkin, adalah sebuah keajaiban. Novel pertama seorang penulis muda, tapi mampu meraih posisi megabestseller nasional dalam waktu sangat singkat, melampaui Saman --novel sekuler karya Ayu Utami. Sebuah keajaiban yang memancar dari suara moral, dari kepatuhan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam Alquran, Tuhan telah berpesan, barangsiapa membela agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan melimpahkan rezeki baginya.

Dari sisi finansial pun tampak adanya keajaiban. Hingga saat ini, Ayat-Ayat Cinta telah memasukkan royalti lebih dari Rp 1,5 miliar bagi Kang Abik. Perhitungan kasarnya, dengan harga jual rata-rata Rp 43 ribu per eksemplar (setelah didiskon 10 persen), dan dengan royalti 12 persen, jika 350 ribu eksemplar terjual habis, maka Kang Abik akan mengantongi royalti Rp 1,8 miliar.

Bagi penulis Indonesia, jumlah royalti itu tentu sangat spektakuler, dan terbesar sepanjang sejarah royalti penulis Indonesia. Belum lagi royalti dari edisi Malaysia, pembelian hak cipta untuk film (novel itu telah difilmkan), dan edisi bahasa Inggrisnya nanti.

Melalui AAC, Kang Abik telah membuktikan, bahwa seorang penulis Indonesia bisa menjadi kaya hanya dari sebuah novel. Dan, luar biasanya, Kang Abik tetap hidup sederhana, bahkan tidak tergiur untuk membeli mobil mewah misalnya. Karena, hampir semua royalti dari novelnya itu dimanfaatkannya untuk membangun pesantren karya dan wirausaha, Pesantren Basmalla.

Dengan begitu, membeli novel AAC berarti ikut ber-amar ma'ruf nahi munkar bersama Kang Abik. Maka, dari sisi kemaslahatannya tersebut, tepatlah kalau Insani Undip menobatkannya sebagai novelis nomor satu di Indonesia saat ini.

Read More......

Get your sport and concert ticket at Viagogo

Written by eastern writer on Tuesday, January 29, 2008

Are you football fans, sport maniac, or a music lover, this is a good information for you. Now you can get ticket for your favor team's big match, or your singer star from your own home. Ya, let's check out Viagogo to get your Sports Tickets, Concert Tickets, and other Tickets

Viagogo is an online ticket exchange aimed at the European and American market. You can buy and sell live event tickets in a safe and guaranteed way, and to bring "efficiency and transparency to what has traditionally been a murky market place".

Inorder to guarantee your transaction, Viagogo offer you full ticket tracking, managed logistics and live customer service support.

  • Buyers: Once you purchase a ticket or win an auction and receive a confirmation email from us, viagogo makes sure that you receive your ticket on time for the event. If a problem arises and you do not receive your ticket, viagogo will provide similar or better tickets at the same cost.
  • Sellers: We collect the money once the purchase occurs so we can make sure that you get paid.
Ready to buy ticket, or just wanna see ticket around, check out this link

Read More......

Roger Housden talks about Ten Poems to Change Your Life Again and Again

Written by eastern writer on Sunday, January 27, 2008

Book Passage
Corte Madera, CA
Nov 28th, 2007

Roger Housden: Ten Poems to Change Your Life Again and Again



Roger Housden talks about Ten Poems to Change Your Life Again and Again. Housden examines the simple joys in life while exploring love, loss, and the importance of embracing change. Through his appreciation of poetry, Housden inspires each of us to cherish life, treasure the world, and admire the clear beauty of words. He highlights the magic of poetry, and encourages readers to embrace a poem's words and feel their meaning. In doing so, Housden shows how poetry enables each of us to see the beauty of life and better understand not only the world around us, but also the world within us.

Housden's choice of poems and his radiant essays provide an elegant and accessible passage into the sometimes daunting world of our truest emotions. Provocative and thought-provoking, Ten Poems to Change Your Life Again and Again is a book you will turn to again and again - Book Passage

Source: http://fora.tv/2007/11/28/Roger_Housden_Ten_Poems_to_Change_Your_Life

Read More......

Ten Poems to Change Your Life

Written by eastern writer on Sunday, January 27, 2008

By Frederic and Mary Ann Brussat

Detail of book:
Ten Poems to Change Your Life
Roger Housden
Crown Publishing 06/01 Hardcover $16.00
ISBN: 9780340825105

We heard Roger Housden, author of nine books including Sacred America: The Emerging Spirit of the People, recite some heartfelt poems one night at a bookstore. We were impressed by the fervor of his soul as he allowed himself to be transported on the wings of spiritual wordsmiths. This wonderful work is brimming over with his insights and enthusiasm for ecstatic poets.

"Great poetry can alter the way we see ourselves," Housden writes. "It can change the way we see the world. You may never have read a poem in your life, and yet you can pick up a volume, open it to any page, and suddenly see your own original face there; suddenly find yourself blown into a world full of awe, dread, wonder, marvel, deep sorrow, and joy."

The author believes that the ten poems he has chosen are prime examples of a genuine poetry of the spirit. They are timeless creations that embrace matter and "reach into territory that lies just beyond our conscious experience." Housden begins with Mary Oliver's "The Journey," which challenges us to unfurl our authentic self, and ends with "The Dark Night," where St. John of the Cross celebrates the inner life and union with God.

In between are the marvels of Antonio Machado, who reveals to us that we can profitably harvest our failures ("Last Night As I Was Sleeping"); Walt Whitman, who emboldens us to question our familiar identity ("Song of Myself"); Rumi, who ponders the meaning of grace ("Zero Circle"); Kabir who wants us to savor mystery instead of being imprisoned in our belief systems ("The Time Before Death"); Galway Kinnell, who affirms erotic love ("Last Gods"); W. S. Merwin, who brings us into a close encounter with the end of life ("For the Anniversary of My Death"); and Derek Walcott, who hurrahs the moments when we come home to our true selves ("Love After Love").

Our favorite poem in this superb collection is "Ode to My Socks" where Pablo Neruda models for us the spiritual path of wonder. Here even ordinary things become resplendent with meaning, joy, and pleasure. These are "dangerous poems," as Housden calls them, for they are catalysts capable of transforming how we see ourselves, others, the Beloved, and the world in which we live.

Source: www.spiritualityandpractice.com

Read More......

Interpreter of Maladies by Jhumpa Lahiri

Written by eastern writer on Sunday, January 27, 2008

The stories of Jhumpa Lahiri's first book whisper and scream traces of India through the details of the characters who become fictional testaments to the 'complex and conflicted world of Indian immigrants in the United States' (Rothstein 1). The title for the book came to Lahiri years before she actually began to formulate it when she ran into 'a friend who acted as a Russian liaison in a Boston doctor's office' (Flynn 100). She says that the phrase, 'Interpreter of Maladies,' was 'the closest [she has] ever come to poetry' (Flynn 100). Her characters often exist simultaneously in two cultures: the American reality and the sphere of Indian tradition (Aguiar 2).

Jhumpa Lahiri says that her experiences in Calcutta 'nourished [her] interest in seeing things from different points of view' (Patel 80). Such ability is what allows Lahiri to write from the perspectives of such seemingly different characters. Her points of perspective range from a cab driver/tour guide in 'Interpreter of Maladies' to that of an adult recounting her child-like fascination with a recurring visitor in 'When Mr. Pirzada Came to Dine.' Lahiri uses character details in order to make assertions about the sense of isolation that governs each story's events.

'Mrs. Sen's' speaks to the many isolated immigrant women of not just Indian descent, but of universal origin, through its poignant depiction of a woman trying to assimilate but unwilling to let go of the aspects of her life in India that 'do not fit.' In the United States, Mrs. Sen baby-sits in her home wearing the intricate saris brought carefully from India which have no remaining purpose. It is the trips to the fish market and letters from India that keep her feeling whole while illuminating her very emptiness. The reaction of Indian audiences to readings by Lahiri have been concerned with ideas of identity and representation, issues surely experienced by all immigrants trying to adapt to a new culture. Lahiri said in an interview with Newsweek that the main character in 'Mrs. Sen's' found its basis in her mother as a babysitter of American children.

One particular story whose setting is not primarily a US Northeastern coastal city is 'The Treatment of Bibi Haldar.' An epileptic woman in Calcutta with few relations remains in the grudging care of her cousin and his wife while attempting to find herself a husband and a cure for her ailments. While it remains consistent with Lahiri's overall theme of isolation, she says herself that 'the story is basically about the town's involvement' in Bibi's search for a husband and her own sense of happiness (Aguiar 2). Community solidifies the identity of Bibi Haldar because she has no real family. Through the communal device, Lahiri identifies the accentuated isolation of this character in her native city even when surrounded by the same people that have always surrounded her.

The final story of Lahiri's first collection of nine, 'The Third and Final Continent,' addresses the realities of arranged marriages and the long process of assimilation into American culture from an Indian perspective. Perhaps modeled upon aspects of her parents' lives in the United States, Lahiri's presents a first person account of an Indian man arranging for the arrival of his new bride as he lives under the roof of an aged American landlady. The vivid differences between his bachelor life in a room in this woman's house and the journey that he takes while learning who his bride is boldly comments on the cultural differences and similarities in the two cultures. Senses of isolation and a coming together in order to survive are evident in both of these relationships. At the end of the story, Lahiri introduces the idea of loss of cultural identification through passing generations by mentioning the college aged child of the couple. They bring him home to 'eat rice with his hands and speak Bengali' which are 'things [they] sometimes worry he will no longer do after [they] die' (Lahiri 197). Lahiri presents a couple whose only remaining connection with the country of their origin has a definitive death with their own end because the assimilation of their son into American culture leaves no room for their own cultural orientation.

About Jumpa Lahiri

Growing up in America under the supervision of a mother who wanted to raise her children to be Indian, it is no surprise that Jhumpa Lahiri puts so large an emphasis on the 'stories of Indians in what for them is a strange land' (Rothstein 1). Publishing her first book, Interpreter of Maladies, in 1999, Lahiri has become a quick international success and an award-winning author. Jhumpa Lahiri was born in 1967 in London but raised in South Kingstown, RI by her father, a librarian, and her mother, a teacher. The influence of frequent childhood visits to India and parents who are still a part of the Indian world despite their immigration to America thirty years ago shaped her book (People Weekly 138). Lahiri's role as a writer developed in grade school when she began to '[write] 10-page "novels"' during recess with her friends' (Patel 80). Later in her school years, Lahiri busied herself with the school newspaper. After graduating from Barnard college, Lahiri continued at Boston University to obtain her masters degrees in English, comparative literature, and creative writing and later her PhD in Renaissance studies. Following the PhD program, she did a two-year fellowship at Provincetown's Fine Arts Work Center.

During completion of her doctorate thesis in 1997, she worked for Boston magazine as an intern and was given little trust 'as a real writer' (Flynn 173). The joke seems to be on Boston magazine and any others who doubted her after the release of her first book which began to receive awards almost immediately following publishing. Among the first received in 1999 was the PEN/Hemingway award for the best fiction debut of the year. The title story, 'Interpreter of Maladies,' was chosen for the O Henry Award for best American short stories. Lahiri was a recipient of the Transatlantic Review award from Henfield foundation and the fiction prize from Louisville Review. The New Yorker has published three of her stories and named her as 'one of the 20 best writers under the age of 40.' The greatest tribute to her talent thus far has been the award for the 2000 Pulitzer Prize for Fiction. She is the first Indian woman to receive this award.

In January of 2001, Lahiri married the deputy editor of Time Latin America, Alberto Vourvoulias-Bush. The author arranged a traditional Bengali wedding in the Singhi Palace in Calcutta, a place she has never considered 'a foreign city [since she] has been coming [there] since [she] was two years old' ("Oh Calcutta!" 1). Jhumpa Lahiri continues work on a second book but said that she could not comment because 'it's only after [she] finishes something that [she] can actually describe it in words' (Aguiar 3).

Source: http://www.english.emory.edu/Bahri/Lahiri.html

Read More......

Digging to America by Anne Tyler

Written by eastern writer on Tuesday, January 22, 2008

Digging to America by Anne Tyler tells the story of two families who meet at the airport when they are adopting Korean infants. The Donaldson family is as all-American as they come. The Yazdans are Iranian immigrants. Digging to America uses the story of the families' growing friendship to explore what it means to be American.

Tyler is an exquisite writer who draws you into the Digging to America, making it a very worthwhile read.

Digging to America by Anne Tyler is about what it means to belong, and what makes someone an outsider. All of the characters in Tyler's novel are unique and complex, and we get to hear from many of them since the chapters switch perspectives; however, Digging to America centers on Maryam Yazdan, the grandmother in a family of Iranian immigrants.

Each year the Donaldsons and Yazdans get together to celebrate the day their adopted daughters arrived from Korea. Families mix, cultures clash and Maryam Yazdan struggles with whether she loves the Arrival Day tradition or disdains it, whether she loves the Donaldsons or finds them too typically American, and whether she belongs in these celebrations or will forever be an outsider.

Digging to America is a story that will draw you in. It is full of fun pictures of life and believable voices. At less than 300 pages, it is a quick read, but not a frivolous one. This is a book you will be glad you picked up, and it will be even better if you can discuss it with your book club or friends.

Source: http://bestsellers.about.com

Read More......

Anna Karenina

Written by eastern writer on Tuesday, January 22, 2008

Review by Esther Lombardi

"Anna Karenina" is one of Leo Tolstoy's greatest literary works. It's the tale of Anna Karenina and her ultimately tragic love affair with Count Vronsky. This audio production offers Neville Jason's abridged version of Tolstoy's masterpiece.

What's in the Story

The story for "Anna Karenina" apparently came out of an episode in which Leo Tolstoy arrived at a railway station shortly after a young woman had committed suicide. She had been the mistress of a neighboring landowner, and the incident stuck in his mind...

As Tolstoy biographer Henri Troyat writes, "A dreadful lesson was brought home to him... He tried to imagine the existence of this poor woman who had given all for love, only to meet with such a trite, ugly death." Then, Troyat says, "Her image haunted him for a long time, but not specifically as material for a book."

When Tolstoy finally started the story of "Anna Karenina," his wife reported in a letter to her sister, "Yesterday Leo suddenly started to write a novel on contemporary life. The subject is the unfaithful wife and all the ensuing tragedy."

So, Tolstoy creates the character of Anna Karenina, a young woman who finds herself in a loveless marriage with Karenin. It might not have seemed so intolerable if she had not met and fallen in love with Count Vronsky.

As a comparison to Anna's tragic affair, we hear about the relationship between Kitty and Levin, a conjugal love match. Levin is first rejected by Kitty, since she has her heart set on Count Vronsky. Since Vronsky's affections are already taken by Anna Karenina, Kitty's heart is broken and she eventually turns back to Levin for love and marriage.

In the character of Anna, Tolstoy creates a woman who is perhaps most unhappily destined for tragedy. Anna falls in love with Count Vronsky, only to find that her passions are uncontrollable. She might have continued the relationship in secret, but she defies the "rules," and is forced to pay the ultimate price... She loses all contact with her son; and she is shunned from proper society.

In the "Notes," Neville Jason writes, "Thus the forces of society gradually bear down upon Anna with the same insensibility and inexorable momentum as the iron monster, which finally crushes the life out of her body on the railway line."

The Audio Connection

Along with the audio presentation of "Anna Karenina," Naxos Audiobooks interweaves the music of Rubinstein, Balakirev, Vitols, Ivanovici, Tchaikovsky, and Rachmaninov. It seems appropriate that the work of one of the greatest Russian writers should be accompanied by well-known Russian music.

Source: http://classiclit.about.com

Read More......

The Abstinence Teacher by Tom Perrotta

Written by eastern writer on Tuesday, January 22, 2008

Tom Perrotta has the special ability to skewer his character’s inconsistencies and faults even as he has compassion on their plight in life. In The Abstinence Teacher, Perrotta once again displays his natural voice as a writer and moves the story along smoothly.

But this story doesn’t really go anywhere, and nothing revelatory occurs. In observing the issues of postmodern evangelicalism and sexual freedom, only Ruth and Tim seem like genuine people, with the rest of the story and characters feeling a bit stereotypical. Ruth’s best friends are two gay men who may have the best working relationship in the novel, and her two daughters are gaining an interest in Jesus even as their mom is being lambasted by the church. Tim is a recovering druggy and alcoholic who had to turn to Jesus to overcome his addictions, but is finding his new Christian wife lifeless and his pastor a bit overzealous. It’s just another day in relative paradises and hells where people attempt to “find themselves” and the only meaningful thing isn’t belief or unbelief, but finding a connection with someone in the mirage of content adulthood.

Despite its faults, I still felt for Ruth and Tim. The Abstinence Teacher could be a good book club selection (which is why it gets its additional half star). Diverse groups could benefit from hearing these characters’ thoughts and talking about the issues. Just as long as they abstain from assumptions and feel the freedom to listen and share.

::source: http://bestsellers.about.com

Read More......

Be the best online casinos with Online Casino Lobby

Written by eastern writer on Tuesday, January 22, 2008

Online Casino Lobby provide all information you need to make an educated decision on which casino to play at online. There are over 1000 online casinos on the internet (which ones of them may cheat you) and Online Casino Lobby commit to be your trusted partner.

Online Casino Lobby was designed with you the player in mind and to only provide the best quality content and information. So weather you're a newbie or an advanced player we believe you may find answers to many of your questions here on our site.

Which casinos should I play at? Online Casino Lobby have been playing at online casinos for over 4 years now and know which ones can be trusted and which ones cannot. Online Casino Lobby compiled a list of some of the top online casinos and put them in a table in ranking order from best to average but all of these casinos are exceptional and are in our opinion the top 5 casinos out there.

Visit Casino Online Lobby and be the best online casinos.

Read More......

Contact me

Written by eastern writer on Monday, January 07, 2008

Please feel free to contact me via this form and send your private message. Please do not spam. I am online almost everyday so I will try to reply your message as soon as possible. You can also contact me via email: acreativewriter@gmail.com.

Your sincerely,

Farhan










Name


E-mail




Subject









Message




Read More......

Quote on Art and Literature

    "There is only one school of literature - that of talent."
~ Vladimir Nabokov (1899 - 1977)



Want to subscribe?

Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email here:

Top Blogs Top Arts blogs

Google